Proses Pembuatan Kefir dan Manfaatnya

Proses Pembuatan Kefir dan Manfaatnya

Banyaknya olahan beragai jenis menjadi salah satu asupan maupun yang lezat untuk dikonsumsi, dari murni hingga bisa menjadi olahan yang difermentasi seperti yoghurt, keju dan salah satunya yaitu kefir, kefir bisa dibuat dari bahan dasar sapi, kambing, maupun kedelai. Seperti apa sih kefir itu?

Tentu masih banyak dari kita yang masih awam akan kefir ini, kefir merupakan yang difermentasi dan memiliki citarasa yang khas lebih masam dari yoghurt.

Sejarah ditemukannya kefir merupakan ketidak sengajaan, pertama kali ditemukan oleh penggembala dari pegunungan Kaukasus, mereka selalu membawa yang diwadahi oleh kulit perut kambing, pada saat menempuh perjalanan rasa yang dibawa berubah menjadi asam tapi rasanya lezat dan sedikit berbusa, sehingga berubah menjadi butiran-butiran yang saat ini itu disebut grain kefir, grain kefir ini bisa dimasukan kedalam murni sapi atau kambing, kemudian di diamkan dalam waktu tertentu sehingga menjadi kefir baru (Jaya, F. 2019).

Baca juga  AWAS! Minum Jus Buah Ternyata Bahaya, Kalau Begini...
Gambar 1. Kefir dan Grain kefirSumber : https://images.app.goo.gl/WoFtTXrM48VnXx1U6
Gambar 1. Kefir dan Grain kefirSumber : https://images.app.goo.gl/WoFtTXrM48VnXx1U6

Pasti dari kita ada timbul pertanyaan, akankah sama dengan yoghurt? Ya tentu berbeda, kefir dan yogurt menggunakan bakteri yang berbeda saat proses fermentasinya, kefir menggunakan bakteri asam laktat dan khamir, Perbedaan sederhananya adalah yoghurt prosesnya fermentasi bakteri pada , sedangkan kefir diproses kombinasi dari bakteri dan fermentasi ragi.

Kombinasi bakteri dan ragi ini disebut dengan biji kefir (dr.Verury, 2019).

Proses pembuatan kefir disusun dari beberapa bakteri baik, bibit kefir yang digunakan Streptococcus lactis, Streptococcus cremoris, Lactobacillus casei, Lactobacillus acidophilus, Candida kefir, kluyveromyces fragilis, Sacaromyces cereviceae (Hanum, G. R. 2016).

Proses pembuatan kefir secara tradisional menurut (Kinteki G, A, at all. 2018):

  1. Susu Kambing dipasteurisasi pada suhu 70°C selama 15 detik
  2. Turunkan suhunya menjadi suhu kamar (± 27°C)
  3. Kemudian diinokulasi dengan biji kefir atau grain kefir sebanyak 5% dan aduk hingga rata
  4. Tuangkan kedalam wadah plastic (toples) yang steril dan diinkubasi pada suhu kamar (± 27°C)
  5. Lakukan fermentasi selama 36 jam, hasil ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan dengan beberapa perlakuan dari berapa lama fermentasi dilakukan, yang paling baik hasil fermentasi dari kefir ini yaitu selama 36 jam.
Baca juga  Mengapa Harus Wanita Yakult "Yakult Ajumma"? Simak Sejarahnya

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sulmiyati, N. S. S, at all. 2018) bahwa jenis susu yang digunakan untuk membuat kefir berpengaruh terhadap kualitas fisiokimia kefir yakni terhadap PBBK, pH, persentase asam laktat, serta kadar etanol.

Kefir yang terbaik yaitu berbahan dasar dari susu kambing dengan nilai pH 3,89, persentase asam laktat 0,14; pertambahan berat butiran kefir 26,61%; kadar etanol 0,72%.

Nah bagaimana? Sudah tau seperti apa pembuatan kefir dan asal usulnya?

Pasti setelah ini timbul pertanyaan, memang baguskah untuk kesehatan jika kita mengkonsumsi kefir? Jawabannya adalah sangat baik sekali untuk Kesehatan kita.

Dilansir dari situs halodoc yang dikemukakan oleh (dr. Rizal Fadli. 2019) dan (dr. Verury. 2019), ada banyak manfaat untuk Kesehatan diantaranya:

  1. Meningkatkan Kesehatan tulang sehingga menurunkan risiko Osteoporosis
  2. Mencegah Kanker
  3. Membantu masalah pencernaan
  4. Meningkatkan sistem kekebalan
  5. Mencegah diabetes
  6. Mencegah jantung koroner
  7. Mengatasi Diare
Baca juga  Resep Irish Coffee "Kopi Irlandia" Tanpa Alkohol

Nah setelah tau manfaatnya kita akan mengkonsumsinya dengan cara yang asik dan enak, mengingat rasa kefir itu masam, banyak cara penyajian yang dapat kita lakukan yakni diantaranya di sajikan dengan buahan seperti strawberry, manga dll, kemudian di blender hingga halus atau hanya diberi pemanis seperti madu dan gula, dijadikan salad juga sangat enak dan segar.

Kefir memiliki ketahanan penyimpanan, pemberlakuan suhu penyimpananpun berpengaruh, pada penyimpanan suhu rendah, ciri khas kefir akan dipengaruhi oleh perubahan mikrobiologi, fisikokimia dan atribut sensori.

Perubahan ciri khas pada kefir pada saat penyimpanan menjadikan kefir yang kompleks, hal ini terjadi pada tiap kefir grains mengandung jenis mikroba yang berbeda dan menghasilkan metabolit yang berbeda pula.

Semakin lama waktu penyimpanan tertentu total bakteri asam laktat akan semakin menurun sedangkan bakteri asam asetat dan khamir akan konstan.

Selama waktu penyimpanan tertentu nilai pH, lemak dan laktosa akan mengalami penurunan sedangkan total asam, viskositas dan etanol akan mengalami peningkatan.

Maka semakin lama waktu penyimpanan, tingkat penerimaan kefir akan semakin menurun, dan alangkah lebih baik jangan disimpan terlalu lama (Rohmah, F., & Estiasih, T. 2018)

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Teni Husnul Khotimah