Prasangka yang Tak Berdasar


Prasangka yang Tak Berdasar 1

“Hakikat perempuan adalah selalu menjadi nomor dua setelah laki-laki. Aku berbicara seperti itu jika pembahasannya berkaitan dengan pasangan suami istri, atau soal pembagian warisan. Semua itu, Islam sudah mengaturnya. Dan tentu saja semua muslim tahu, bahwa syari’at tak akan bisa ditentang, apalagi dilanggar. Begitupun denganku. Sebagai seorang perempuan, juga proses menjadi muslimah yang taat, aku sangat menyadari bagaimana hakikat perempuan jika dibandingkan dengan lelaki. Hanya untuk dalam beberapa hal tentunya, tidak semuanya. Seperti pendidikan, pekerjaan, atau beberapa yang lain, perempuan juga bisa lebih unggul dari laki-laki. Bahkan bukan hanya perempuan, seorang muslimah pun juga bisa melakukannya. Dengan syarat, izzah dan iffah harus selalu menjadi prioritas.”

***

Hari-hari berjalan normal seperti biasanya. Suasana jalan perkotaan masih sama ramainya seperti kemarin. Ada yang berjalan santai, ada pula yang terlihat terburu-buru. Aku berhenti di lampu merah, memperhatikan langit sekilas. Cuaca pagi ini cukup mendukung. Tidak bisa dibilang cerah, tidak juga dikatakan gelap. Menurutku cuaca pagi ini sangat pas untuk memulai hari baru, selalu dengan penuh semangat tentunya. Apalagi hari ini pengumuman mahasiswa terpilih yang ikut beasiswa Belanda akan keluar. Tidak mungkin aku tidak antusias menantikan kabar ini.

Aku segera melaju dengan motor pink-ku dan mampir ke rumah Annie, berniat menjemputnya tepat sebelum ke kampus. Annie cukup cerewet menasehatiku soal beasiswa yang kukejar selama akhir semester ini. Ia menanyakan, apakah aku sudah membicarakan dengan kedua orang tuaku dan mas Afnan. Jawabanku, tentu saja belum. Cari mati aku melakukannya dalam waktu dekat ini. Aku sengaja mencari beasiswa diam-diam agar setidaknya ketika aku benar-benar lolos seleksi, orang tuaku akan segan menolak dan memberikan izin. Dengan begitu rencanaku pasti berhasil.

Sedikit informasi, aku lahir dalam keluarga yang sangat religious dan terjaga. Abi adalah salah satu dosen, pendiri sekolah Tahsin, sekaligus ustadz yang sering mengisi pengajian di berbagai tempat yang berbeda. Sedangkan Umi adalah seorang dokter, disisi lain Umi selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk mengajar di rumah Tahsin milik Abi. Kakakku, Afnan namanya. Satu-satunya saudara, dan anak laki-laki tunggal di rumah. Pernah lulus dari pondok favorit dan menjadi idaman akhwat-akhwat. Biasalah, anak pondok selalu punya cerita menyenangkan tersendiri. Mas Afnan sangat cerdas, saat ini bahkan ia mengambil kuliah S2 kedokteran di luar negeri. Jerman tepatnya. Orang-orang beranggapan karakternya terlalu baik bahkan mendekati level sempurna. Nilai plus lainnya, dia sangat penurut, apalagi jika berkaitan dengan keputusan Abi dan Umi, yang sebenarnya dia selalu mendapat kebebasan dalam mengambil keputusan sendiri dan mendapat restu. Berbeda denganku, aku juga lulusan pondok tiga tahun lalu, namun semua itu tak membuatku menjadi seperti mas Afnan. Aku sering berontak dan melakukan sesuatu hal sesuai kemauanku. Banyak hal yang kuminta berakhir ditentang dan diabaikan. Alasannya selalu sama. Katanya aku perempuan, katanya aku muslimah, aku harus jaga sikap, harus selalu terjaga. Aku mengakui semuanya sangat benar, dan tidak bisa dibantah. Namun, seringkali hal seperti itulah yang mengekangku, dan perlahan membuatku berontak dalam diam.

Jam dinding kantin kampus menunjukan pukul dua belas lewat sepuluh. Pengumuman peserta beasiswa terpilih seharusnya sudah keluar. Namun keberanian dan ketakutan mencegahku melihat hasilnya sesegera mungkin. Sampai tiba-tiba Annie datang menghampiriku, menanyakan lagi soal beasiswa yang kuambil.

“Annie! Liatin punyaku, please?! Ya?” aku mendesak Annie yang tiba-tiba datang. Tentu saja ia mengiyakan. Permintaan dariku tak pernah diabaikan begitu saja olehnya.

“Emma…” raut muka Annie mendadak serius, menyiratkan sesuatu yang kupikir akan terdengar mengecewakan. Harapanku mulai pupus.

“Nggak lolos ya?” tanyaku pasrah.

“Nomer 3” aku semakin lesu. ‘tunggu. Apa?’ Annie menahan senyum, lantas berteriak di beberapa detik kemudian.

“Serius? Nggak bohongan?” Annie mengangguk mantap, sedangkan aku masih berusaha mencerna, tak percaya dengan apa yang kudengar saat ini. Bahagia dan haru bercampur aduk, membuatku semakin sulit mendeskripsikannya. Hanya hamdalah dan ucapan syukur yang dapat terucap dalam diamku.

Aku langsung memeluk Annie dan melompat kegirangan ditengah keramaian beberapa mahasiswa yang tengah asyik menikmati makan siangnya. Beberapa yang lain terlihat seperti berbisik sambil menatapku aneh, mungkin terganggu. Entahlah, aku tak memperdulikannya. Mataku fokus menatap pengumuman di layar ponsel Annie, seakan jika aku teralihkan sejenak, namaku akan lenyap begitu saja dari daftarnya. Siang itu, aku dan Annie mengadakan sedikit perayaan atas keberhasilanku. Kabar bahagia ini sejenak membuatku melupakan satu hal penting. Satu hal yang seharusnya sudah kuselesaikan sejak semuanya dimulai.

Seminggu setelah pengumuman, keluargaku masih belum tahu apapun soal beasiswa itu. Bukan sengaja. Selain sibuk mengurus dokumen yang dibutuhkan untuk pendaftaran ulang, aku juga perlu mempersiapkan segala hal untuk sidang skripsi. Beberapa hari belakangan, Umi dan Abi bahkan tak mempertanyakan ketika aku selalu absen untuk makan bersama dan memilih menghabiskannya sendiri di kamar. Bersyukurnya, malam ini semua urusan selesai. Materi sidang sudah kusiapkan dengan matang, dan data yang kubutuhkan sudah lengkap, tinggal mengirimkannya ke kantor Pos.

Pagi hari datang begitu cepat. Aku terbangun dengan keadaan kaget dan tergesa-gesa karena sadar aku akan terlambat. Bingung dan panik membuatku semakin kacau. Selalu seperti ini jika sedang ‘libur sholat.’ Tanpa pikir panjang aku segera mandi, lantas bergegas mengenakan setelan rok hitam dan kemeja putih, tak lupa dengan kerudung putih panjangku. Untungnya, semua data sudah kumasukkan ke dalam tas semalam. Tinggal menenteng tas hitamku dan pamit. Sengaja kulewatkan sarapan dan berangkat ke kampus. Aku menghela nafas panjang ketika sampai di depan ruangan sidang tepat 10 menit sebelum sidang dimulai. Annie yang datang lebih awal dariku ternyata sudah menunggu sejak satu jam yang lalu. Bukannya segera membantu, sempat-sempatnya dia mengomeliku dulu karena datang terlalu mepet. Aku hanya mengiyakan dan segera masuk ruang sidang.

Dua jam berlalu, sidang skripsiku selesai, ketegangan yang kualami sebelumnya perlahan lenyap. Tergantikan dengan huru-hara dan ucapan selamat dari beberapa teman kelas dan juga organisasi. Aku melakukan banyak swa-foto dan mengirimkannya ke grup keluarga. Beberapa menit kemudian, balasan dari mas Afnan memenuhi notifikasi ponselku. Balasan pesan lainnya disusul oleh Abi. Bukan sebuah ucapan selamat atau hal menggembirakan lainnya. Abi justru menyuruhku untuk segera pulang. Agak aneh memang, tapi tak begitu kupikirkan. “pasti Abi sok kelihatan galak tapi diam-diam kasih kejutan di rumah. Udah keliatan. Hihi” tebakakku, tertawa kecil memikirkan kejutan dari orang-orang rumah. Aku tidak segera pulang seperti perintah Abi, Annie mengajakku jalan-jalan ke beberapa tempat bermain dan restoran sekalian memenuhi janji traktiran kelulusan sidangku.

Matahari terbenam, dan adzan maghrib berkumandang menandakan akhir jalan-jalanku dan Annie setelah seharian ini. Terlalu sibuk bersenang-senang membuatku lupa akan sesuatu. Rencananya sepulang sidang skripsi aku akan mampir ke kantor pos untuk mengirimkan formulir daftar ulang. Namun, rencanaku berakhir terlupakan begitu saja. Aku mengantarkan Annie dan langsung pulang.

“Assalamu’alaikum, Abi, Umi, Emma pul…” ucapanku spontan terhenti melihat Abi, Umi dan mas Afnan yang kebetulan memang di rumah sejak tiga bulan lalu, berkumpul di ruang keluarga dengan map coklat berukuran sedang di meja. Kulihat mapku sudah terbuka, tak tertutup rapat seperti sebelumnya.

“Abi, Emma bisa jel…”

“Mau jelasin kalau kamu udah bohongin Abi sama Umi?”

Abi tidak membentakku, tidak juga mengintimidasi. Tapi dapat kurasakan Abi sangat marah saat ini. Pertanyaannya benar-benar menohokku, membuatku merasa begitu bersalah.

“Nggak gitu, Bi… Emma nggak niat bohongin Abi sama Umi. Mas Afnan…” Aku memelas, melirik mas Afnan agar diberikan pembelaan. Dalam keadaan tersudut seperti ini, biasanya mas Afnan akan berusaha membelaku di depan Abi. Nyatanya tidak. Kali ini dia tak berbicara sedikitpun, ia hanya menatapku lurus, dengan tatapan kecewa. Suasana menjadi begitu hening dan terasa semakin tak mengenakkan. Keadaan seperti ini membuat sebuah emosi yang lama kupendam kembali muncul.

“Iya! Emma daftar beasiswa ini atas kemauan sendiri. Emma sengaja nggak bilang karena nggak mau diatur-atur terus. Emma mau kaya mas Afnan. Emma mau sesekali bebas. Ada hal lain yang pengen Emma kejar juga. Kenapa selama ini, Emma terus yang dapat tekanan sama batasan. Kenapa mas Afnan nggak pernah Abi sama Umi batasin? Karena Emma perempuan? Iya? Perempuan nggak boleh gitu sekolah jauh jauh? Atau karena mahrom? Toh disana nanti Emma di asrama, dan banyak temen satu beasiswa. Apa? Abi sama Umi mau Emma nikah dulu? Emma capek selalu dikasih batasan, Bi, Mi. Nggak.cuma mas Afnan yang pengen belajar tentang dunia luar.” Suaraku memelan diakhir kata. Aku berlari ke lantai dua, bergegas menuju kamar sebelum air mataku tumpah di depan Umi dan Abi. Aku kacau. Kesempatan untuk membicarakan perihal beasiswa secara baik-baik pun telah hangus. Ada sedikit sesal, bersamaan dengan lega. Perasaan tidak terima yang selama ini kusembunyikan akhirnya terbongkar sudah. Aku menangis sejadi-jadinya, bersandar di pojok kasur ditemani gelapnya kamar yang sengaja tak kunyalakan penerangannya, masih dengan setelan baju bekas sidang tadi pagi.

Satu jam aku termenung menerawang lampu jalan dibalik jendela kamar, mas Afnan masuk kamar tanpa permisi. Lantas ikut bersandar di sebelahku.

“Dek…” mas Afnan membuka percakapan, mencoba memecah keheningan. Aku diam, malas saja untuk menanggapi.

“Abi sama Umi kaya gitu karena sayang sama kamu loh. Nggak mau kamu kenapa-kenapa. Selama ini, apa pernah kamu diizinin main jauh-jauh sampai keluar kota kalau nggak sama mas? Nggak pernah kan?” aku tetap tak merespon.

“Kalau kita nggak sayang sama kamu, udah dari kecil kami lepas kamu, biarin kamu keluyuran nggak jelas. Tapi buktinya, kita masih pertahanin kamu, jaga kamu…”

“Tapi kan aku ambil beasiswa itu bukan buat main-main. Udah dari semester empat aku nargetin beasiswa ini. Aku niatnya juga buat belajar. Kaya mas Afnan.” Aku menyela, mencoba menjelaskan.

“Tau nggak salahnya adek dimana?” pandanganku beralih kearah mata mas Afnan

“Pertama, dari awal adek udah bohong duluan. Nggak jujur dari awal. Kedua, Abi ada bilang, kalau nggak merestui soal beasiswa yang adek ambil? Abi tadi nanya loh. Adek aja yang langsung melipir ke kamar nangis. Hahaha”

“MAS AFNAN!” Aku membentaknya seraya mencubit keras lengannya.

“Lah kok malah nyubit? Iya toh, nggembeng di kamar? Kalau nggak, lampunya kok kaya kuburan gini nggak ada cahaya. Hahaha” mas Afnan tertawa lagi, yang kubalas dengan cubitan berkali-kali lipat.

Beberapa saat kemudian, kami terdiam lagi.

“Jadi, Abi kaya tadi bukan karena marahin Adek? Bukan karena ngelarang kan?” mas Afnan mengangguk dan melanjutkan dengan sebuah nasehat. “Abi itu, nggak akan ngelarang kalau tujuannya baik, yang penting jujur dulu.”

Mendengar nasehat panjang mas Afnan, mendorongku untuk bangkit dan turun menemui Abi. Benar kata mas Afnan. Abi dan Umi tidak marah padaku. Mereka hanya kecewa karena mengetahui semuanya bukan dari mulutku langsung, melainkan dari berkas yang sempat tertinggal di meja kamarku sewaktu terlambat datang ujian skripsi.

Sebelum makan malam, Abi dan mas Afnan menagih banyak cerita. Belum sempat memulai cerita, Umi sudah banyak mengomel, katanya aku bau dan jorok karena aku belum mandi dan berganti pakaian. Aku tertawa lantas bergegas untuk bersih-bersih. Di sela makan malam, aku mulai bercerita, tentang bagaimana aku mendapatkan informasi beasiswa itu, tentang ujiannya, dan banyak hal lainnya. Di penghujung makan malam, Abi menyampaikan sebuah pesan,

“Nanti, kalau sudah disana, sholatnya tetap dijaga. Ngajinya juga, kalau sempat dan bisa, kenalin temen-temen disana soal Islam. Bisa sekalian dakwah juga itu. Kalau sudah selesai studi, ilmunya jangan diambil sendiri. Jadi manusia harus bermanfaat. Maafkan Abi kalau selama ini terkesan mengekang. Abi sendiri juga nggak mau kamu jadi perempuan yang bisa iya-iya saja. Abi cuma berharap, kamu juga bisa jadi seperti Abi, seperti mas Afnan, tapi dengan cara kamu sendiri. Sebagai perempuan, sebagai muslimah yang faham harus bersikap bagaimana.”

Aku menangguk mantap, menatap lurus ke arah abi.

‘Maaf Bi, prasangka Emma membutakan segalanya.’


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

aleusia

   

hanya manusia yang mencoba jadi baik

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap