Pertemuan Mengejutkan di Lorong Sunyi


Pertemuan Mengejutkan di Lorong Sunyi 1

Malam itu aku berjalan-jalan di sepanjang lorong sepi yang biasa kulalui. Aku sudah terbiasa dengan kesunyian semacam ini. Di sini, aku bisa berbicara dengan diriku sendiri tanpa ada orang-orang yang menguping. Aku bisa memaki diri sendiri, atau menghinanya, atau memujinya, tapi lebih sering aku bertanya-tanya kepadanya.

Namun, malam itu entah kenapa aku merasa di lorong ini ada seseorang yang lain. Seseorang yang sepertinya mendengar apa yang sejak tadi kubicarakan denganku. Entah orang itu berniat menguping atau tidak aku tak tahu, yang jelas dia sudah mengetahui semua yang baru saja kurencanakan denganku.

Dan dugaanku benar. Ada seseorang sedang duduk di bangku panjang sana. Aku tak bisa melihat dengan jelas, lorong ini tidak memiliki lampu. Hanya sedikit terang bulan yang menuntun langkah-langkahku.

Semakin kudekati orang itu, semakin aku yakin pernah bertemu dengannya, tapi entah di mana. Aku terus mendekat dan terperanjat ketika wajah orang itu terlihat jelas. Tak salah lagi, tak mungkin salah. Aku memang pernah bertemu denganmu. Kau, diriku sendiri.

“Halo, apa kabar? Lama tak jumpa,” orang itu menyapaku ramah. Keramahan yang sama sepertiku.

“Ya, cukup lama. Enam belas bulan mungkin,” aku membalasnya dengan ramah pula, berusaha menutupi keterkejutanku.

“Jadi, apa rutinitasmu sekarang?” Orang itu bertanya.

“Ya, seperti biasalah. Rutinitasku tak ada rutinitas.”

“Kecuali berjalan-jalan di sini.”

“Ya, kecuali berjalan-jalan di sini,” sekarang aku sudah cukup tenang.

Kemudian kami sama-sama tertawa. Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan tubuhku sendiri. Terakhir kami berjumpa enam belas bulan lalu. Waktu itu dia bilang mau pergi jauh. Dia mau berkunjung ke tempat asing yang tak pernah terjamah oleh manusia. Tapi dia tidak bilang mau ke tempat apa. Itu adalah hari terakhir aku melihat tubuhku. Kami berpelukan erat. Setelahnya aku hanya bisa dengar suaranya, hanya bisa rasakan kehadirannya, hanya bisa berbicara dengannya, tapi tak bisa melihatnya.

Sampailah malam ini.

“Akhirnya kau kembali juga,” aku berkata padanya. “Sudah lama aku tak melihat tubuhku.

“Sudah lama juga aku tak melihat jiwaku,” ia menyambung.

“Jadi, apa maksud dan tujuanmu menemuiku di sini?”

“Aku cuma mau kasih tahu saja. Sepertinya aku bakal pergi lebih lama lagi.”

“Ha? Mau pergi lagi? Baru saja ketemu. Memang mau ke mana sih? Berapa lama?”

“Ke tempat yang lebih jauh lagi dan sangat lama.”

“Ya, berapa lama?”

“Tidak bisa dihitung.”

“Maksudnya?”

Malam itu adalah malam terakhir aku melihat tubuhku. Hari-hari setelah itu, bulan-bulan setelah itu, tahun-tahun setelah itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Bahkan tak bisa lagi merasakan kehadirannya, mendengar suaranya. Dalam sedih yang mendalam, aku mulai memikirkan sesuatu. Sepertinya aku harus mencari tubuh baru. Tubuh yang tak pernah berpikir untuk pergi dari jiwanya. ****


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ekossaputra

   

Copy link
Powered by Social Snap