Pola Pikir Lama di Dunia Pendidikan


Pola Pikir Lama di Dunia Pendidikan 1

Sistem pendidikan yang saat ini berlaku mungkin bisa dikatakan sebagai sistem yang paling panjang usianya dibanding sistem-sistem lain. Setiap zaman, tentu ada sistem yang berubah misalnya sistem bernegara, bertransaksi, dan lain sebagainya. Tapi sistem pendidikan formal, sejak dulu sampai sekarang nampaknya masih mirip, hanya ada modifikasi sedikit di setiap zaman.

Kita bisa melihat banyak hal sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Misalnya kendaraan. Dulu kendaraan masih ditarik oleh kuda, berbeda dengan kini kendaraan sudah memiliki penggerak internal. Begitu juga dengan alat komunikasi yang sudah sangat jauh berubah. Sama halnya dengan bahasa, cara bertransaksi, dan lain-lain.

Perubahan sistem-sistem tersebut juga menimbulkan perubahan-perubahan lain baik itu dari impresi, cara pengoperasian, dampak, dan juga efisiensinya. Kendaraan, tidak lagi perlu kuda sehingga bisa memiliki jarak tempuh yang lebih jauh. Alat komunikasi, kini sudah bisa private messaging, tidak seperti zaman dulu yang masih satu pesan untuk semua. Terlebih cara bertransaksi yang dulu masih menggunakan barter, kini sudah menggunakan transaksi elektronik. Sangat jauh berbeda.

Hanya saja sistem pendidikan tetap saja begitu. Perubahan-perubahan yang ada di sistem pendidikan tidak bisa disebut perubahan atau pergantian sistem, melainkan hanya bisa disebut sebagai modifikasi. 

Awal mula pendidikan

Pada zaman dulu, belum ada sekolah formal. Ketika seseorang ingin menguasai suatu ilmu, tentu harus mencari guru. Maka tak heran jika di film-film yang bertemakan sejarah, biasanya seseorang akan berkelana sejauh mungkin untuk mencari guru agar dia bisa menguasai ilmu-ilmu tertentu. Misalnya saja ilmu perang, dan lain sebagainya.

Dulu, memang pendidikan bisa jauh lebih efektif. Karena, guru hanya akan mengajar jika dia mau. Dan guru juga hanya dipertemukan dengan murid yang sungguh-sungguh ingin belajar. Meskipun, cara belajar orang-orang dulu memang bisa dikatakan ekstrim. Lebih mencengangkannya lagi, nyawa pun sampai menjadi taruhan.

Karena itu, zaman dulu pendidikan menjadi hal yang langka. Orang-orang terdidik pastilah sangat mulia dan dihormati karena perjuangannya yang tidak main-main untuk menuai pendidikan. Namun kelemahannya, pendidikan tidak bisa menyebar secara merata. Sehingga pada zamannya bisa dikatakan hanya orang-orang tertentu yang bisa menguasai ilmu tertentu pula.

Awal mula sekolah diciptakan

Bisa ditebak, sekolah adalah perbaikan dari cara orang-orang memperoleh pendidikan di masa lalu. Agar setiap orang bisa mendapatkan pendidikan, diciptakanlah sekolah. Ada orang yang berkelana untuk mencari pendidikan, lalu setelah itu pulang untuk mengajarkan ilmu di daerah rumahnya. Ini menjadi terobosan yang baik karena banyak orang bisa mendapatkan ilmu tanpa harus berkelana dan mempertaruhkan nyawa.

Seiring zaman, akhirnya ada sistem sekolah yang seperti kita kenal dengan sekolah sekarang ini. Seorang guru mengajar di depan dekat papan tulis, sementara murid-murid memperhatikan dan duduk berbaris. Sistem seperti inilah yang bertahan paling lama, bahkan hingga kini.

Dulu, sistem tua ini memang menjadi sistem yang paling efektif dan menjadi terobosan yang sangat baik. Namun sekarang, tentu akan terasa kuno jika sistem ini masih berlaku.

Pola pikir lama di zaman sekarang, membantu?

Pola pikir atau cara seseorang berpikir di zaman dulu tidak bisa disamakan dengan pola pikir yang diperlukan untuk saat ini. Dengan berubahnya zaman, mutakhirnya teknologi, dan semakin banyaknya penemuan di bidang sains, teknologi, ilmu dan pengetahuan, tentu membuat pola pikir lama sepertinya basi.

Mungkin untuk satu-dua hal masih bisa menggunakan pola pikir yang sudah kuno tadi. Namun khususnya di bidang pendidikan, cara berpikir yang sudah lama sebaiknya tidak perlu dipertahankan terlalu lama.

Tradisi lama di bidang pendidikan yang merupakan buah dari pola pikir lama yang hingga kini masih berlaku diantaranya adalah:

  • Sekolah adalah ruang segi empat dimana murid duduk dan guru berdiri menjelaskan di papan tulis
  • Belajar harus serius, tidak boleh pakai HP dan lain-lain,
  • Belajar tidak boleh sambil makan, mendengarkan musik, atau bersenang-senang,
  • Teknologi yang baru hanya akan mengganggu pelajaran,
  • Ujian adalah penentu masa depan,
  • Nilai adalah indikator kecerdasan,
  • Berjalan-jalan, traveling, bermain, hanya akan membuang-buang waktu yang seharusnya untuk belajar, 
  • Jika belum jera hukuman harus ditambah, dan
  • Masih banyak lagi.

Hingga kini, hal-hal tersebut masih dipegang bahkan masih dipegang erat untuk beberapa tempat. Tentu akan menyebabkan banyak pertentangan karena perbedaan antara tradisi dan keperluan. Sederhananya, jika tradisi lama masih dipertahankan, jangan harap masih bisa hidup di zaman sekarang.

Poin-poin diatas tentu sangat menyeramkan jika dicocokkan dengan kondisi zaman sekarang. Namun sayangnya hal-hal tersebut masih berlaku hingga kini. Misalnya seperti penghukuman tidak masuk akal di sekolah karena kesalahan yang tidak berarti. Sesuai dengan salah satu cara berpikir yang sudah lama: jika belum jera, hukuman harus ditambah.

Yang harus diperbaiki

Disini, saya tidak akan menjabarkan masalah tanpa memberikan rekomendasi solusi. Namun solusi disini hanya berdasarkan pemikiran saya sendiri yang bukan merupakan ahli pendidikan. Namun tidak asal, karena saya juga mengacu pada beberapa pengkritisi pendidikan.

Perbaikan untuk poin pertama. Sekolah tidak sebatas ruang segi empat dimana guru menjelaskan di depan dekat papan tulis dan murid mendengarkan di belakang sambil duduk rapi. Seharusnya, sekolah dikemas sedemikian rupa sehingga tidak terlalu kaku. Pendidikan tidak terbatas di ruang segi empat, tapi jauh lebih luas dari luas satu negara sekalipun. Pendidikan adalah hal yang mencakup dunia. 

Perbaikan poin dua. Belajar memang harus serius, tapi sekarang ponsel atau HP adalah benda yang kedudukannya seperti buku catatan pribadi. Dimana internet sudah sangat lancar, seharusnya ponsel dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran. 

Poin tiga. Banyak orang yang perlu ditemani makanan ringan, musik, dan hal-hal seru agar tetap fokus. Melarang hal-hal tadi hanya akan membuyarkan konsentasinya dan membuat sekolah akan sangat membosankan. Fatalnya, dia bisa-bisa tidak mau belajar lagi karena dia memandang belajar adalah hal yang menyiksa.

Poin empat. Teknologi bukan hal yang mengganggu pelajaran. Justru, teknologi adalah hal yang seharusnya dipelajari jika tidak mau tergerus dengan perubahan zaman yang semakin cepat dan canggih. Kecuali, jika akan kuat dengan ketertinggalan. Teknologi baru juga perlu diimplementasikan dalam menyampaikan pelajaran agar sejalan dengan perkembangannya.

Poin lima dan enam. Ujian bukan penentu masa depan, dan nilai bukanlah indikator kecerdasan. Ada banyak penyebab orang gagal ujian meskipun dia cerdas, dan banyak pula orang berhasil ujian sedangkan dia tidak cerdas. Faktor itu adalah keberuntungan. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan otak saat ujian. Bisa saja saat orang cerdas sedang pusing, dan kebetulan orang yang biasa menjawab asal menjawab tepat pada jawaban yang benar. Peluangnya mungkin kecil, tapi tetap ada.

Poin tujuh. Berjalan-jalan, traveling, dan bermain game bukan membuang waktu, apalagi jika waktu senggang diklaim seharusnya untuk belajar. Hal-hal tersebut tentunya seru untuk banyak orang. Yang seharusnya dilakukan adalah buat orang mengerti melalui hal-hal tersebut atau memasukkan unsur pelajaran di dalamnya, bukan melarangnya dengan dalih harus belajar.

Poin delapan. Hal yang penting dalam sebuah hukuman adalah: dia sadar akan kesalahannya, dan dia sadar bahwa hal itu adalah kesalahan. Menghukum semakin berat hanya akan membuatnya kesal pada yang memberikan hukuman, bahkan bisa saja membenci. Ini bukannya menimbulkan kejeraan atau kesadaran, tapi dia malah menantang dan semakin berani karena tertempa dengan banyak hukuman.

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang perlu diperbaiki, namun saya rasa hal-hal tersebut sudah cukup untuk diperbaiki sebagai awal. Sambil berjalan, tentu kita bisa menemukan hal-hal yang harus diperbaiki.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

EnamDelapan

   

Sukses hanyalah tentang seberapa beruntung kita. Tuhanlah yang menentukan keberuntungan itu, kita hanya bisa berdoa dan berusaha.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap