Pikir Ulang Berkarir Lewat Hobi, Dari Pada Berujung Penyesalan!

Pikir Ulang Berkarir Lewat Hobi, Dari Pada Berujung Penyesalan! 1

Hobi atau kegemaran adalah hal yang seharusnya menyenangkan untuk setiap orang. Sebuah ruang dimana kita menyalurkan hasrat dan gairah, berhadapan dengan tantangan yang menggiurkan. Berujung pada satu kebahagian sekalipun tidak pernah dijanjikan.

Waktu, tenaga, hingga materi menjadi sebuah bentuk dedikasi yang kita curahkan untuk bertemu dengan kenikmatan. Berbuah tawa hingga rupiah, tak sedikit yang menjadi bekal dan modal untuk mengembangkan diri.

Unsplash.com/Ian Schneider  
Unsplash.com/Ian Schneider  

Sebagian orang beranggapan bahwa berkarir lewat hobi adalah hal yang menyenangkan, bahkan diimpikan. Melakukan hal yang digemari sekaligus menghasilkan, yang terbayang mungkin hanya kenikmatan. Padahal, pernahkah terpikirkan jika berkarir lewat hobi mungkin sama saja dengan menggadaikan kebahagiaan?

Suatu hari saya bertemu dengan seorang rekan yang berprofesi sebagai fotografer dan videografer. Dulu kami saling mengenal karena terlibat dalam kegiatan komunitas outdoor activity, dia menjadi videografer karena memang senang dan menggemari bagian tersebut. Bermimpi dan berharap suatu hari nanti kemampuannya tersebut dapat membawanya berkeliling indonesia. Dengan skill dan kualitasnya saya percaya hal itu akan terwujud.

Setelah 2 tahun tidak berjumpa, suatu kesempatan mempertemukan kami di sebuah kedai kopi. Bertukar kabar basa basi khas kawan lama, dia bercerita tentang kondisinya hari ini. Setelah berjuang mengumpulkan berbagai portofolio hari ini dia menjadi seorang videografer di salah satu brand outdoor, sebuah pencapaian menarik yang membawanya berkeliling dan mengunjungi berbagai daerah di indonesia.

Kagum menjadi ekspresi dan bangganya saya atas apa yang telah dia raih. Hal yang pernah terucap sebagai mimpi, hari ini dia miliki. Canda berbalas tawa, ragam cerita atas pengalamannya menemani kopi kami malam ini. Hingga saat menjelang tengah malam, cerita menjadi lebih serius. Khasnya para lelaki saat bertukar cerita, semakin malam semakin mendalam.

Tenyata cerita merujuk pada satu hal yang terkadang dia sesalkan. Hobi dan kegemaran yang membawanya menjelajah ke berbagai tempat yang bahkan luar biasa secara pemandangannya. Menjadi sebuah pencapaian atas apa yang menjadi mimpinya. Ternyata menyadarkannya tak sepenuhnya menyenangkan.

Unsplash.com/Clay Banks  
Unsplash.com/Clay Banks  

Diburu dan dipacu waktu untuk menutup semua kebutuhan  konten, tak jarang memaksanya untuk melewatkan dan melupakan indahnya momen. Entah berapa banyak sunrise dan sunset yang harus dinikmati dibalik lensa kamera, seolah tak temukan ruang untuk berhadapan dan bertatapan dalam kenikmatan.

Hal yang sesungguhnya diharapkan, terkadang tak seindah yang menjadi kenyataan. Mendaki gunung dalam buruan waktu, berburu momen kembali lagi untuk konten. Sesekali dia bertanya, dimana letak kebahagiaan dari hobi yang diperjuangkan?

Satu momen sunset menyadarkannya, setelah banyak momen dia lewatkan. Waktu menghadapkannya dengan langit senja khas penghujung hari. Banyak hal yang dirindukan, termasuk bersantai menikmati matahari tenggelam. Dia menyadari hal itu adalah sebuah konsekuensi dari apa yang dipilih, dari langkah yang telah diputuskan. Untuk berkarir secara profesional dengan berbekal kemampuan yang digemari. Terkadang mungkin terasa bertaruh hobi, menukar kegemaran dengan penghasilan.

Sebuah hal yang banyak orang mimpikan, bisa menghasilkan pendapatan dari kegemaran tak sepenuhnya mereka mengerti. Bahwa ada sebagian orang di dalamnya yang merasa terjebak, dan sebagiannya lagi mungkin berusaha mencari sedikit kenikmatan di balik pekerjaan.

Berkarir lewat hobi tidak serta merta semuanya tentang menyenangkan, jika ingin tumbuh lebih besar dan berkembang maka profesional harus menyertai langkah keputusannya. Objeknya mungkin hal yang kita gemari, tapi sistem dan kemasan bisa jadi hal yang paling kita benci.

Unsplash.com/Jacob Bentzinger  
Unsplash.com/Jacob Bentzinger  

Memutuskan langkah untuk berkarir lewat hobi, terkadang harus siap dan merelakan suatu kemungkinan kehilangan kenikmatan. Terlihat lebih dekat dengan hobinya, saat mungkin saja lebih jauh dengan rasanya.

Dan jika memang hobi yang kita pilih sebagai sebuah pilihan karir, mungkin berbagi waktu akan menjadi sebuah solusi. Waktu di mana kita habiskan sebagai bentuk profesional sebuah perkerjaan, dan waktu untuk kita luangkan demi sebuah kenikmatan. Selayaknya mereka yang bekerja pada umumnya, berbagi waktu adalah sebuah harapan untuk menyeimbangkan. Antara beberapa hal yang menjadi tuntutan, dan ragam hal yang menjadi sumber kebahagian.

Karena hobi atau kegemaran, sebuah titik dimana kita mengingat makna kebahagian.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sandi Miftah