Privilege Bukan Alasan Untuk Insecure, Angkat Tanganmu Ayo Kerja Sekarang Juga


Privilege Bukan Alasan Untuk Insecure, Angkat Tanganmu Ayo Kerja Sekarang Juga 1

Siapa yang mau lahir melarat? Ada? Orang waras pada umumnya ingin lahir di keluarga kaya, sejahtera, bahkan jika perlu bergelimang harta hingga bikin iri tetangga.

Orang kaya dilarang susah / sumber
Orang kaya dilarang susah / sumber

Namun kita tidak bisa memilih dimana kita lahir. Ada yang memang ditetapkan terlahir dari keluarga tajir melintir macam Rothschild, namun ada juga yang lahir di keluarga yang harus berjuang keras untuk bisa makan esok hari.

Privilege atau hak istimewa memang nyata adanya, meski bagi rakyat jelata nampaknya adalah sesuatu yang tidak adil. Namun, ingatlah perkataan Patrick, bahwa hidup memang tidak adil. 

Kalau dikupas lebih lanjut, memang benar anak-anak dari keluarga the have ini hidupnya enak-enak bae. Makan pasti ada, sekolah di tempat yang wah, mau kerja tinggal nerusin bisnis bokap. Sungguh foya-foya itu nikmat. 

Bukan hanya itu, orang kaya akan dekat dengan ketenaran. Kita bandingkan saja, siapa yang mampu bikin konten beli nasi goreng 200 juta kalau bukan horang khaya? Atau ikut klub yang aneh-aneh, mulai dari kolektor jam tangan di atas sekian jeti hingga komunitas pecinta mobil sport. Rasa-rasanya kemiskinan itu sungguh menyedihkan dan akan makin menyedihkan jika terus melihat fakta-fakta di atas. 

Namun kamu akan tetap susah dan makin susah jika terus menerus menyalahkan keadaan. Ingat bahwa banyak orang kaya dahulu juga seorang petarung yang berani menantang kenyamanan, bergulat dengan peluh sambil memutar otak memikirkan inovasi-inovasi apa yang harus dilakukan. 

Itu juga nyata!

Maka jangan heran kalau ada orang kaya yang ingin anaknya bahagia. Bisa jadi itu adalah balas dendamnya kepada kehidupan masa lalunya yang susah dan merana.

Siapapun kita dan dimanapun kita lahir itu sesuatu yang tidak bisa kita ubah. Tetapi semua orang tetap punya pilihan, mau terus miskin atau berjuang mengentaskan hidup dari kubangan penderitaan. Atau stuck dan awet miskin karena waktu yang ada digunakan sia-sia meratai nasib. 

Mengutuki orang kaya tidak akan menghasilkan apa-apa. Paling banter malah bikin jantungan plus darah tinggi dan cepat bertemu Yang Maha Kuasa. Rugi sendiri kan?

Justru jikalau kita punya kenalan orang kaya, itu bisa menjadi sarana untuk memperbaiki nasib. Bukan dengan nepotisme atau mengemis berkah, melainkan sebagai guru. Sebagai sumber ilmu. Belajarlah dari perjuangannya. Kalau dia ternyata anak orang tajir tetapi memble, maka belajarlah dari papa-mamanya. Atau kakek-buyutnya. Kunci pertama adalah kerja keras. Yang kedua adalah inovasi. 

Rajin-rajinlah membaca kisah-kisah inspiratif dari mereka yang merintis usaha dengan perjuangan. Terapkan itu pada diri sendiri. Siapa tahu ternyata tekadmu lebih besar dari Jack Ma dan lima belas tahun dari sekarang kamu sudah jadi salah satu elit global. Eh, maksudnya kaum elit. 

Ingat juga bahwa kadang hidup bisa lebih lucu dari serial Warkop DKI. Hari ini banyak duit, dikelilingi orang-orang cakep dan dapat sorotan lampu semua orang, setahun lagi bisa saja bangkrut total. 

Jadi, privilege itu ada dan nyata. Buktinya ada sekolah elit, klub elit, perumahan elit. Namun ingat, lebih baik jualan lampu. Bisa dapat uang. Daripada terus mengutuki kegelapan. Bisa-bisa malah kesurupan. 

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Koala Merah

   

Seorang penulis lepas yang suka fotografi, koding dan seni kontemporer. Tertarik dengan isu sosial, kreativitas dan teknologi.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap