PON di Papua tapi dutanya dari Jakarta, salahkah?


PON di Papua tapi dutanya dari Jakarta, salahkah? 1

Pekan Olahraga Nasional atau PON ke-20 akan digelar sebentar lagi dan yang menjadi tuan rumah kali ini adalah provinsi Papua. Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali memastikan PON akan digelar pada 2-15 Oktober 2021 setelah sempat ditunda karena pandemi Covid-19.

Segala persiapan pun dilakukan dalam semua bidang, mulai dari renovasi venue, pembangunan rusun untuk atlet dan lain-lain, tak terkecuali penunjukan duta PON yang tujuannya untuk mensosialisasi dan mempromosikan event ini. Menpora menunjuk pesepak bola Boaz Solossa, Raffi Ahmad, dan Nagita Slavina sebagai duta PON XX.

Nagita Slavina mengenakan pakaian adat Papua
Nagita Slavina mengenakan pakaian adat Papua

Polemik pun muncul ketika berita penunjukan Nagita Slavina sebagai duta PON mulai viral di sosial media, banyak pihak yang memberi reaksi positif karena memuji kecantikan Nagita Slavina dalam balutan pakaian adat Papua, namun bukan sosial media namanya jika hanya memberi satu suara. Banyak juga yang memberi reaksi negatif dan cenderung tidak setuju karena menganggap Nagita Slavina tidak merepresentasikan wanita Papua, salah satu publik figur yang menyuarakan hal ini adalah Arie Kriting, melalui akun Instagramnya ia mengunggah screen capture berita tentang Nagita Slavina  dan menuliskan caption berisi opininya tentang cultural cultural appropriation.

unggahan di Instagram Arie Kriting
unggahan di Instagram Arie Kriting

Lalu apa itu cultural appropriation? relevankah jika digunakan untuk menanggapi masalah ini? melansir Wikipedia.com cultural appropriation atau perampasan budaya adalah adopsi satu atau beberapa elemen dari satu budaya atau identitas oleh anggota budaya atau identitas lain. Dalam hal ini, penunjukan Nagita Slavina sebagai duta PON dianggap hanya meminjam atribut adat Papua tanpa merepresentasikan perempuan asli Papua, lalu salahkah jika demikian?

Penyelenggaraan event Nasional yang dilakukan bergilir di setiap daerah memang identik dengan mempromosikan budaya atau adat lokal daerah tersebut, begitu juga event-event internasional seperti Olimpiade atau Piala Dunia, pastinya akan mempromosikan kultur budaya sang tuan rumah. Namun hal ini sebenarnya juga tak layak untuk terlalu di permasalahkan.

Melihat ke belakang, pada PON 2016 di Jawa Barat salah satu yang ditunjuk sebagai ikon adalah Maria Selena, yang notabene adalah orang Sumatera Selatan mendampingi Robby Darwis dan Susi Susanti yang merupakan orang asli Jawa Barat. Dalam PON 2021 ini juga demikian, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ditunjuk sebagai sahabat/pendamping Boaz Solossa yang merupakan orang asli Papua. Hal ini seharusnya memang bukan masalah besar, karena dalam sebuah event juga diperlukan sosialisasi kepada masyarakat luas, dan Nagita Slavina mungkin dianggap paling tepat dan mampu melakukan hal ini karena seperti yang kita ketahui, Raffi – Nagita adalah pasangan artis yang dianggap couple goals karena multi talenta dan sukses dalam banyak bidang.

Maria Selena dalam PON Jabar 2016
Maria Selena dalam PON Jabar 2016

Well, polemik ini memang memiliki dua sisi, memang benar jika dikatakan Nagita Slavina tidak merepresentasikan wanita Papua, namun juga tidak salah jika dikatakan “toh Nagita juga orang Indonesia“. Hal ini juga bisa dipandang sebagai perwujudan asas Unity in Diverse atau Bhinneka Tunggal Ika karena menyandingkan dua hal yang berbeda tanpa membeda-bedakannya, terlalu kaku dalam menganggap perbedaan juga mencerminkan bahwa kita sendiri yang tidak terima dengan perbedaan itu. Semoga kedepannya kita lebih bijak menyikapi perbedaan dalam segala hal.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Kirom Madas

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap