Prank dan Kebohongan yang Menggejala


Prank dan Kebohongan yang Menggejala 1

Akhir-akhir ini, konten-konten yang memuat adegan menjaili orang semakin banyak kita temui di media sosial. Youtube sebagai aplikasi atau media berbagi video menjadi sarana yang paling banyak diminati. Konten-konten yang berisi menjaili orang, paling banyak disukai dan ditonton, hingga menembus angka puluhan juta viewers. Melihat konten menjaili orang atau yang disebut sebagai prank banyak diminati, para youtubers ramai-ramai melakukan atau membuat konten yang serupa. Tujuannya, demi melimpahnya subcriber (pengikut) dan jam tayang (view), agar pundi-pundi uang masuk dengan deras ke dalam kantong pribadinya. “Iseng-iseng bikin kaya!” kata mereka, youtubers yang sering bikin konten prank tersebut.

Fenomena prank pada sebenarnya mirip dengan tradisi April Mop atau April Fool’s Day (dalam bahasa Inggris). Trend tradisi tersebut berasal dari negara Inggris beberapa abad yang lalu. Pada tanggal 1 April 1700, beberapa orang saling menjaili (prank), berbohong, atau melempar lelucon tanpa merasa bersalah atau dipermasalahkan. Beberapa sejarahwan berspekulasi bahwa April Mop bisa ditelusuri pada tahun 1582 ketika Prancis mengganti kalender, dari Julian menjadi Gregorian. Tradisi saling menjaili tersebut berlangsung hingga kini, bahkan merambah ke berbagai negara termasuk di Indonesia dengan bentuk dan nama yang berbeda.

Prank sendiri merupakan perbuatan jail seseorang untuk ngerjain orang lain dengan maksud dan tujuan hanya bercanda, bisa berbentuk tulisan, perkataan, atau tindakan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), prank termasuk bahasa Inggris, yaitu bahasa Jermanik yang pertama kali dituturkan di Inggris pada abad pertengahan awal. Saat ini, juga menjadi bahasa yang paling umum digunakan di seluruh dunia. Prank maknanya adalah perilaku yang mengarah pada senda gurau, menipu, mengibuli, olok-olok, dan atau guyonan.

Jadi, secara garis besar, prank merupakan satu bentuk perilaku bohong atau olok-olok seseorang kepada orang lain dengan maksud untuk bercanda. Makanya, konten prank seringkali membuat objek prank atau seseorang yang dikenai sasaran prank merasa dibohongi, panik dan ketakutan, bahkan mengalami luka hingga pada hilangnya nyawa. Bercanda dengan karakter semacam ini pada sebenarnya merugikan orang lain. Tak jarang, si pembuat konten jail semacam ini dilaporkan ke pihak yang berwajib, seperti yang pernah dialami salah seorang youtuber konten prank bingkisan sampah yang viral beberapa waktu lalu.

Prank dengan jenis dusta, menipu, olok-olok, menakut-nakuti, dan mengganggu ketenangan orang lain, jelas dilarang dalam pandangan Islam. Nabi Saw bersabda, “Perihalah diri kalian dari kebohongan, sesungguhnya berbohong merupakan perbuatan jahat.” Juga sabdanya, “La yahillu limuslimin an yurawwi’a musliman.” (haram bagi seorang muslim, menakut-nakuti muslim lainnya.) (HR. Abi Dawud). Dan banyak lainnya terkait larangan perbuatan dusta, menipu, dan sejenisnya. Termasuk juga dilarang bercanda dalam konteks merugikan kehidupan orang lain. Nabi bersabda, “Tidak boleh seseorang mengambil barang orang lain, baik bercanda maupun serius.” (HR. Abi Dawud dan Tirmidzi). Apalagi aksi prank berindikasi pada perilaku tasyabbuh (menyerupai) dalam konteks mengikuti trend tradisi di luar Islam, tentu demikian itu lebih berbahaya lagi.

Pada sebenarnya, dalam kacamata Islam bercanda boleh-boleh saja, namun tetap dalam koridor yang semestinya. Bercanda juga sering Nabi Saw lakukan, ketika beliau bersama dengan keluarganya dan para sahabatnya. Satu contoh, ketika ada salah seorang perempuan tua (nenek-nenak) datang menemui Nabi Saw dan bertanya, “Duhai Nabi, orang tua macam saya apakah bisa masuk surga?” Lantas Nabi Saw menjawab, “Tidak, di surga semua orang yang berada di sana menjadi muda.”

Maksud dari jawaban Nabi Saw di atas hanya dengan tujuan bercanda, dan dalam istilah ilmu balaghah disebut tauriyah, yaitu perkataan umum yang dekat dengan maksud khusus yang jauh, atau yang sebaliknya. Jawaban Nabi bermakna, bahwa tatkala seseorang masuk surga semua menjadi muda, bukan yang tua tidak bisa masuk surga.

Hal demikian juga pernah terjadi pada diri Nabi Ibrahim (As), bahkan dua kali. Pertama, tatkala beliau menghancurkan patung-patung Namrud, kemudian kapaknya dikalungkan ke leher patung yang lebih besar. Ibrahim (As) ditanya, “Aanta fa’alta hadza bi alihatina ya ibrahim.” (apakah kamu yang merusak tuhan-tuhan kami, Ibrahim?). Ibrahim (As) menjawab, “Bal fa’alahum kabiruhum hadza.” (bukan, itu yang  besar yang melakukannya!). Maksud yang dikehendaki Nabi Ibrahim (As) dengan kalimat “kabiruhum hadza” adalah dirinya. Kedua, ketika beliau bersama istrinya, Siti Hajar, dan ditanya, “Siapa perempuan itu, Ibrahim?” Kemudian, “Ukhti” (saudariku!), jawab Ibrahim (As). Maksud dari kalimat tauriyah yang dikatakan Nabi Ibrahim (As) adalah ukhti fi islam (saudariku dalam Islam), sebab semua manusia seiman adalah saudara.

Perkataan (kalam) tauriyah yang Nabi Muhammad Saw serta Nabi Ibrahim (as) katakan seperti contoh di atas, tidak termasuk ke dalam perkataan bohong dan dusta. Tidak pula termasuk pada perkataan yang mengandung maksud mengolok-olok dan menipu. Semua Nabi bersih dari perkataan-perkataan tersebut. Sebab, para rasul mustahil bersifat kadzab (berbohong), khiyanah (berkhianat), kitman (menyimpan ilmu), dan biladah (tolol). Melainkan, kalam-kalam tauriah di atas dihadirkan dengan tujuan seni berbahasa dan endingnya demi kebaikan dakwahnya. Dakwah yang para rasul alami itu cukup vareatif dan menantang, di sanalah maka butuh seni. Semua dilakukan demi keberlangsungan dakwahnya, serta secara debateble mematahkan lawan-lawan debatnya sebagaimana dialami Nabi Ibrahim (as) di saat beliau merusak patung-patung sesembahan Namrud.

Perilaku ngibul menjadi trend sensasional yang sering dilakukan oleh orang-orang teralebih kaum muda demi meraup kebahagiaan semu. Manusia modern serta dibarengi dengan gejala hedonitas yang cenderung meraup popularitas demi segepok harta, cara-cara apapun terus diupayakan sekalipun berupa vandalisme dan melabrak tatanan kesopanan. Tidak selayaknya kita melakukan kejailan (ngeprank), apalagi sampai merugikan orang lain secara mental maupun materi. Ada banyak ide untuk kita buat konten video yang jauh lebih bermanfaat yang juga diminati oleh banyak orang, seperti sosial eksperiment, dan semacamnya. Bukan hanya untuk kebahagiaan sesaat, ia mestinya bernilai positif lagi menginspirasi.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap