‘Pukung Pahewan’, Peninggalan Suku Dayak Yang Terancam Punah

'Pukung Pahewan', Peninggalan Suku Dayak Yang Terancam Punah

Tengah kaya akan khasanah dan kearifan yang mengandung nilai dan martabat yang tinggi. Sesuai dengan tujuannya budaya menghantarkan sistem dan tatanan kehidupan, pandangan hingga perilaku masyarakat agar harmonis dan selaras. Tak hanya mengatur tentang system perkawinan, kelahiran  hingga sosial kemasyarakatan, juga memiliki kearifan untuk ikut menjaga dan melestarikan hutan. Dimana masyarakat sendiri hidup tak jauh dan bergantung penuh dengan alam. Di masa lampau,   sudah memiliki visi dan pemikiran yang jauh ke depan mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai sumber hidup masyarakatnya. Salah satu kearifan local menjaga kelestarian hutan adalah tradisi ‘’ yang mensyaratkan masyarakat secara bersama ikut mengawasi dan menjaga sebuah kawasan hutan untuk tidak dibabat dan dieksploitasi sembarangan. Seiring dengan perkembangan jaman modernisasi dan perkembangan Ilmu Pengetahuan, ini tampaknya juga mengalami tantangan untuk tetap eksis sebagai usaha menjaga hutan.

  dalam komunitas sendiri merupakan ungkapan yang berarti  gugusan hutan yang dijaga bahkan cenderung dikeramatkan dan disakralkan. Kawasan ini bisa kawasan perladangan yang ketika  dibuka ada bagian yang dianggap ‘pahewan’ atau tidak boleh dirusak atau dibabat sehingga dibiarkan keberadaanya sedemikian rupa dengan anggapan tempat itu patut dikeramatkan.

Baca juga  Alat Musik Sape Untuk Mengiringi Acara Suku Dayak Kalimantan

Masyarakat adat harus melindungi dan menjaga “” agar tetap lestari dan aman dari pengerusakan, agar tidak mengakibatkan ancaman bahaya atau menjadi suatu bencana bagi masyarakat adat. Meski tradisi ini berlangsung secara implisit, namun ia dianggap hukum adat, yang mengadung pesan sakral dan magis. Jika ada orang yang mengganggu, merusak , atau berburu binatang yang ada di dalamnya, maka orang tersebut dianggap melanggar adat. Ia bisa dikenakan sangsi adat. Karena dampak dari pelanggaran itu ia bisa dihukum oleh mahluk halus yang menjaga ‘’, atau malah mungkin menjadi bencana bagi seluruh penduduk desa. “” adalah kearifan lokal yang harus tetap dikokohkan dan terus dikibarkan. Kearifan ini datang dan ada secara murni dari kehidupan masyarakat (secara khusus Ngaju – Tengah – Mungkin dalam masyarakat

Baca juga  Motif Anyaman Jadi Identitas Masyarakat Komunitas Dayak Meratus
yang lain dengan istilah atau penyebutan yang berbeda).

adalah pelestarian lingkungan hidup yang sudah dikenal atau dilakukan secara tradisi oleh orang di kalteng dengan tujuannya mempertahankan hidup dan  kesejahteraan hidupnya. Dalam selain hutan sebagai sumber sandang, papan perumahan tapi  juga sumber daya alam yang sifatnya bahan konsumsi seperti  kebutuhan protein , daging binatang , ikan, buahan . Dalam  ,  sumber daya alam dikelola dengan baik oleh masyarakat jaman dahulu.

Ketergantungan masyarakat dengan alam terutama kawasan hutan memang tinggi  sehingga melalui Pukung Pahewan,  hutan dapat  dilestarikan dengan segala potensi yang ada di dalamnya.  Potensi ini bukan hanya saja mengeksploitasi dan mengambil hasil hutan,  tapi melestarikannya dengan syarat tertentu misalkan adanya sumber mata air yang tidak bisa kering. Untuk pelestariannyapun  ada semacam kesepakatan bagi masyarakat yang tinggal di sebuah  desa sehingga semua orang tahu ada kawasan hutan yang harus dilestarikan dan tidak boleh diperlakukan sembarangan .

Pukung Pahewan adalah  bentuk kearifan lokal yang merupakan suatu pengetahuan yang ditemukan masyarakat lokal tertentu melalui pengalaman dan dicoba diintegrasikan dengan pemahamanan terhadap budaya dan keadaan alam suatu tempat.  

Baca juga  5 Destinasi Wisata di Kalimantan Timur yang Menarik untuk Dikunjungi

Pengerusakan terhadap Pukung Pahewan sebagai tempat dikeramatkan menurut pandangan intuitif jika dinalar dengan kaitan ilmiah dan dunia ilmu pengetahuan paling tidak berfungsi sebagai tempat berteduh dan menahan air tempat terbuka . Dampaknya jika Pukung Pahewan ditinggalkan maka, akan banyak gangguan alam seperti banjir dan longsor yang menurut pendapat ahli ekologi ini tanda terjadi perubahan iklim.

Pukung Pahewan keberadaannya mulai terancam punah akibat pergerusan tatanan kehidupan modern dan pergeseran budaya baru . Sebenarnya masih ada peluang Pukung Pahewan dihidupkan lagi di masa kini,  sepanjang ada ‘political will’ dari pemerintah dengan  kaca pandang kelestarian hutan untuk mencegah bencana alam. Walau di tingkatan  masyarakat sendiri  kesadaran sudah mulai berkurang karena kepentingaan ekokonomi sesaat. Ini tentu perlu pembangunan sinergis antara Pemerintah , Tokoh Adat, Tokoh masyarakat yang harus mengemas warisan masa lampau selaras dengan pandangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Menghidupkan dan membudayakan kembali Pukung Pahewan tentunya bukan perkara yang mudah karena perlu kerja bersama antara Tokoh Adat, Tokoh masyarakat LSM hingga Pemerintah. Belum lagi pemahaman dan kesadaran amsyarakat masa kini juga terlihat masih sangat kurang terhadap pentingnya  kelestarian alam . Tak hanya sekedar retorika, Pukung Pahewan perlu dihidupkan kembali dengan aksi nyata yang intens agar mendapat tempat di hati warga masyarakat di masa kini. (NATA)

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Christof Nata