Perlahan Dunia akan Membunuhmu

Perlahan Dunia akan Membunuhmu 1

Dunia ini sudah berjalan tidak sesuai seperti yang kita impikan. Jangan terlalu percaya dengan ekspektasi yang kita miliki terhadap dunia. Rasanya mengecewakan sekali, apabila terjatuh dalam amarah yang mendalam. 

Sebagai seorang penakluk dunia, aku tidak memiliki ekspektasi berlebihan atas kehidupan ini. Apa yang kita harapkan akan membawa ke dalam kekecewaan, itu rasanya seperti menelan racun dari sebuah positivitas yang berlebihan. Aku rasa kehidupan akan berjalan datar karena perubahan itu bersifat semu. 

Kegagalan itu merupakan hal yang ironis. Kita tidak bisa menuntut keberhasilan di dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah tim sepak bola tidak akan menang apabila dimainkan oleh satu orang, seperti itulah kehidupan yang kita rasakan. Tetapi, aku merasa perumpamaan ini hanyalah sebuah omong kosong pada masa kini. Dunia ini memperlakukan kita layaknya binatang, dimana ada hukum rimba didalamnya.  

Simbiosis mutualisme itu benar adanya, namun aku tidak merasakan hal itu terjadi pada diri ini. Aku melihat kehidupan ini sudah tidak ada maknanya, semuanya hanya berbicara perhitungan dan keuntungan. 

Fenomena ini sudah dijadikan sebagai kebutuhan pokok manusia. Tidak ada satupun ketulusan yang dapat kita rasakan. Hari ini begitu menyeramkan karena kita merupakan ladang subur bagi dunia ini. Lebih baik berdiam diri dalam keraguan agar selalu berpikir kritis dalam menerima dunia ini. 

Aku selalu berdiam diri dalam kesunyian malam. Tidak mementingkan keramaian dan keseruan yang terjadi di luar sana, asalkan diriku dapat melakukan hal yang aku suka. Di dalam lubuk hatiku, aku ingin sekali bisa bergaul dengan damai dan lancar, namun apa daya aku hanya sebatas manusia biasa saja. 

Sosok pemuda dengan tampang biasa saja, berambut ikal keriting, postur yang tidak tinggi amat, dan memiliki warna kulit sawo matang. Aku hanya menyukai kesunyian karena kesunyian dapat memberikan aku pemikiran yang logis. Mengapa? Karena dunia ini sukar menerima hal yang berbau fantasi atau imajinasi. 

Menjadi seseorang seperti aku, bisa dikatakan tidak mudah. Sejujurnya, aku pun tidak pandai untuk bergaul karena aku memiliki begitu banyak kekurangan sehingga aku rasa bakal tidak cocok untuk bergaul dengan mereka. 

Sejak dari kecil, aku membayangkan pada saat dewasa nanti kita akan menghadapi dunia dengan mudah. Tetapi, realita berkata lain. Alasannya begitu mudah, karena ekspektasi selalu memberikan positivitas. Keluguanku masih membawa ekspektasi yang berlebihan mengenai kehidupan ini. Siapa yang menyangka kehidupan akan berjalan seperti ini?

Seiring berjalannya waktu, fase balita dan remaja perlahan terlewati, aku mulai menyadari bahwa dunia itu tidak seindah yang dipikirkan. Realita seakan-akan menamparku dengan keras. Apalah arti keluguan seorang pemuda berasal pinggiran kota Jakarta, sebab keindahan Indonesia hanya terpusat pada kota Jakarta.

Aku hanya bisa menangis dan memikirkan kembali kesalahanku untuk berekspektasi berlebihan atas dunia ini. Coba kalian pikirkan, mengapa dunia ini selalu membunuh orang yang baik? Apakah menjadi orang baik merupakan sebuah kutukan bagi dunia ini? Rasanya aku terbinasa dalam pengakuan dunia ini. 

Di mata semua orang, aku terlihat bodoh atau konyol karena keluguanku atas pergaulan di dunia ini. Mungkin aku minim pengalaman atau keseruan di dalam hidupku yang dapat aku bagikan ke semua orang. Aku tidak pernah menuntut apa-apa dari dunia ini, melainkan kesetaraan dan pengakuan mereka. Tetapi, inti yang terpenting adalah cara kita agar bisa hidup damai.

Sehari-hari kurasakan kesepian yang terjalin erat dengan tubuhku. Hampanya hatiku ini bingung untuk menampung segala harapan dan ekspektasi. Buruknya diriku selalu gagal dalam mempergunakan kesempatan agar mengubah hidupku. 

Segala rasa hampa ini telah mengajarkanku banyak hal, seperti: untuk selalu mewaspadai ketika bertemu orang baru, menerima diri apa adanya, dan selalu mencintai diri sendiri. Dari ketiga tersebut, aku merasa bahwa tidak perlu berekspektasi atas segala hal demi peruntungan diri aku.

Sebuah dilema mungkin terjadi, ketika kalian memikirkan penyebab hal ini terjadi. Sebenarnya, kita memikirkan dari segi fisik hingga psikis. Tetapi, aku merasa ketika memasuki dunia yang baru, hal ini selalu terjadi secara berulang-ulang. Entah, dari sisi aku yang mengalami kesulitan bergaul atau sisi mereka yang sulit untuk menerima hal baru. 

Kebohongan dan kepalsuan akan terkuak apabila kebenaran terus dinyatakan. Menjadi diri sendiri sangat sulit dirasakan karena dunia penuh dengan topeng. Adanya kemungkinan kita tidak bisa jujur terhadap diri sendiri, sama seperti diriku ketika masih remaja. Tetapi, kita menyadari bahwa inti terpenting dalam dunia ini adalah menjadi diri sendiri. 

Seburuk apapun diri kita ini, tetap saja kita akan berani melakukan segala sesuatu dengan menjadi diri sendiri. Kepercayaan diri ini akan memberikan gelora semangat yang membara agar kita dapat menghadapi dan melawan segala sesuatu. Namun, tetap saja diriku masih tenggelam dalam dilema menjadi diri sendiri. 

Sebuah realita berkata, dunia akan sulit menerima menjadi seseorang yang apa adanya. Aku merasakan bahwa memiliki perbedaan akan membawa tembok yang tinggi dalam pergaulan. Tidak hanya itu saja, aku selalu merasa dikucilkan jika memiliki perbedaan. 

Sulitnya menjadi diri sendiri di negara yang memaksa untuk mengakui persamaan akan selalu mengalami bentrok. Tidak perlu menjadi hebat, apabila engkau masih menjual kepalsuan. 

Inti dari cerita ini adalah engkau akan mengalami kesepian apabila memiliki perbedaan. Tetapi, ini merupakan tantangan bagi engkau untuk hidup bebas melawan arus kencang dunia. Tantangan engkau hadapi dengan mudah dan kekuatan semesta berada di pihakmu.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ivano