Refleksi Hari Bipolar Sedunia: Dengarkanlah Suara-suara Mereka Tanpa Penghakiman


Refleksi Hari Bipolar Sedunia: Dengarkanlah Suara-suara Mereka Tanpa Penghakiman 1

Tanggal 30 Maret kemarin merupakan Hari Bipolar Sedunia. Tujuan diperingatinya hari tersebut adalah untuk menyadarkan orang-orang di seluruh dunia akan gangguan bipolar (bipolar disorder), mendorong diskusi yang terbuka dan membangun kepekaan terhadap mereka yang didiagnosis sebagai pengidap bipolar. 

Bipolar sendiri adalah salah satu gangguan mental yang ditandai dengan perubahan mood secara ekstrem. Hal ini berbeda dengan orang yang suasana hatinya suka berubah-ubah secara wajar. Orang dengan bipolar bisa mengalami depresi yang menyebabkan mereka bersedih sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. 

Kesedihan yang dialami pun bukan kesedihan biasa melainkan depresi berat, merasa kehilangan energi, kecenderungan ingin mengisolasi diri bahkan timbul keinginan untuk mengakhiri hidup. 

Di waktu yang lain, mereka juga bisa merasakan kebahagiaan yang meledak-ledak. Fase inilah yang dinamakan episode manik. 

Menurut dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, rasa bahagia ini pun bukan rasa bahagia yang wajar melainkan lebih tepat disebut grandiose, yaitu merasa lebih besar dari dirinya. Mereka juga kerap bersikap impulsif saat mengalami episode manik.  Namun, keadaan ini bisa jadi tidak berlangsung lama sehingga mereka akan kembali lagi ke keadaan depresi. 

Gangguan bipolar merupakan gangguan mental berat yang prevalensinya mencapai 1%-2% dan merupakan penyebab disablitas terbesar ke-6 di dunia. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2016 tercatat sebanyak 60 juta jiwa merupakan pengidap bipolar. 

Sementara di Indonesia, seperti yang dilansir oleh Bipolar Care Indonesia (BCI) dalam laman situsnya, menyebutkan bahwa prevalensi penderita bipolar jumlahnya bervariasi, antara satu hingga empat persen dari populasi. 

Stigma Negatif yang Diterima Oleh Penderita Bipolar

Gangguan bipolar bukanlah penyakit menular. Namun, sebagaimana gangguan mental lainnya, penderita bipolar kerap menerima stigma negatif dari lingkungan. Mulai dari dicap gila, berkepribadian ganda hingga dianggap kurang beriman dan jauh dari agama serta Tuhan. 

Hal inilah yang dapat menyebabkan mereka takut memeriksakan dirinya ke profesional. Mereka takut akan dijauhi dan dikucilkan jika orang-orang sampai tahu kondisi kesehatan mentalnya. Mereka takut akan dianggap sebagai aib yang membebani keluarga dan masyarakat di sekitarnya. 

Jika hal tersebut terus dibiarkan, kondisi mereka akan memburuk dan bukan mustahil kalau suatu saat mereka akan bunuh diri karena sudah tidak kuat lagi menanggung beban yang demikian berat. Padahal dengan memperoleh penanganan yang baik dan tepat, penderita bipolar bisa diselamatkan. 

Dukungan Moral Bagi Penderita Gangguan Bipolar 

Gangguan bipolar membuat penderitanya mengalami beban psikis yang berat dan tidak nyaman. Sekali pun mereka telah mendapatkan penanganan dari tenaga profesional, termasuk terapi dan anjuran untuk mengonsumsi obat, mereka tetap butuh dukungan moral dari orang-orang terdekatnya, terutama keluarga. 

Mereka butuh didampingi dalam menjalani setiap proses pengobatan agar mereka tidak merasa berjuang sendiri. Kita juga bisa membantu mereka dengan menjadi pendengar yang baik jika mereka bercerita tentang kondisi sulit yang dialaminya. Biarkan saja mereka menumpahkan apa yang ingin mereka tumpahkan dan kita tidak perlu bersikap sok tahu apalagi menghakiminya. 

Dengarkanlah suara-suara mereka dengan hati nurani agar kita tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Buatlah mereka merasa nyaman dan diterima seburuk dan serapuh apapun kondisi mereka. 

Kita memang tidak wajib menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Namun dengan membuka mata, telinga dan hati kita untuk mendengarkan serta memahami suara-suara mereka, setidaknya mereka tidak merasa kesepian, bosan dan lelah dalam berjuang mencapai kesembuhan. 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Luna Septalisa

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap