Petani Punya Hak Asasi, Negara Penuhi & Jangan Lagi Diskriminasi

Petani Punya Hak Asasi, Negara Penuhi & Jangan Lagi Diskriminasi

Ada ungkapan yang mengganggu ketika komentator bola berujar bahwa Liga Perancis adalah liga .

Setidaknya terdapat dua alasan yang paling mendekati latar perkataan itu, pertama karena liga ini tidak kompetitif atau dianggap mudah.

Kedua, karena setelah pemain bola matang atau jadi bintang, ia dijual ke liga diluar Perancis untuk di-uang-kan.

Masuk akal sih. Tapi yang engga itu soal pengaitan dengan “”. Padahal terbukti paling kompetitif.

Nyatanya bantalan ekonomi kita saat pandemi ditopang oleh pertanian. Masa yang produktif begini dibilang gampangan.

Sumber: viacampesina.org
Sumber: viacampesina.org

Terus soal uang, ga selalu lho setiap panen jual seluruh hasilnya. Beberapa pasti untuk konsumsi keluarganya.

Bertani juga tak melulu untuk uang, tapi menyangkut nilai, budaya dan kehidupan.

Jadi sinonim antara dengan Liga Perancis sesungguhnya kurang tepat, dan cenderung diskriminatif.

Kisah lain yang meminggirkan datang dari padanan kemiskinan. Bertani dinilai tak punya masa depan.

Secara data, mayoritas kita atau sekitar 60 persen memang gurem. Kepemilikan tanahnya dibawah setengah hektare.

Tapi apa benar kemiskinan dan masa depan yang suram sejurus dengan ?.

Dalam menangkal isu itu, kampus-kampus yang punya fakultas pertanian dan bermimpi meraih gelar kelas dunia, ramai-ramai menyimbolkan ‘ berdasi’.

Baca juga  Jujutsu Kaisen Kenapa Bisa Laris ?

Petani yang dirasa sukses mengenakan kemeja, dasi, bercelana bahan hitam, dan sepatu pentopel. Sekiranya demikian gambaran kesuksesan awam itu.

Walaupun sebetulnya penyematan semacam itu lebih condong pada karyawan atau pegawai, bukan lah untuk petani. Petani dalam hal ini memiliki status paling wirausaha daripada wirausahawan. Mengapa?

Karena analisis kelayakan usaha petani lebih tajam dari pengusaha secara umum.Bayangkan saja, biaya produksi dan hasil panen baik secara volume atau harga sangat lah fluktuatif, tak dapat diprediksi.

Belum lagi tatkala dihadapkan dengan resiko gagal panen, baik oleh hama, penyakit maupun faktor alam.

Walaupun demikian, sebagian orang masih saja menghakimi bahwa petani itu tak berpendidikan. Secara formal mungkin saja, mengingat sebagian besar petani adalah lulusan SD. Lalu bagaimana terkait keahlian?

Para peneliti dan ilmuwan merasa hal-hal ilmiah dilahirkan dari meja dan laboratorium di universitas. Kemudian mereka bersama korporasi memaksa sistem pertanian revolusi hijau diterapkan diseluruh penjuru dunia

. Dimana petani tak perlu lagi mandiri, dengan menangkar benih dan meracik pupuk atau obat-obatan sendiri. Sebagaimana yang lazim dilakukan petani di Indonesia sebelum tahun 1970-an.

Kini para petani cukup menyediakan uang untuk membeli benih dan pupuk produksi korporasi yang berstempel “unggul” oleh peneliti.

Baca juga  Problematika Perempuan dan Stigma yang Menyelimutinya

Apakah kalian sadar, jika hal ini yang menyebabkan biaya produksi bertani menjadi lebih tinggi? dan pendapatan dari hasil panen terkadang tak mencukupi petani untuk sekadar balik modal?. Jadi siapa yang lebih tak berpendidikan?

Perihal tak kompetitif, miskin, masa depan suram dan tak berpendidikan dijawab secara lugas dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang dan Orang yang Bekerja di Perdesaan.

Deklarasi yang disahkan tahun 2018 lalu dalam sidang majelis umum PBB ini memuat 28 Pasal yang menjamin petani di seluruh dunia, ya di SELURUH DUNIA untuk diberi pengakuan, penghormatan dan pemenuhan.

Karena itu pasal terdepan mengatur tentang kewajiban negara. Negara dibalahan dunia manapun mesti menjadikan sebagai pedoman dalam menggulirkan kebijakan di sektor agraria, perdesaan, pertanian dan pangan.

Nah setelah itu pasal tentang kesamarataan dan non-diskriminasi. Disinilah negatif kepada petani patut diinsyafi. Penyudutan petani sebagai kelas pekerja, bahkan disebut Bung Karno sebagai Soko Guru menemui titik pembelaan yang nyata.

Pasal seterusnya tentu berisi ketentuan lebih rinci, yakni hak atas kekayaan alam, untuk hidup bebas dan aman, berorganisasi, berpendapat, berasosiasi, berpartisipasi, mendapatkan informasi, akses untuk keadilan, bekerja, kesehatan, kedaulatan pangan, pendapatan yang layak, jaminan tanah, lingkungan, benih, keanekaragaman hayati, air dan sanitasi, keamanan sosial, menikmati standar kesehatan fisik dan mental, perumahan, pendidikan dan pelatihan, kebudayaan dan pengetahuan tradisional, serta mendapatkan tanggung jawab dari PBB dan organisasi internasional lainnya.

Baca juga  Kemasan Snack Menggelembung, Apakah Akal-Akalan Saja Supaya Tampak Banyak?

Dari seluruh pasal yang ada, perlu menjadi perhatian bersama mengenai hak atas tanah dan kedaulatan pangan.

UU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani sesungguhnya telah memerintahkan negara menjamin luasan tanah kepada setiap petani seluas 2 hektare. program reforma agraria seluas 9 juta hektare dengan mendistribusikan tanah kepada petani juga sedang gencar dijalankan pemerintah sejak tahun 2014 lalu. Namun petani tak bertanah dan gurem terus saja meningkat.

Kendati dilingkupi ketimpangan dan keterbatasan dalam mengakses kekayaan alam, petani kecil justru berkontribusi terhadap pangan bagi sekitar 70 persen penduduk dunia.

Oleh sebab itu, kedaulatan pangan lebih tinggi derajatnya dibandingkan hanya sekadar ketahanan pangan. Ketahanan pangan cuma menjawab ketersediaan pangan di meja makan, tak memperdulikan darimana pangan itu berasal.

Sementara kedaulatan pangan lebih jauh daripada itu, yakni mengharuskan petani terpenuhi hak atas tanahnya, terjamin kegiatan budidaya pertanian yang dikerjakan, memastikan jaminan harga yang layak, mengautkan distribusi hasil panen, dan sampai kepada memperhatikan kehidupan petani itu sendiri.

Jadi bisa dikatakan Hak Asasi Petani hadir untuk mengobati nurani kita, sewaktu lini massa terus menggiring petani kian termarjinalkan.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita bisa memaknai dengan khidmat ini? Sederhana saja, tak perlu nge-jelimet, kita berupaya jangan lagi ada negatif kepada petani.

Lalu beli lah hasil panen petani, terutama petani kecil dengan harga yang layak, bila perlu jangan ditawar-tawar lagi. Atau bisa juga dimulai dengan kita menanam, belajar menjadi petani untuk diri kita sendiri agar merasakan kehebatannya.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Angga Hermanda