Permasalahan Yang Muncul Pada Saat Mendaftar P3K 2021 dan Harapan Honorer 35+

Permasalahan Yang Muncul Pada Saat Mendaftar P3K 2021 dan Harapan Honorer 35+ 1

Tahun 2021 akan menjadi realisasi dari salah satu bagian janji pemerintah, yakni penyelesaian status honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). 

Pembukaan pendaftaran P3K atau seleksi P3K yang dimulai sejak 30 Juni 2021 dan insya Allah akan berakhir hingga 30 Juli 2021, seakan menjadi ajang perlombaan bagi kalangan honorer dari berbagai bidang profesi. 

Permasalahan terbesar honorer sebenarnya pada profesi guru, namun tampaknya P3K kini merambah seluruh bidang profesi yang juga ingin mendapatkan posisi yang jelas dan kehidupan yang lebih baik.

Alur pendaftaran yang dimulai sejak pembuatan akun hingga pengunggahan berkas, dan pecetakan akun pendaftaran ternyata bukanlah hal yang mudah. Banyak permasalahan yang ditemukan bagi para pendaftar. Seperti, tidak ditemukan NIK saat mencoba login untuk melajutkan pendaftaran. Padahal seluruh alur pendaftaran sudah diikuti dengan benar dan NIK sudah terdaftar di SSCASN.

Meskipun di sana terdapat beberapa solusi untuk mengatasi permasalahan, tapi khususnya para pendaftar 35+ yang gaptek, tidak bisa mengatasi permasalahan tersebut.

Oleh karena itu harapan honorer khususnya profesi guru adalah realisasi pengangkatan honorer 35+ tanpa test dengan masa kerja di atas 10 tahun, baik mereka yang honor pada sekolah negeri maupun honorer sekolah swasta dengan masa pengabdian yang lebih dari cukup.

Guru honorer yang merupakan abdi masyarakat dan sekaligus abdi negara dengan masa pengabdian 10, 15 bahkan 20 tahun  memang layak mendapatkan perrhatian dari pemerintah. Dikotomi antara sekolah negeri dan sekolah swasta sudah waktunya diberlakukan, sehingga tidak ada lagi kesenjangan antara guru-guru yag berada di sekolah negeri dengan guru-guru di sekolah swasta yang selama ini memiliki perbedaan 180 derajat dibanding dengan mereka yang berstatus sebagai pegawai negeri.

Honorer 35+ bahkan 40+ barang kali sudah tidak mampu jika harus bersaing dengan mereka yang masih -35. Kendala terbesar adalah ketidakmampuan dalam bidang teknologi, apalagi bagi mereka yang angkatan di bawah tahun 2000. Linieritas itu berlaku setelah munculnya UU no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, di bawah itu rata-rata guru mengampu mata pelajaran sesuai kebutuhan sekolah. Tapi, Jika mereka telah terangkat atau diangkat, mereka bisa mengampu sesuai dengan bidang atau jurusan mereka yang semula tidak linier.

Dalam hal ini, pemerintah bisa mengkalkulasi berapa jumlah honrer 35+ baik yang dinegeri ataupun yang di swasta khususnya yang terdaftar dan masih aktif di dapodik dengan masa pengabdian 10 tahun+ untuk bisa diangkat tanpa test.

Sementara test dierlakukan bagi mereka yang pengabdian kurang dari 10 tahun bahkan kurang dari 5 tahun  dengan usia -35 sehingga akan diperoleh jumlah kebutuhan guru P3K dari 35+ ditambah hasil seleksi dibawah 35 tahun.

Harapan inilah yang terus ada di kalangan honorer 35+ sehingga kedepan mereka dapat meraskan kehidupan yang layak sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945 pada alinea ke-4, yakni memajukan kesejahteraan umum. Sementara tugas guru adalah mencerdakan kehidupan bangsa.

Dengan demikian tujuan pembukaan UUD 1945, secara bertahap terus beriringan antara tugas guru yang mencerdaskan kehidupan bangsa lalu pemerintah merealisasikan dengan memajukan keseahteraan umum.

Karena siapa lagi jika bukan guru yang mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa guru bangsa ini akan tertinggal dan terus tertinggal sehingga kita dapat dikuasai kembali oleh bangsa lain.

Dalam pembukaan UUD 1945 tertulis memajukan kesejahteraan umum, baru mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Oleh karenanya, jika kesejahteraan guru terpenuhi niscaya gairah mengajar mereka akan menjadi lebih terpacu karena tanpa harus mencari kerja sampingan. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno