Ragam Argumen Sakti Dari Males Nyetrika


Ragam Argumen Sakti Dari Males Nyetrika 1

Menyetrika pakaian merupakan kegiatan merapikan sandangan dengan menggunakan alat bantu yang berupa setrika. Kegiatan ini sangat-sangat familiar dilakukan oleh kebanyakan orang, terkecuali bila anda masih di bawah umur atau tinggal jauh dari yang namanya peradaban. Kegiatan ini telah menjadi kegiatan rutin dan tak bisa dipisahkan dengan kegiatan cuci mencuci, Di mana pakaian kusut setelah dicuci kemudian dirapikan kembali dengan menyetrikanya.

Menyetrika pakaian telah menjadi kegiatan yang sangat familiar dikalangan masyarakat tidaklah serta-merta menjadikan kegiatan ini dapat lolos dari pergolakan batin, berupa rasa malas. Padahal menyetrika pakaian tidaklah memakan waktu terlalu banyak, bila dilakukan secara rutin, ditambah lagi menyetrika pakaian juga dapat menghemat pengeluaran untuk laundry. Walaupun kita tahu segala keuntungan yang didapat dari menyetrika pakaian, akan tetapi pada kenyatannya kita sering tunduk kepada rasa malas dengan segala argument saktinya.

Di sini saya akan membeberkan argument-argumen sakti yang sering dijadikan sebagai pembenaran dari malasnya menyetrika pakaian. Alasan yang pertama adalah memakan cukup banyak waktu. Disadari atau tidak, salah satu alasan dari malasnya menyetrika pakaian adalah memakan cukup banyak waktu. Pada kenyataannya kita sendiri yang membuat hal itu terjadi. Hal tersebut bisa terjadi karena seringnya menunda-nunda serta tidak dilakukan secara rutin, alhasil tumpukan pakaian kering sehabis dicuci menjadi menumpuk dan menggunung. Padahal kalau dirutinkan tumpukan pakaian tidak akan separah itu. Jadi alasan memakan cukup banyak waktu tidaklah falid lagi.

Dari hal tersebut dapat kita sadari bahwasanya menunda suatu hal akan berdampak pada hal lainnya. Seperti halnya domino, di saat salah satu keping ambruk maka kepingan lain akan ambruk juga. Begitu juga dengan suatu kegiatan, bilamana salah satu kegiatan terdapat penyelewengan maka kegiatan selanjutnya akan mendapatkan dampak dari kegiatan sebelumnya.

Sedangkan argument-argumen sakti yang kedua adalah Ribet. Sering kali kita menggunakan “ribet” sebagai pembenaran dari rasa malas. Padahal menyetrika pakaian layaknya kegiatan biasa, kan tinggal colok setrika lalu usap pakaian yang kusut, cuma gitu aja. Beda dengan jaman dulu, menyetrika harus bakar arang terlebih dahulu karena masih pakai setrika arang, tidak ada pengaturan suhu seperti setrika jaman sekarang. Beda dengan setrika listrik sekarang, tinggal di putar-puter, atur suhu sana-sani langsung bisa dipakai.

Kalau memakai setrika arang harus hati-hati dan bersiap dengan air, karena di saat setrika arang terlalu panas bisa jadi pakaian akan bolong kepanasan, maka dari itu diperlukan air untuk menurunkan suhunya. Bagaimana ribet kan?, maka dari itu bersyukur merupakan cara terbaik untuk saat ini. Dengan adanya kemajuan teknologi membuat menyetrika pakaian menjadi gampang, tidak ribet, semakin aman dan tidak ada rasa takut lagi dengan pakaian bolong seperti kejadian yang ada di sitkom-sitkom.

Untuk argument sakti yang terakhir adalah lupa. Lupa pada dasarnya merupakan suatu alasan bagai pedang bermata dua. Di sisi lain mendapatkan kewajaran, akan tetapi di sisi lainnya menjadikannya juga kurang ajar. Sebenarnya bisa saja berasalan lupa kalau satu dua kali saja, akan tetapi kalau terus-terusan tandanya anda saja yang malas. Kagak usah pakek alesan lupa segala, emang elu aja yang males. Elu kagak kasian napa?, yang benar-benar kelupaan menjadi tercoreng namanya gara-gara alasan lupa lu. Okey, kalau ngekos sendiri, dan lu bertanggung jawab dengan diri lu sendiri. Tapi kalau anda masih di rumah bersama orang tua, sudah gede dan sudah j*mbutan pula masih seperti itu, berarti anda benar-benar menambah kerepotan keluarga. Liat tuh gantungan baju udah full gara-gara baju lu yang enggak pernah kesetrika. Waduhh kenapa saya jadi emosi sendiri.

Ya sudah lah, cukup itu saja ragam variasi alasan dari malas menyetrika baju. Lebih cepat saya undur diri, lebih cepat juga saya menenagkan diri.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Abdan

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap