Persaingan Dan Etika Bisnis, Bagaimana Islam Menanggapinya?

Persaingan Dan Etika Bisnis, Bagaimana Islam Menanggapinya? 1

Banyak di masyarakat luar yang belum tahu bagaimana persaingan sehat yang baik dan benar. Mereka selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan tanpa melihat etika dalam bersaing berbisnis, terlebih lagi konsumen yang terseret kedalam persaingan para penjual dengan cara berbohong pada saat berpromosi, produk yang dijual selalu cacat, mudah rusak dan tidak berkualitas. Hal ini perlu dikaji tentang bagaimana Islam mengkaji persaingan dan etika bisnis yang baik dan benar sehingga tidak merugikan penjual maupun pembeli.

Secara definisi persaingan adalah upaya dua atau lebih perusahaan untuk berpartisipasi secara aktif dalam “menerima pesanan” dengan menawarkan harga atau kondisi yang paling menguntungkan. Kompetisi ini dapat terdiri dari beberapa bentuk pemotongan harga, variasi dan kualitas, iklan atau promosi, desain, segmentasi pasar, dan kemasan.

praktik kehidupan pasar pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya, Ibnu Taymiyyah menyatakan bahwa kehidupan pasar yang islami ditandai sebagai berikut:

  1. Penjual dan pembeli memiliki hak untuk keluar dan masuk pasar.
  2. Harus ada informasi tentang kekuatan pasar dan barang yang akan di jual.
  3. Unsur yang mengandung monopolistik harus dihapuskan dari pasar. Kolusi antara pembeli dan penjual harus dihapuskan.
  4. terjadi kenaikan dan penurunan harga yang ditimbulkan oleh naik dan turunnya tingkat permintaan dan penawaran.
  5. terdapat standaritasi dan homogenitas produk agar terhindari pemalsuan produk, kecurangan, dan penipuan pada kualitas barang.

Persaingan pada etika bisnis Islam adalah suatu konsep persaingan yang mendorong para pelaku bisnis untuk bersaing secara baik dan positif dengan mendorong mereka untuk memberikan kontribusi yang baik terhadap bisnis tanpa merugikan pelaku bisnis lain dan tidak merugikan para konsumen. Begitu pula, Islam juga menolak persaingan dalam hal memperoleh kekayaan sebanyak mungkin, terlepas dari nilai-nilai Islam. Karena jika kamu melupakan kewajibanmu sebagai hamba Allah, maka kamu akan lalai.

Berikut ini ada beberapa hal yang selalu dipersaingkan pada etika bisnis islam dan Beberapa hal yang dapat digunakan Untuk memaksimalkan daya saing, yaitu:

Barang (Produk)

Produk yang akan dipersaingkan baik barang atau jasa haruslah halal. Spesifikasinya Spesifikasi harus memenuhi harapan konsumen untuk menghindari penipuan dan kualitasnya harus terjamin.

Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia dengan lengkap termasuk dibidang ekonomi yang salah satunya adalah produk. Produk merupakan keseluruhan objek atau proses yang memberikan berbagai macam nilai manfaat pada konsumen.

pedagang harus selalu memperhatikan syarat dan ketentuan produk yang akan dijual sesuai dengan hukum Islam agar terhindar dari persaingan yang tidak sehat yaitu:

  1. Produk haruslah suci,bersih, tidak kotor/najis.
  2. Produk harus dapat dimanfaatkan sesuai dengan produk yang dijualnya.
  3. Milik orang yang melakukan akad.
  4. Produk harus dapat diserahkan bila di produk tersebut diperdagangkan.
  5. Produk dapat diketahui pada saat berniaga.

Harga

Untuk memenangkan persaingan, harga produk harus kompetitif. Pada hal ini, harga tidak diperbolehkan untuk mengalahkan pesaing seperti membanting harga. Harga sangatlah penting bagi konsumen ketika membeli suatu produk. Pasar yang baik adalah persaingan bebas dimana harga ditentukan oleh penawaran dan permintaan.

Tempat

Dalam Etika Bisnis Islam, tempat yang digunakan harus bersih, baik, menyenangkan dan nyaman, dan harus menghindari hal-hal yang diharamkan seperti memakai barang yang dianggap sakti (penglaris) untuk menarik konsumen.

Pelayanan

Islam telah mengajarkan bahwa dalam memberikan pelayanan atau jasa yang dimiliki oleh pelaku usaha, dalam memberikan barang atau jasa tidak boleh menawarkan hal yang buruk atau belum matang, melainkan memberikan pelayanan yang berkualitas kepada orang lain. Pedagang yang memberikan pelayanan yang baik dan prima selalu mengikuti syariat Islam tanpa melakukan maksiat akan menarik pembeli. Di sisi lain, pedagang yang memberikan layanan kepada pembeli secara buruk tidak melihat pembeli sebagai raja dan tidak melayani dengan baik, pedagang tersebut tidak memiliki pembeli bahkan sepi dagangannya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Prammusti D.k