Problematika Pembelajaran Sastra di Sekolah

Problematika Pembelajaran Sastra di Sekolah

Apa yang dimaksud dengan problematika? Setiap kali dengar akan terlintas di pikiran kita mengenai permasalahan-permasalahan yang ada. Nah, tentu. Problematika itu sangat berkesinambungan dengan permasalahan yang dihadapi seseorang dalam menjalankan langkah-langkah kehidupannya. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita akan dihadapi dengan permasalahan dan rintangan. Sebenarnya, permasalahan itu tidak berat jika kita mencari solusi yang tepat. Selain permasalahan di ranah kehidupan, pembelajaran juga mengalami problematika-problematika yang membuat ketidakberhasilan pembelajaran.

Tulisan ini sangat disarankan untuk calon pendidik baik ranah pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia maupun ranah pendidik di luar Bahasa Indonesia. Kita akan mengetahui apa saja yang menjadi faktor problematika pembelajaran. Sebelum lanjut faktor-faktornya, kita harus mengetahui terlebih dahulu pengertian dari problematika pembelajaran.

Problematika pembelajaran adalah proses pembelajaran yang berlangsung di kelas dengan melibatkan siswa dan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang akan dihadapkan permasalahan dan penghambatan proses pembelajaran, sehingga memengaruhi dampak kegagalan tujuan pembelajaran. Problematika yang ada pada pembelajaran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, akan tetapi guru dan siswa hendaknya meminimalisirkan problematika pembelajaran di sekolah. Minimnya problematika yang terjadi akan menjadikan keberhasilan pembelajaran yang maksimal. Sehingga pendidik atau guru akan merasakan berhasil dalam mengajari peserta didik.

Selain itu, sastra juga salah satu pelajaran yang diinduki oleh mata pelajaran Bahasa Indonesia, sekolah dasar hingga jenjang perguruan tinggi sudah terdapat pembelajaran sastra di sekolah. Sastra juga merupakan ungkapan ekspresi manusia yang diutarakan pada karya sastra melalui pemikiran dan pengalaman yang dapat membentuk hasil tulisan yang indah dengan menggunakan bahasa yang baik dan sesuai dengan peraturan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal ini diperkuat oleh pendapat dari Horace dalam Esti Ismawati (2013: 3) sastra itu dikenal dengan dulce et utile indah dan bermakna. Sastra sebagai pengalaman manusia mengenai kehidupan, sosial, politik, agama, dan lain sebagainya yang berfungsi sebagai refleksi kehidupan dan pembentukan karakter diri. Namun, masih sangat diprihatinkan sekali, pembelajaran sastra di sekolah masih belum mencapai fungsi dan tujuan pembelajaran sastra yang sesuai.

Hal ini berkesinambungan dengan pendapat dari Kemendiknas (2011: 59) menyatakan bahwa pembelajaran sastra sedikit diminati peserta didik karena penyajian pembelajaran dari guru yang belum bisa mengambil hati peserta didik karena dianggap tidak pentingnya pembelajaran sastra. Diperkuat oleh pendapat dari Rudy dalam Aminudin (1990: 30) sastra telah diperlakukan “kurang adil” di seluruh jenjang pendidikan.

Hal ini disebabkan munculnya spekulasi bahwa pembelajaran sastra hanya untuk pada kesenangan saja karena sastra dianggap tidak berpotensi untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Maka dari itu, pembelajaran sastra dianaktirikan oleh guru dan peserta didik.Eksistensi kesusastraan saat ini menjadi tidak komprehensif. Munculnya faktor-faktor menyebabkan terjadinya problematika pembelajaran sastra sehingga eksistensi sastra tidak lagi menjadi hal yang subtansial.

Maka dari itu, problematika pembelajaran sastra ini menjadi penyebab dari ketidakberhasilan pembelajaran sastra di sekolah yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni faktor guru, faktor siswa, dan faktor sarana.

Faktor Guru merupakan faktor utama dari problematika pembelajaran sastra di sekolah karena kurangnya pendidik mempunyai pengalaman belajar teori sastra. Selain itu, guru-guru sastra di Indonesia khususnya tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas juga masih sangat minim terhadap minat baca sehingga pengetahuan mengapresiasikan karya sastra belum maksimal. Faktor lain dari guru adalah guru tidak mempunyai metode yang bervariasi dalam mengajar sastra di sekolah sehingga siswa kurang bersemangat dalam belajar sastra. Tentu, kita sering temui guru sastra yang pembelajarannya hanya menggunakan metode ceramah, peserta didik tidak diberi kesempatan untuk mengapresiasikan dan mengekspresikan sastra. Hal ini menyebabkan pembelajaran sastra di sekolah berjalan sangat lambat dan tidak sesuai dengan pencapaian kompetensi yang diharapkan pada pembelajaran sastra.

Selain faktor guru, siswa juga menjadi faktor problematika pembelajaran sastra di sekolah. Faktor dari siswa ini disebabkan rendahnya minat baca karya sastra sehingga siswa sulit untuk mengapresiasikan karya sastra. Nah, hal ini sudah menjadi masalah pendidikan di Indonesia, karena minimnya literasi peserta didik. Oleh karena itu, kurangnya minat membaca peserta didik menyebabkan peserta didik sulit memahami pembelajaran sastra dan kurang pemahamannya terhadap gaya bahasa yang digunakan pada karya sastra.

Kemajuan teknologi di Indonesia sudah hampir sebagian sekolah yang telah memanfaatkan teknologi sebagai perangkat pendukung pembelajaran yang berbasis digital. Akan tetapi, ada beberapa sekolah yang masih sangat awam dengan teknologi, sehingga tidak adanya perangkat pendukung yang digunakan ketika proses belajar-mengajar. Kemajuan teknologi memudahkan kita untuk mencari pengetahuan dan wawasan yang tidak bisa didapati secara langsung. Buku-buku digital memudahkan siswa dan guru mencari bahan referensi. Akan tetapi, sarana buku-buku di sekolah masih belum lengkap. Minimnya jumlah buku karya sastra di sekolah menyebabkan timbulnya karya sastra yang tidak berbobot, seperti karya sastra yang bergenre romantisme, menyebabkan siswa lebih mengetahui karya sastra bergenre romantisme daripada karya sastra yang lahir dari sastrawan-sastrawan Indonesia. Hal ini menjadi faktor sarana yang melatarbelakangi terjadinya problematika pembelajaran sastra di sekolah.

Dari ketiga faktor tersebut dapat kita simpulkan bahwa problematika pembelajaran sangat memengaruhi pencapaian kompetensi pembelajaran sastra di sekolah. Faktor-faktor problematika ini hendaknya perlu diatasi dengan solusi-solusi yang mampu meminimalisirkan ketidakberhasilan pembelajaran sastra. Pembelajaran sastra di sekolah membutuhkan guru yang professional mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Jika guru sastra dapat membentuk metode pembelajaran yang bervariasi dan memillki cara untuk memotivasi siswa. Maka, pembelajaran sastra di sekolah mencapai kompentensi yang diharapkan.

Dengan demikian, keberhasilan guru dalam mengajar sastra dengan di dukung sarana yang sangat lengkap, akan membuat peserta didik lebih mudah memahami karya sastra. Motivasi dan metode pembelajaran sastra yang bervariasi akan meningkatkan antusiasme siswa yang tinggi. Sehingga tidak ada lagi problematika pembelajaran yang ada pada pelajaran sastra di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Harras, Kholid A. “Sejumlah masalah pengajaran sastra.” Bahasa dan Sastra: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya 3.4 (2003).Mirnawati, Mirnawati. “Tinjauan terhadap Problematika Pembelajaran Sastra Indonesia pada Pendidikan Formal.” AKSARA: Jurnal Bahasa dan Sastra 16.1 (2015).

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Okta_ vianna