Pulang ke Rumah Ibu


Pulang ke Rumah Ibu 1

Telepon Lintang berbunyi di jam empat dini hari. Disana tertulis ‘Bibi’ dan Lintang menghela napasnya kasar. Kabar apa lagi yang akan diterimanya minggu ini?

“Lama sekali angkat teleponnya, Lintang. Masih tidur kamu?” tanya Bibinya dengan nada menyindir. Sayup-sayup Lintang mendengar suara denting. Entah denting hasil tubrukan sendok dan piring, atau tubrukan sendok dan gelas.

Lintang menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang kering. “Iya. Bangun karena bunyi telepon. Saya kira penting,” jawab Lintang malas. Biar saja bibinya mengomel, nanti bisa ia tinggal tidur.

Diseberang terdengar suara orang menyeruput minuman. Akhirnya Lintang bisa menjawab kalau suara dentingan tadi adalah suara gelas dan sendok. Lintang mulai memejamkan matanya lagi, berniat melanjutkan istirahatnya karena sudah berhasil menjawab suara dentingan yang didengarnya.

“Ih anak gadis bangunnya kok siang-siang. Cepat mandi sana, terus siap-siap,” kata bibinya kesal. Suara bibinya yang sedang menyeruput entah apa kembali terdengar. Lintang menggigit bibirnya kesal. Apa sih mau ini orang?

“Iya, saya siap-siap dulu,” jawab Lintang pasrah, lalu dengan cepat mematikan teleponnya. Dia melempar ponselnya ke sisi tempat tidur yang kosong di sebelahnya, lalu membaringkan dirinya dan memejamkan matanya lagi.

Tapi ia tidak pernah bisa tidur lagi jika sudah emosi saat dibangunkan seperti tadi. Dengan malas Lintang bangkit dan masuk ke kamar mandi. Diambilnya sikat gigi dan diberinya pasta gigi beraroma mint. Lalu ia mulai menggosok gigi.

Hari ini ia berjanji untuk pulang, karena ibunya bilang kalau keluarga akan berkumpul karena Angkasa baru diangkat jadi PNS. Lintang meringis, mengingat-ingat apa yang akan dilakukannya nanti jika tidak ada yang mengajaknya mengobrol saat berkumpul. Mungkin menghitung jumlah ubin atau menghitung jumlah uban ibunya? Ah tidak, ibunya pasti akan marah jika ia menghitung uban ibunya karena rambutnya yang ditata rapi akan berantakan.

Lintang paling benci dengan acara kumpul keluarga, karena beberapa sebab. Pertama, usianya jauh dari para sepupunya yang rata-rata sudah menikah dan punya anak. Sementara dia baru mulai bekerja dan tidak berniat punya anak atau mungkin ia juga tidak berniat menikah. Kedua, karena perbedaan usia itu mereka selalu membicarakan perihal kelelahan mereka menjadi ibu rumah tangga. Kemudian selalu berakhir menceramahi dan merasa setingkat lebih atas dibanding Lintang karena sudah memiliki anak dan suami. Akhirnya karena muak, Lintang akan bermain dengan keponakannya. Mencoba bersabar dengan segala tingkah anak kecil, suara teriakan melengking, suara tangis, bau pesing dan busuknya tahi. Sial, harusnya dia minta digaji karena menjadi pengurus anak-anak mereka ini.

Pokoknya, hari kumpul keluarga adalah yang paling memuakkan. Lintang membuang ludah yang sudah bercampur busa odol dan darah dari gusinya dengan penuh tekanan. Seolah-olah ia tengah meludah di depan sepupu-sepupunya yang sok tua dan ramah itu.

Lintang tersenyum, mendapati ia lebih tenang sekarang. Selanjutnya ia akan mandi dengan air hangat agar otot-ototnya yang tadi sempat ditarik karena menghadapi bibinya bisa kembali rileks.

“Semoga aku tetap awet muda,” katanya sambil tersenyum girang membayangkan air hangat akan membuatnya lebih tenang.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8, dan Lintang masih bersantai-santai di kasurnya yang sudah dirapikan. Ia mulai ragu untuk berangkat sekarang, karena ia sudah muak untuk berkumpul dengan keluarga besarnya. Seharusnya ia bisa beristirahat lebih lama hari ini, terlebih karena ia baru tidur jam dua pagi. Lintang berdecak dan menghela napas untuk ke sekian kalinya.

Sebenarnya ia masih bisa mengatasi kekesalannya pada anggota keluarga yang lain, tapi ia sangat muak karena sudah tinggal puluhan tahun di rumah itu dengan segala kegelisahan yang ada. Bapaknya yang terlalu egois, ibunya yang mengalah. Berlanjut dengan bapaknya yang mengoceh seolah dia paling benar dan mengatai orang lain. Terkadang diselingi kotbah kebajikan dan hidup baik tanpa emosi dari ibunya yang tak pernah mau mendengar segala kekesalannya.

Teleponnya kembali berdering, bibinya kembali menelepon. Lintang memutuskan untuk mengabaikannya dan menunggu hingga dering itu terputus. Setelah itu ia memesan ojek melalui aplikasi. Dalam waktu singkat seorang bapak-bapak berusia 40-an menjemputnya di depan kosan. Ia siap untuk pulang.


Lintang memandang rumah orang tuanya yang kelihatan sepi. Biasanya keponakan-keponakannya akan berlarian ke sana kemari kalau sudah melihat rumput hijau di halamannya. Lintang mengernyit dan tersenyum puas. Setidaknya rumah menjadi lebih sepi dan tenteram. Ia mulai melangkah masuk ke dalam rumah setelah melepas alas kaki.

Seperti biasa, para sepupu, om, dan tante akan berkumpul di ruang tengah beramai-ramai. Seringkali mereka melewatkan atau mengabaikan kehadiran dari Lintang yang baru sampai. Jadi, Lintang tak kesal lagi.

Lintang langsung mengarah ke area belakang rumah, menuju ke kamarnya untuk menaruh tas yang dibawanya. Di seberang kamarnya ada kamar orang tuanya yang saat ini terbuka lebar. Tumben, kata Lintang dalam hati. Ia mengintip dan melihat ibunya tengah duduk di tepi ranjang dan melihat album foto.

Bapaknya tidak ada di kamar, mungkin sedang keluar membeli kopi saset. Dengan perlahan ia melangkah ke kamar ibunya dan duduk di samping ibunya. Namun ibunya tetap diam dan masih memandang album foto yang berisikan foto-foto sewaktu Lintang berulang tahun yang ke satu.

Lintang tersenyum, melihat dirinya yang imut itu sedang dipangku oleh neneknya dikelilingi para sepupu yang sudah terlihat dewasa.

“Waktu kecil pendiam, penurut. Sudah besar jadi pembangkang,” kata ibunya pelan. Wanita seusia 60-an itu tersenyum. Dibaliknya album foto yang masih menampilkan perayaan ulang tahun kesatu anaknya.

Lintang hanya tersenyum.

Dia mengakui kalau dirinya memang pembangkang setelah dewasa. Dia hanya ingin memilih tanpa diatur oleh ibunya. Ia merasa dirinya sudah cukup untuk mengikuti kemauan orang tua, mulai dari pilihan SD, SMP, SMA, pakaian, atau menu yang ia pilih di restoran.

Ibunya membalik lagi, beralih ke halaman yang berisikan dua foto besar sewaktu perpisahan SMA. Lintang berdandan hari itu, mengenakan kebaya berwarna kecokelatan.

“Sampai sekarang masih tidak mengerti maumu apa,” lanjut ibunya. Lintang masih tersenyum dan merasakan matanya memanas.

“Mauku cuma satu, bu. Bisa bebas dan memilih,” jawab Lintang.

Hening. Ibunya mulai menangis dan sesenggukan. Lintang tetap diam, membiarkan dadanya yang sudah meletup-letup dan ingin berteriak. Ia tidak mau berteriak, karena kata ibunya siapapun yang teriak di rumah akan kena denda. Lintang tak mau membuang uangnya.

“Tante, om dan Lintang sudah datang,” kata Puspita, salah satu sepupu Lintang. Ibunya mengangguk dan menutup album foto dengan perlahan. Ia menggeser album foto itu dengan hati-hati, seolah album itu terbuat dari keramik.

Lintang memerhatikan dan mengikuti langkah ibunya dari belakang. Namun langkah ibunya semakin cepat seiring terlihatnya brankar dorong berlapis selimut putih di depannya.

“Lintang?” Tanya ibunya linglung. Bapak Lintang hanya menggeleng.

Bibi Ros yang menelepon Lintang tadi pagi akhirnya terlihat. Perempuan itu tengah membimbing ibu Lintang ke dekat brankar dorong, lalu membukakan kain putih yang menutupinya.

Ibu menutup mulutnya dan merosot ke lantai. “Lintang… kok bukan pulang kesini?” Tanya ibunya sambil menangis. Lintang yang terbaring di brankar tetap diam, menjawabnya dalam hening.

“Ngambek ya sama ibu?” Tanya ibunya sambil mulai bangkit dengan berpegangan pada bibi Ros.

“Kok diam saja? Kalau ngambek, kamu pasti mogok bicara,” lanjut ibunya. Tangannya meremas kain putih yang menutupi tubuh Lintang.

“Gak ngambek, bu. Lintang cuma mau bebas memilih,” jawab Lintang mantap. Ia tersenyum melihat ibunya. Ia sangat ingin melihat ibunya memahami apa yang diinginkannya pada awal dulu sekali. Tapi apa yang dikatakannya tidak akan pernah didengar, dulu maupun sekarang.

Lintang berbalik, mulai melangkah meninggalkan dirinya di atas brankar, ibunya, bapaknya, dan keluarga besarnya. Dengan langkah ringan ia terus berjalan menuju pintu belakang diiringi tangis ibunya yang terus membelah ruangan. Perlahan Lintang mulai menyatu dengan kejinggaan matahari sore tanpa meninggalkan penyesalan.


Kamis, 6 Mei terjadi kecelakaan yang menewaskan seorang perempuan…

Ibunya mengambil remot televisi dan mematikannya, karena ia tetap tak paham dengan kemauan anaknya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Carter

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap