Perseteruan Mbok Tikus dan Mbok Kodok Membuat Kodok Bermulut Lebar


Perseteruan Mbok Tikus dan Mbok Kodok Membuat Kodok Bermulut Lebar 1

Alkisah, pada zaman dahulu, hiduplah dua rumah tangga yang hidup saling berdampingan yaitu, “Keluarga Tikus dan Keluarga Kodok.”  Masing-masing keluarga itu menyandang status sebagai ‘Janda’ sehingga kedua keluarga itu dikenal dengan sebutan Mbok Tikus dan Mbok Kodok. Mbok Tikus dan Mbok Kodok masing-masing memiliki  satu anak yang masih kecil dan keduanya hidup dalam kemiskinan.

Pada suatu masa tibalah musim kemarau panjang. Kesulitan mendapatkan makanan dirasakan oleh kedua keluarga itu. Tak jarang anak-anak mereka menangis karena kelaparan dan dalam sehari ibunya tak memperoleh makanan. Daun-daun kering, nyamuk-nyamuk kecil, atau jasat renik lain pun tak ada akibat kemarau yang berkepanjangan.

Suatu hari Mbok Tikus mengajak Mbok Kodok mecari makanan di sungai.

“Mbok Kodok, ayo kita mencari makan ke sungai. Memangnya di sungai ada makanan? jawab Mbok Kodok. Ya, siapa tahu ada nasib kita, kita mendapatkan ikan-ikan kecil yang masih tersisa diledokan-ledokan yang masih tergenang air” Begitulah percakapan mereka.

Mereka berduapun bergegas menuju sungai dengan meninggalkan anak-anak mereka. Semak belukar, batu terjal disepanjang bantaran sungai tak mereka pedulikan demi anak-anak mereka yang saat itu tengah kelaparan. 

“Pucuk dicinta ulampun tiba” begitu kata pepatah. Nasib baik menyertai Mbok Tikus yang menemukan seekor kerbau yang mati kelaparan di sungai.

“Puji syukur dewata nu Agung, saya mendapat rezeki yang sangat besar yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya” begitu kata hati Mbok Tikus. Sayangnya Mbok Kodok tak menemukan makanan apapun hingga hari larut sore.

Mbok Kodok : “Mbok Tikus bagi dagingnya sedikit ya, permintaan Mbok Kodok”

Mbok Tikus    : “Ih, jangan, sayang buat anak saya” 

Mbok Kodok  : “ya sudah, saya minta kepalanya doang”

Mbok Tikus    : “Ih, jangan, sayang buat anak saya”

Mbok Kodok  : “Kalau begitu, Kaki baian bawahnya juga gak apa-apa”

Mbok Tikus    : “Ih, jangan, sayang buat anak saya”

Mbok Kodok  : “Ya, kalau semua gak boleh, aku minta tulang-tulangnya”

Mbok Tikus    : “Ih, jangan, sayang buat anak saya”

Mbok Kodok  : “Jika begitu aku minta brodotnya”

Mbok Tikus    : “Ih, jangan, sayang buat anak saya”

Mbok Kodok  : “ya, sudahlah saya minta kotorannya saja”

Mbok Tikus    : “Ih, jangan, sayang buat anak saya”

Intinya, semua tak boleh diminta oleh Mbok kodok dan juga Mbok Tikus gak mau memberi barang seikitpun bahkan hingga kotorannya pun diminta tak diberikannya.

Sikap Mbok Tikus yang demikian membuat Mbok Kodok merasa geram dan memiliki rencana untuk mencuri barang sedikit pada nanti malam.

“Tunggu, Mbok Tikus, nanti malam aku akan mengambil daging-daging kerbau yang sudah kamu masak” bisik Mbok Kodok dalam hati.

Semua itu akan dilakukan Mbok Kodok demi anaknya semata wayang yang juga sedari pagi belum makan. Pada malam harinya Mbok Kodokpun melancarkan aksinya, sambil mengendap-endap janda setengah baya itu mendekati rumah Mbok Tikus yang ternyata sangat pelit, bin bkhil alias medit itu. 

Malang nasib Mbok kodok, rupanya aksinya itu sudah dibaca oleh Mbok Tikus, sehingga semalaman Mbok Tikus tidak tidur dan sudah menyiapkan sebilah celurit ditangannya. Saat Mbok Kodok masuk melalui pintu belakang rumah Mbok Tikus, disambutnya dengan ayunan celurit, dan tepat mengenai mulut Mbok Kodok hingga tersobek begitu lebar. 

Mbok tikus pulang dengan lumuran darah di badanya, bukan daging yang dibawanya, tetapi luka dalam pada mulutnya yang dibawanya. Kepedihan menambah panjang bagi  derita keluarga Mbok Kodok. Mbok Kodok yang karakternya baik itu hanya pasrah hingga esok hari, semoga menemukan makanan buat si buah hati. Dan yakin bahwa perlakuan Mbok Tikus pasti akan mendapat karmanya. Mulut Mbok Kodok yang dahulu mungil kini menjadi lebar karena saat itu belum ada dokter jahit (hehe).

Kini Mbok Kodok menemukan balasan baik, ternyata sekarang banyak orang mengkonsusi kodok tapi tak ada yang mengkonsumsi tikus. Orang berlomba-lomba membuat racun tikus, tapi tidak pernah ada orang membuat racun kodok. 

Berbuatlah baik sesama tetngga, dan janganlah kita hanya memikirkan diri kita sendiri, berbagilah demi mereka yang menderita agar mereka turut merasakan kebahagiaan. Karena setiap kejahatan pasti ada karmanya. (red)


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap