Rabu Kelabu Di Satu Tahun Ku


Rabu Kelabu Di Satu Tahun Ku 1

Sejak itu pula dia merasa kedewasaan sudah tumbuh mengakar dalam dirinya berkat keadaan yang jauh dari kedua orang tua dan keluarga. Merasa sangat beruntung sebab semua yang diinginkannya terpenuhi dengan sangat baik. Dan itulah aku, aku yang selalu merasa dunia ini sangat baik dan adil bagi hidupku. Namun pandemic yang tiba-tiba terjadi, mengetuk hatinya yang batu, membuka matanya yang selama ini buta, dan membungkam mulut bijaknya dengan keadaan sebenarnya.

Rabu, didalam kamar nan redup disebuah sudut tempat tidur, seorang gadis belia berumur 21 tahun menangisi keadaan keluarganya. Seorang gadis perantau yang sejak tamat sekolah dasarnya sudah berkelana, menjajaki sekolah-sekolah terbaik di negerinya, untuk menemukan jalan menuju kesuksesannya

Satu tahun pandemic berdrama di negeri ini, satu tahun itu juga aku bersama dengan keadaan yang nyatanya tidak pernah baik-baik saja. Role Model kehidupan yang aku jadikan panutan dengan pasangan masa depanku kelak seketika hilang dan berganti dengan kehidupan yang sangat aku benci. Ya aku sangat benci dan merasa seperti menjilat air ludah sendiri. Aku yang selalu berbangga dengan ketentraman keluargaku di depan teman-teman ku yang lain, seketika rapuh dan ingin mengunci rapat-rapat mulut ini agar tidak mengeluarkan pernyataan bodoh lagi. Pasalnya selama lebih kurang 9 tahun setelah aku tamat sekolah dasar, dunia yang ku miliki hanya sebuah rekayasa semata. Sebuah perjuangan yang hebat dari seorang ibu yang terus bertahan demi sang anak dengan lelaki emosional tak lain tak bukan adalah ayah ku.

Mendekam dirumah mewah dengan fasilitas lengkap dan tidak kekurangan  uang  ternyata belum bisa membeli hangatnya kebahagiaan sebuah keluarga. Satuhtahun aku dirumah yang tiap hari ku temui hanya pertengkaran sengit dari seorang lelaki emosional dengan sosok wanita tegar yaitu ibuku. Aku merasakan hidup yang tertekan, aku takut kehilangan salah satu dari mereka, namun keadaan terus memaksa. Bukan melihat sejauh mana mampu bertahan, namun Kesehatan mental sudah sangat buruk dirumah ini.

Aku sendiri setiap terjadi pertengkaran hanya bisa menangis dan merutuki diri sendiri, mengapa aku hadir. Ibuku bertahan hanya dengan satu alasan yaitu agar pendidikan ku dapat selesai dengan baik dengan sokongan finansial dari ayah ku. Ya hanya demi uang, jika tidak sudah pasti sejak bertahun-tahun yang lalu mereka memilih atap yang berbeda. Aku memang tak tau diuntung hingga memilih perguruan tinggi swasta yang biaya semesterannya saja dapat membeli sebuah motor secara cash. Sungguh aku menyesal, menyesal dengan semua yang telah ku putuskan. Jika saja dulu aku seperti teman-teman lainnya yang tidak merasa diri ini paling hebat dengan bersekolah disekolah unggulan kota ini, tentu saja semua mungkin akan berbeda. Lantas apakah aku durhaka? Tuhan maafkan aku.

Sedari kecil memang aku seperti tidak memiliki ikatan batin dengan ayahku, walaupun dia adalah ayah kandungku. Namun diri ini tak bisa menerimanya, aku seperti hanya memiliki satu orang tua tunggal yaitu ibuku yang selalu sedia dengan mesin atmnya yaitu ayahku yang gila kerja. Jika orang beranggapan bahwa anak perempuan pasti akan dekat dengan ayahnya, itu tidak aku temukan walaupun aku sangat berharap bisa mendapat kasih saying dan perhatian seorang ayah secara intens. Saat diriku sudah mulai dewasa aku menyadari betapa rumitnya rumah tangga itu. Dampak kejadian yang aku rekam selama satu tahun dalam ingatan ini membuat aku menjadi takut, takut dengan dunia luar yang akan tahu keadaan ku, takut untuk membuka hati dan menerima orang baru, hingga membuat aku mati rasa terhadap semua hal terkecuali tangisan ibuku.

Aku mengagumi sosok ibuku, walaupun hatinya pasti hancur dengan sikap ayahku tetapi tak pernah sedetikpun menunjukkan didepanku, sellau berkata semua baik-baik saja dan itu adalah kesalahannya. Jelas-jelas tidak, itu bukan kesalahan ibuku, itu adalah emosi ayahku yang tidak tersampaikan kepada orang yang dituju namun diluapkan dan dihempaskan kepada orang-orang rumah. Hari ke hari semakin terasa hitam legam mencekam, aku sendiri berpikir alangkah indah jika tidak berada lagi di dunia ini. Namun bayangan ibuku yang makin hari semakin tersiksa batinnya tak dapat ku biarkan sendiri. Hingga hari ini, Rabu, dimana ibuku mengambil  keputusan terbesar dalam hidupnya. Memberanikan diri untuk keluar dari rumah mewah itu, meninggalkan semua kesenangan dan kemudahan yang didapat, demi menyelamatkan Kesehatan mental ku, tentu juga untuk menyelamatkan mentalnya walaupun akan berakibat menjadi beban karena atm berjalannya telah hilang. Ya ibuku dan ayahku memilih berpisah didepan mataku, seisi rumah hancur berantakan karena pertengkaran hebat itu. Lagi-lagi aku tak berdaya untuk menghadapi ini.

Aku dan ibuku kembali ke kota asal ibuku, kerumah peninggalan almarhumah nenekku yang juga seorang wanita Tangguh, sangat Tangguh hingga harus menghidupi ke 12 anaknya seorang diri karena cerai mati yang memisahkannya dengan cinta abadinya. Mungkin ibuku dulu berharap akan menemukan kasih saying seorang lelaki ataupun bapaknya dari sosok suami yang dipilihnya untuk menjadi imam. Namun kini itu semua hanya sebatas angan saja, dan aku juga mengalami hal yang sama saat ini, kehilangan kasih saying seorang ayah sedari kecil walaupun beliau masih hadir memadati dunia ini.

Ibuku menangis ketika memasuki rumah peninggalan nenek, walaupun tidak sebesar rumahku sebelumnya, tetapi ini adalah tempat ternyaman yang pernah aku temukan. Aku selalu ingat setiap kali libur sekolah ataupun lebaran pasti menangis dan meminta dipindahkan ke sini aja. Foto-fota yang terpajang didinding seakan menyambut hangat kedatangan kami, memberikan senyum terbaik mereka dan berharap aku dapat memeluk mereka satu persatu. Ya kehidupan baruku dimulai dengan cara hidup yang berbeda, walaupun aku sudah terbiasa mandiri, namun itu terbatas hanya untukku. Aku merasa bersalah telah membuat hidup ibuku seperti ini, namun ibu selalu berkata bahwa aku adalah harta paling berharga satu-satunya yang ia miliki saat ini, dan rasanya aku ingin menyusul nenek saja karena tidak sanggup mendengarnya. Ya, begitulah rabuku yang paling berkesan, rabu paling kelabu yang pernah aku rasa. Aku sangat berterimakasih kepada pandemic yang terjadi, karena berhasil membungkam semua rasa ku, semua yang didunia ini fana adanya. Namun kasih seorang ibu tak terukur adanya. Doakan aku dan ibu agar dapat kuat melanjutkan kehidupan ini. Salam dari aku, sang beban.

Rabu Kelabu Di Satu Tahun Ku 3


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Audri Chaira Fadila

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap