Pesona Pamali, Adab dalam Masyarakat Sunda

Pesona Pamali, Adab dalam Masyarakat Sunda 1

Mungkin pembaca pernah atau sering mendengar, ujaran pantang larang yang disampaikan oleh orangtua terutama orang-orang tua di pekampungan. Misalnya, jika kita melakukan sesuatu yang menurut mereka “melanggar kepantasan atau kesopanan”. Larangan itu selalu diawali atau diikuti dengan kata “Pamali!” Pernah dengar kan?

Pengertian Pamali itu sendiri tidak dibahas secara khusus, tapi jika dalam segi bahasa, Pamali itu mengandung arti larangan atau tabu. Pamali biasanya diucapkan oleh orangtua dan berlangsung secara turun temurun yang nggak boleh dilakukan atau pantang di lakukan. Bagi masyarakat sunda sendiri menghindari hal yang termasuk pamali sudah menjadi etika atau sikap moral yang harus dituruti atau diindahkan.

Ada banyak larangan atau pamali yang mengikat adab meskipun tidak terikat secara hukum, yang uniknya sudah seperti sugesti positif untuk masyarakat sunda. Tapi ada beberapa jenis pamali yang sudah serupa ikonik budaya kearifan lokal dan hampir booming bahkan sering menjadi slogan dan ilham.

 “Jangan duduk di depan pintu, nanti berat jodoh”

Nah jenis pamali ini jika dipikir secara logika, apa hubungannya duduk di depan pintu dengan takdir. Lho, jodoh, maut, bahagia dan celaka itu bukannya Gusti Allah yang ngatur? Bukan karena keseringan duduk di depan pintu pula. Ya khan?

Tapi di sinilah uniknya cara orangtua dulu mendidik anak-anaknya untuk tahu adab dan kepantasan (secara tidak sadar)

Duduk di depan pintu itu pada intinya menghalangi jalan. Karena pintu itu tempat orang lalu lalang, keluar masuk rumah. Hal yang kedua, berhubungan dengan ketidakpantasan. Ada tempat yang sudah disediakan dan terlihat sopan jika kita duduk di kursi atau di atas tikar, di dalam ruangan dan bukan di depan pintu.

Hal lainnya, biasanya kalau larangan itu disampaikan dengan sebenarnya, anak-anak itu suka ngeyel. Tapi diirngi dengan semacam akibat lain yang pada akhirnya jadi penggiringan kemanutan meski serupa momok menyeramkan, terutama bagi perempuan.

“Jangan bangun kesiangan, nanti rejekimu di patok ayam”

Lhah ini juga, sama gak ada hubungannya. Antara bangun kesiangan dan rejeki yang bakal dipatok ayam jika kita melakukan itu (Tidur bangun sing). Orangtua dulu, yang pemikirannya masih kolot, terkadang menyampaikan pepatah atau nasihat atau motivasi memberi spirit itu kebanyakan dengan bahasa simbol atau seloka. Artinya, jika kita bangun selalu kesiangan, kita akan ketinggalan banyak hal. Terkait waktu mencari nafkah. Pedagang, pegawai negeri, kuli pabrik dan sebagainya, pun bukannya harus berangkat dan masuk pagi? Segala aktifitas yang fresh dilakukan adalah dimulai dari pagi hari. Kalau bangun saja kesiangan, waktu kita untuk melangkah sudah ketinggalan. Bagaimana kita akan mendapat hasil yang baik? Makanya diibaratkan rejekinya bakal hilang dipatok ayam. Untung gak dipatuk ular ya.

“Jangan duduk di atas meja, nanti besar utang”

Kalimat Pamali yang inipun, sama gak logisnya. Bagaimana bisa orang yang duduk di atas meja bakal gede utang? Pesona yang penuh permainan kamuflase bukan? Duduk di atas meja, itu berkaitan dengan adab, dengan ketidakpantasan. Tempat duduk itu di kursi, bukan di meja.

“Anak gadis jangan keluar sore/maghrib, nanti dimakan sandekala (semacam jin atau siluman)”

Pamali yang ini, termasuk saya dulu, paling tersugesti untuk tidak melakukannya. Jika menjelang magrib, kalau tidak diam di rumah dan menghafal, saya segera pergi ngaji ke mesjid. Main sore, jika hendak tiba waktu magrib, cepat-cepat pulang. Rasanya, anak jaman dulu jarang ada yang berkeliaran selepas magrib. Karena takut akan pamali tadi. Takut di makan sandekala atau jin yang keluar di waktu sore. Sugesti itu begitu lekat mematri di ingatan. Sudah semacam doktrin tidak tertulis. Padahal memang tidak pantas keluar sore untuk anak-anak.

“Jangan bersiul di dalam ruangan, nanti di datangi harimau”

Ini lebih parah lagi, bagaimana bisa bersiul di dalam ruangan bisa didatangi harimau? Apa si harimau itu memng menyukai siulan orang hingga ia terpanggil untuk mendatangi orang yang bersiul? Larangan pamalinya mungkin saja mitos tapi arti dari larangannya adalah baik. Karena bersiul di dalam ruangan itu tidak nyaman di dengar.

“Anak laki-laki jangan mengambil beras dari tempat beras atau kamar beras (Goah dalam bahasa sunda)”

‘Jangan makan brutu ayam, nanti diselingkuhin pasangan”

“Jangan makan pisang yang paling pinggir, nanti didatangi harimau”

“Jangan makan di atas coet/alat untuk membuat sambal, nanti jodohnya mendapat duda”

Dan masih banyak lagi.

Pamali dalam masyarakat sunda, selain yang dikenal luas ada juga Pamali yang dikenal hanya berdasarkan satu daerah saja atau Pamali yang spesifik (Khusus)

Misalnya di suatu tempat atau kampung di Subang ada jenis larangan atau pamali seperti :

  •  Tidak boleh menyebut “batok” pada tempurung kelapa. Tapi diganti menjadi “entik”
  • Tidak boleh menyebut “buaya” di satu daerah yang terkenal legenda buaya dan penangkaran buaya. Tapi harus diganti dengan “Bayawak/biyawak” Pamali nanti buayanya bakal datang/ menjelma.
  • Tidak boleh/Pamali berziarah kubur pada hari saptu nanti akan ada malapetaka berupa kedatangan hewan yang menjijikkan.
  • Tidak boleh/Pamali menyebut “Domba” harus “embe” pada satu daerah.

Banyak lagi jenis Pamali yang khusus hanya berlaku atau ada di satu wewengkon atau daerah. Pamali jenis ini ada yang berasal dari mitos atau legenda yang melatarbelakangi daerh tersebut yang berhubunbgan konon dengan para pendahulunya.

Adab yang menghasilkan etika, moral dan akhirnya menjadi satu peradaban.

Pamali adalah larangan yang sifatnya khusus dan tidak mengikat. Bebebrapa daerah mengenal Pamali ini. Khusus dalam masyarakat sunda, pamali itu adalah pelajaran atau penerapan adab, etika yang isinya larangan atau ketidakpanatasan dan ada sebab akibat jika melakukan atau tidak melakukan itu.

Pamali dalam segi budaya adalah folklor lisan yang disdampaikan secara turun temurun dari para orang tua/leluhur dengan cara mereka untuk menjaga adab, adat yang nantinya akan menghasilkan etika dan menjaga moralitas.

Di sana ada pantang larang, bagaimana menjaga sikap bukan hanya kepada sesama sesuai tingkatannya. Yang kecil/muda  bersikap pada yang besar/tua. Tapi menjaga sikap dan adab pula pada alam. Semua itu bertujuan untuk menjaga keseimbangan dan prilaku.

Pamali menjadi pesona yang sangat unik, terlepas dari mitos dan sikap masa lalu dengan pemikiran ortodoks. Karena sesungguhnya Pamali itu aturan baik dan bisa dijelaskan dengan logika ()

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ratna Ning