Persahabatan Dua Ekor Kecoa (Bagian 1)


Persahabatan Dua Ekor Kecoa (Bagian 1) 1

Di malam itu terjadi peristiwa yang sangat penting. Momen penting yang mengawali petualangan dari dua ekor kecoa. Blata adalah nama salah satu kecoa tersebut.

Dengan ukurannya yang kecil, sehingga sangat mudah baginya untuk masuk ke dalam celah atau retakan dinding yang kecil. Saat itu dia berfokus mengamati semua areal dapur. Mata kecil itu serius memantau untuk memastikan tidak ada manusia sehingga dia aman untuk menjelajahi semua areal dapur.

Blata perlahan mengeluarkan kepalanya dari retakan dinding. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Setelah dia merasa aman, akhirnya dia sudah berada di luar dan berjalan menuruni dinding.

Kecoa kecil ini, kemudian berlari menyusuri areal dapur. Tujuannya untuk mencari sisa makanan. Dia melihat ada sisa makanan terjatuh di lantai dapur. Dia melihat juga, ada remahan makanan di bawah kursi makan. Dalam pikirannya, dia akan pesta makan sepanjang malam.

Dia langsung menuju ke bawah kursi yang terdapat remahan makanan. Sambil menikmati remahan makanan, kecoa kecil ini tetap memperhatikan ke sekeliling dapur. Pandangannya terhenti di bawah wastafel. Terlihat ada tumpahan sup dan remahan roti.

“Wah, disana lebih banyak makanan.” Begitulah pikiran yang terlintas dari kecoa kecil tersebut.

Dia kemudian berlari menuju bawah wastafel. Tidak menunggu aba-aba, tumpahan sup langsung dilahap oleh kecoa kecil itu. Sambil memakan tumpahan sup, dia tidak sabar ingin makan remahan roti di samping tumpahan sup tersebut.

“Senangnya berada di dapur ini. Manusia di sini sungguh berbaik hati. Manusia ini tidak langsung membersihkan dapurnya. Apa mereka sengaja mau berbagi ke sesama makhluk hidup yang lain.” Begitulah pikiran kecoa kecil itu dan terus makanan yang berlimpah itu dilahapnya.

***

“Hei.” Tiba-tiba ada suara. Suara itu berasal dari saluran air.

“Siapa disitu?” Kecoa kecil itu terkejut dan sambil berteriak ke arah suara tersebut.

Dari sumber suara itu, terlihat keluar sosok kecoa dengan ukuran lebih besar dari dia. Dia keluar dengan spontan dan cepat. Tujuannya untuk menakuti kecoa kecil tersebut.

Kecoa kecil itu terkejut. Makanan yang ingin dilahapnya jatuh kembali ke lantai. Dia sangat kesal karena terkejut dan makanannya jatuh.

“Siapa kamu? Aku sangat terkejut. Mengapa kamu muncul tiba-tiba?” Kecoa kecil itu sambil marah kepada kecoa ukuran besar.

“Ha ha ha. Maaf kawan kecilku. Tolong jangan marah dulu. Aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya ingin berteman denganmu.” Kecoa besar sambil tertawa berbicara kepada kecoa kecil. Dia berusaha untuk menenangkan kecoa kecil.

“Maaf katamu. Kamu malahan tertawa, seperti tidak menyesali apa yang kamu perbuat. Cara pertemanan apa seperti ini? Ini bukan lelucon. Kamu pikir badanmu besar aku jadi takut kepadamu.” Kecoa kecil tersebut masih dengan nada marah menyampaikan kekesalannya kepada kecoa besar.

“Baik kawan. Aku sungguh menyesal. Aku janji, tidak akan mengulangi lagi. Bolehkah kita berteman sekarang?” Kecoa besar tersebut berhenti tertawa. Dia menunjukkan rasa penyesalan, supaya kecoa kecil tersebut memaafkannya.

“Ok, aku maafkan kamu. Tapi, ingat jangan ulangi lagi perbuatanmu. Kalau aku punya riwayat sakit jantung bagaimana? Kamu sengaja membuat aku terkejut dan tiba-tiba aku pingsan, kamu mau bertanggung jawab?” Kecoa kecil masih sedikit kesal dan terus mengomel kepada kecoa besar.

“Baik kawan. Aku janji. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Kecoa besar masih berusaha menenangkan kecoa kecil. Terlihat kecoa kecil sudah tidak terlalu menunjukkan perasaan kesal.

“Baiklah kalau begitu.” Kecoa kecil itu kemudian memaafkan kecoa besar.

***

Setelah suasana sudah mulai mereda, kedua kecoa ini kemudian berkenalan satu sama lain. 

“Oiya, perkenalkan namaku Blata. Kamu bisa lihat, aku kecoa ukuran kecil. Aku biasa tinggal di dapur ini. Namamu siapa kecoa besar?” Blata kemudian memulai perkenalan.

“Nah begitu dong. Berbicara dengan tidak ada kemarahan.” Kecoa besar itu malahan bercanda setelah ditanya namanya oleh Blata.

“Kamu ini. Mau dimarahi lagi. Saya tanya namamu siapa, malahan diajak bercanda.” Blata terlihat mengomel.

“Tenang kawan. Jangan marah lagi. Namaku Coro. Ukuranku lebih besar dari kamu. Aku biasa tinggal di saluran air. Tempatku berpindah-pindah. Belum ada kejelasan yang pasti untuk tempat tinggalku” Coro kemudian memperkenalkan dirinya.

“Kamu berarti baru pertama ke rumah ini ya? Kamu beruntung kesini. Banyak sekali makanan yang berhamburan di lantai pada malam ini.” Blata kemudian menjelaskan kondisi dapur itu kepada Coro.

“Wah senangnya hatiku. Punya teman baru dan makanan yang berlimpah disini. Boleh aku tinggal disini. Aku merasa capek, selalu saja aku berpindah tempat untuk tinggal.” Coro menanyakan kepada Blata, supaya dia bisa tinggal di dapur itu.

“Tentu saja bisa. Siapa saja bisa tinggal disini. Baiklah kita berteman sekarang.” Sahut Blata.

Begitulah, awal mula pertemuan dua ekor kecoa. Tidak hanya ukuran mereka berbeda, sifat mereka juga berbeda. Blata memiliki sifat yang lebih serius daripada Coro. Coro bersifat ceria, tapi sedikit usil dan jenaka.

Mereka kemudian menghabiskan malam di dapur tersebut. Mereka sangat menikmati malam itu, karena melimpah makanan yang berhamburan di lantai dapur. Malam yang sempurna untuk kedua ekor kecoa tersebut. Di malam inilah petualangan mereka akan dimulai.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ian Bangun

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap