Quarterlife-Crisis: Berdamai dengan Emosi Negatif

Quarterlife-Crisis: Berdamai dengan Emosi Negatif 1

Halo teman-teman di manapun kalian berada! Apapun yang sedang menerpa kalian saat ini, saya harap kalian dapat melaluinya dan segera menemukan kebahagiaan.

Saya ingin sedikit berbagi cerita mengenai salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya. Terutama pengalaman tentang kecemasan, distress, takut, panik, dan hal negatif lainnya yang menyelimuti saya ketika memikirkan masa depan. Kekhawatiran terhadap masa depan saya rasa merupakan hal wajar dan mungkin hampir semua orang merasakannya. Terutama bagi kita yang tengah berada di persimpangan. Apakah ada di antara kalian yang tengah mengalami hal tersebut saat ini? Saya harap Anda dapat membaca tulisan ini dan mendapatkan sudut pandang baru.

Tahukah kalian mengenai Quarterlife Crisis? Saya rasa istilah tersebut tidak lagi asing di tengah-tengah masyarakat zaman sekarang. Istilah tersebut merujuk pada kalian yang berusia 20an dan tengah mengalami kebimbangan karena transisi dari remaja menuju dewasa. Hal ini terjadi karena perubahan peran yang kita alami. Awalnya, semua hal sudah ditentukan, seperti setelah memasuki SD atau SMP kita pasti akan melanjutkannya ke jenjang berikutnya. Kemudian tanggung jawab atas diri kita masih berada di tangan orang tua. Misalnya, kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, dan segala fasilitas lainnya yang menyokong kehidupan kita. Hal-hal wajar yang tanpa kita sadari sebenarnya memberikan rasa aman.

Namun, ketika kita harus memutuskan suatu pilihan dan tidak ada hal yang pasti atau tidak ada jaminan keberhasilan, kita akhirnya mulai khawatir. Misalnya, memutuskan untuk “kuliah jurusan apa yang menjanjikan?”, atau “setelah lulus kita ingin bekerja di mana?”, atau bahkan berpikir “apakah semua hal yang saya lakukan akan membuahkan keberhasilan atau justru kegagalan?” Ketidakpastian dari masa depan menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Pada akhirnya kita terjebak dengan peran kita sebagai “remaja yang harus segera dewasa.”

Di antara kita mungkin sejak dulu dilatih untuk mandiri. Tetapi, ketika tiba masanya, tidak semua hal berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Rupanya menjadi orang dewasa lebih menakutkan dari apa yang kita bayangkan. Pengalaman saya ketika mengalami fase ini adalah saya benar-benar diselimuti emosi negatif yang membuat saya pesimis akan masa depan. Kala itu saya bahkan tidak berpikir untuk melanjutkan hidup dengan sungguh-sungguh. Bukan berarti saya ingin mengakhiri hidup, tapi saya menutup akses antara diri saya dengan lingkungan. Saya bahkan menjauh dari keluarga dan teman-teman saya. Saya menyebutnya sebagai “episode hilangnya cinta.”

Episode hilangnya cinta adalah fase ketika saya benar-benar sensitif dan merasa kesal terhadap berbagai hal. Saya mudah sekali marah terhadap hal-hal kecil. Bahkan jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan, saya akan marah dan melampiaskannya kepada orang lain. Hal ini adalah yang paling tidak menyenangkan karena perubahan sikap ini membuat saya merasa tidak menjadi diri sendiri. Dan yang terburuk adalah ketika saya mulai menyakiti orang-orang yang paling saya sayangi. Alhasil, saya memilih untuk mengisolasi diri. Saya berpikir, bahwa cara tersebut menjadi yang terbaik untuk menghilangkan sedikit “rasa sakit.”

Saya mencoba mencari tahu kondisi dari apa yang saya alami. Saya bertanya-tanya apakah hal tersebut adalah sesuatu yang tidak lazim. Namun, suatu hari saya menemukan artikel di internet mengenai Quarterlife Crisis. Saya mencoba mencaritahu lebih dalam dan membaca berbagai macam artikel lainnya. Kemudian saya mendapati bahwa hal tersebut lumrah dialami terutama bagi masyarakat urban. Tetapi persoalannya adalah bagaimana kita mampu untuk melewati krisis tersebut. Sebab, bila kita terlalu lama dalam kondisi tersebut, kita bisa saja mengalami depresi dan tentunya mempengaruhi kesehatan mental.

Saya pada fase tersebut sebetulnya benar-benar ingin lari. Tapi hati saya sendiri ingin agar saya mampu menghadapi krisis tersebut. Saya mengalami konflik batin dan terus-terusan overthinking. Merasa tidak nyaman dengan kondisi itu, saya memilih untuk mengabaikan semuanya, termasuk perkuliahan, keluaraga, hubungan pertemanan, dan lainnya. Saya hanya melakukan hal-hal destruktif yang membuat saya dapat mengalihkan pikiran. Saya rasa adalah hal wajar jika kita ingin menjauhkan diri dari hal yang tidak menyenangkan.

Meski begitu, setiap kali saya melakukan pelarian, persaan bersalah selalu menghantui. Pada akhirnya tidak ada yang membuat saya benar-benar merasa lebih baik. Saya menyadari bahwa apa yang saya lakuakn adalah tindakan seorang pengecut. Menyadari hal tersebut membuat saya semakin membenci diri sendiri.

Lantas bagaimana saya melalui fase ini?

Saya meyakinkan diri saya bahwa saya boleh kehilangan apapun tapi tidak dengan diri sendiri. Saya belajar untuk menghadapi kenyataan. Tidak langsung menghadapi semuanya sekaligus, tapi sedikit demi sedikit. Hal pertama yang saya lakukan adalah menerima kondisi saya saat ini. Saya menerima semua perasaan, sedih, kecewa, marah, takut, khawatir. Menerima semuanya tanpa syarat apapun termasuk perilaku seorang pengecut yang selama ini saya lakukan. Menerima perasaan tersebut tidak mudah tetapi membuat saya merasa jauh lebih baik ketimbang menolaknya.

Saya belajar bahwa dengan menolak semuanya tidak akan menyelesaikan apapun. Hal itu justru menyakiti diri sendiri. Kemudian untuk pertama kalinya saya belajar menjadi manusia. Saya tahu bahwa perasaan-perasaan negatif adalah hal yang semua manusia miliki. Namun, adakalanya kita menolak melihat dan menerima sisi itu karena rupanya tidak indah sama sekali. Secara tidak sadar mungkin kita menolak untuk menerima keberadaannya.

Langkah awal untuk bangkit adalah penerimaan tanpa syarat. Bagaimana pun buruknya diri kita, bagaimana pun banyaknya kesalahan yang kita lakukan, atau kegagalan yang kita alami, satu-satunya yang dapat menerima keadaan tersebut seutuhnya adalah diri sendri. Kita tidak dapat mengharapkan orang lain menerima atau bahkan memahami kita sebelum kita yang melakukannya.

Kemudian, apakah setelah menerima semua hal itu, rasa kekhawatiran saya terhadap masa depan menghilang? Jawabannya, tidak juga. Semua kecemasan dan ketakutan tetap ada. Namun, setelah menerima kenyataan tersebut, saya merasa jauh lebih santai. Pembelajaran paling berharga yang saya dapatkan adalah sudut pandang baru. Semua yang sebelumnya saya sebutkan sebagai permasalahan, dapat dilihat sebagai tantangan. Justru karena kita masih muda, kita punya “hak istimewa untuk gagal.” Kita mempunyai banyak peluang untuk mencoba berbagai hal baru.

Sebagai tambahan informasi untuk teman-teman yang ingin mengetahui lebih banyak informasi mengenai Quarterlife Crisis, saya menyarankan membaca buku di antaranya Quarterlife Crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties oleh Alexandra Robbins dan Abby Wilner dan Get it Together: A guide to surviving your quarterlife crisis oleh Damian Barr.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

aylenasensei