Perspektif Keadilan Menurut John Rawls

Perspektif Keadilan Menurut John Rawls 1

Jhon Rawls menjadi sangat terkenal ketika melahirkan pemikiran-pemikirannya yang kritis mengenai keadilan. John Rawls dipercaya sebagai salah seorang filsuf yang memberi pengaruh pemikiran yang cukup besar terhadap diskursus mengenai nilai-nilai keadilan hingga saat ini.

Pemikiran-pemikirannya mengenai prinsip-prinsip keadilan sangat relevan bagi negara-negara dunia yang sedang berkembang, seperti Indonesia yang pada umumnya masih tergolong sebagai masyarakat kaum lemah yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Hal ini dapat dilihat dari dasar negara Indonesia yang sejak awal didirikan pada pijakan untuk mewujudkan keadilan sosial baik untuk warga negaranya sendiri maupun masyarakat dunia. Pada kesempatan ini, saya akan memperkenalkan pemikiran Jhon Rawls tentang Teori Keadilan melalui kacamata Jhon Rawls.

TENTANG JHON RAWLS

Jhon Borden Rawls lahir pada 21 Februari 1921 di Bailtimore, Maryland, Amerika Serekat. Pada tahun 1939 ia menempuh dunia pendidikan di Perinceton University karena ketertarikan dan pemahamannya yang amat mendalam pada ilmu filsafat.

Setelah menamatkan pendidikannya dan memperoleh gelar Bachelor of Arts (B.A) pada tahun 1943, ia langsung bergabung dengan prajurit infantri perang dunia II dan ditugaskan di kawasan-kawasan negara-negara Pasifik. Namun tidak lama kemudian ia mengundurkan diri dari pasukan infantri karena pengalaman pahit sebagai saksi hidup atas terjadinya peristiwa penjatuhan bom atom di kota Hirosima.

Pada tahun 1950, Jhon Rawls menyandang gelar Doctor of Philosopy, dan langsung dipercayakan untuk mengajar di almamaternya hingga tahun 1952 sebelum pada akhirnya melanjutkan studi di Oxford University, Inggris, melalui program Fulbright Fellowship. Di universitas inilah dirinya sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran tentang teori kebebasan di bidang hukum dan filsafat politik.

Ia mencoba untuk mengkaji konsepsi mengenai praktik-praktik sosial (social practices) yang dikenalkan oleh Hart guna mengeksplorasi kelemahan utilitarianisme, maka konsepsi mengenai persandingan antara kebebasan negatif (negative liberty) dan kebebasan positif (positive liberty) diperolehnya dari pemikiran Berlin.

Selama masa hidupnya, John Rawls sempat dipercaya untuk memegang beberapa jabatan penting. Di antaranya, yaitu Presiden American Association of Political and Legal Philisopher (1970-1972), Presiden the Eastern Division of the American Philosophical Association (1974), dan Professor Emeritus di James Bryant Conant University, Harvard (1979).

Selain itu, dirinya juga terlibat aktif dalam the American Philosophical Society, the British Academy, dan the Norwergian Academy of Science.  Karya besar Rawls mulai beredar di awal 1950-an yang tersebar di berbagai jurnal ilmiah internasional ternama. Beberapa artikel yang dikenal luas tersebut, misalnya “Two Concept of Rules” (Philosophical Review, 1955), “Constitutional Liberty and the Concept of Justice” (Nomos VI, 1963), “Distributive Justice: Some Addenda” (Natural Law Forum, 1968), “Some Reason for the Maximin Criterion” (American Economic Review, 1974), “A Kantian Conception of Equality” (Cambridge Review, 1975), dan “The Idea of an Overlapping Consensus” (Oxford Journal for Legal Studies, 1987).

Sejak 1995 Rawls terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya secara perlahan akibat penyakit stroke yang telah melemahkan daya jelajah berpikirnya. Tepat pada 24 November 2002 di rumahnya (Lexington), John Rawls menghembuskan nafas terakhirnya akibat gagal jantung. Pada saat itu, dirinya meninggalkan seorang istri, Margaret Fox, dan empat orang anak, yaitu Anne Warfield, Robert Lee, Alexander Emory, dan Elizabeth Fox, serta empat orang cucu yang masih belia.

Term Keadilan

Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa “Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran”.

Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: “Kita tidak hidup di dunia yang adil”. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan.

Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.

PRINSIP-PRINSIP KEADILAN MENURUT JHON RAWLS

Prinsip pertama sebagai berikut:

Posisi Asli. Struktur dasar masyarakat yang adil dapat dicapai dengan mengadakan reorganisasi atau penataan kembali susunan dasar masyarakat. Dalam hal ini setiap individu harus dalam keadaan “posisi   asli” (original position). Original posisition   adalah suatu keadaan awal di mana manusia digambarkan kembali pada sifat-sifat alaminya. Sifat asli manusia adalah mementingkan diri sendiri, egois, moralis. Bertitik tolak dari posisi asli, orang akan sampai pada suatu persetujuan bersama untuk mewujudkan prinsip-prinsip keadilan. Syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai posisi asli tersebut adalah “kerudung ketidaktahuan”(veil of ignorance).

 “Kerudung ketidaktahuan”, (viel of ignorance) Supaya tercapai situasi yang menempatkan para anggota kegiatan struktur dasar masyarakat dalam kedudukan yang sama, maka mereka harus meninggalkan semua pengetahuan partikular mereka. Dalam situasi demikian,tidak seorangpun  mengerti  keduudkannya,  dan  tidak tahu keuntungan dalam pemberian kekayaan dan kompensasi alamiah. Mereka juga tidak tahu yang akan terjadi terhadap dirinya maupun terhadap orang lain, keadaan semacam ini disebut “kerudung ketidaktahuan” (veil of ignorance).

 Keadilan dan Kebutuhan Dasar. Fungsi struktur masyarakat adalah untuk membagi-bagikan hal-hal utama    yang ingin diperoleh setiap orang (primary   goods). Primary goods ini merupakan kebutuhan dasar manusia, yang diinginkan oleh setiap manusia normal dalam mencapai kebutuhan yang layak, hak-hak, kebebasan, pendapatan, dan kesehatan.

 Prinsip-prinsip   Keadilan.   Prinsip   pertama   disebut “Prinsip Kebebasan yang sama yang sebesar-besarnya” Principle of Greates Equal Liberty). Pada prinsip ini mencakup: Pertama, Kebebasan untuk  berperan  dalam  kehidupan  politik. Kedua. Kebebasan untuk berbicara. Ketiga. Kebebasan untuk berkeyakinan (menganut salah satu agamadi dunia ini). Keempat. Kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Kelima. Kebebasan dari penangkapan dan penahan sewenang-wenang. Keenam. Hak untuk mempertahankan milik pribadi.

Prinsip kedua, terdiri dari dua bagian yaitu:  

Prinsip Perbedaan mengandung arti bahwa perbedaan sosial dan ekonomi harus diukur agar memberikan manfaat yang paling besar bagi mereka yang paling kurang beruntung. Istilah “perbedaan sosial ekonomi” menunjuk pada ketidaksamaan dalam prospek seseorang untuk mendapatkan unsur pokok kesejahteraan, pendapatan, dan wewenang.

Sedangkan istilah “yang paling kyrang beruntung” menunjuk pada mereka yang paling kurang   mempunyai peluang atau kesempatan dan wewenang.

Mengandung arti bahwa ketidaksamaan sosial ekonomi harus diatur sedemikian rupa sehingga membuka jembatan dan kedudukan sosial bagi semua yang ada di bawah kondisi persamaan kesempatan. Orang-orang dengan ketrampilan, kompetensi, dan motivasi, yang sama dapat menikmati kesempatan yang sama pula. 

Sumber:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Keadilan, diakses pada  Selasa, 02 Desember 2020 pukul 15:28 WITA
  • Ujan, Andrea Ata, Keadilan dan Demokrasi: Telaah Filsafat Politik Rawls, Kanisius, Yogyakarta, 2001.  

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

chelvin sosa