Resep Anti insecure ala Dalai Lama


Resep Anti insecure ala Dalai Lama 1

Jumlah orang-orang yang terinfeksi insekyuritas pada hari-hari ini mencapai kurva puncaknya. Sepertinya semua orang mengalaminya tak peduli tua atau muda, pengangguran atau sudah bekerja. Mungkin saja presiden juga mengalaminya. Pada kenyataannya ditilik dari perspektif psikologi, insyekur dapat menjangkiti siapa saja.

Yang Mulia Dalai Lama barangkali merupakan sosok yang paling tepat dijadikan contoh tentang bagaimana memanfaatkan kehidupan semaksimal mungkin dengan meminimalkan insekyuritas. Beliau yang merupakan pemimpin tertinggi Tibet dalam agama dan politik, telah menulis sekitar 110 buku yang di antaranya berisi bantuan bagi siapa untuk meraih kedamaian hidup. Dalam beberapa karyanya, beliau membahas bagaimana agar seseorang dapat meraih kebahagiaan sejati yang bebas dari rasa tidak aman.

Dari kuil pengasingannya di Dharamsala, India, Dalai Lama telah menciptakan resep anti insekyur untuk siapa saja yang masih dihantui perasaan terkutuk tersebut.

Dalam buku Bijak ala Dalai Lama karya Diyan Yulianto, dijelaskan secara lengkap resep tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Meneguk secangkir perenungan

sumber: unsplash.com/Jesse Bowser
sumber: unsplash.com/Jesse Bowser

Dalam bahasa lain, muhasabah diri, atau bisa juga disamakan dengan meditasi. Dalam proses ini, kita belajar merasakan ketenangan, mencoba melihat lebih dekat ke dalam diri sendiri, mendengarkan suara hati, yang mana hal tersebut berguna untuk mengenali siapa diri ini dan untuk apa ia lahir. Dengan begitu, kita akan memikirkan manfaat apa saja yang bisa kita hasilkan untuk kehidupan alih-alih merutukinya.

Latihan ini juga akan memandu kita tidak terburu-buru membuat penilaian berdasarkan satu sisi saja. Misalnya, manakala kita mengalami sebuah ketidakberhasilan, kita bisa membelokkan pikiran untuk hanya memandang kegagalan tersebut, menjadi pandangan bahwa kegagalan adalah media belajar untuk memperbaiki diri.

2. Mengolah syukur tanpa kendur

sumber: unsplash.com/Courtney Hedger
sumber: unsplash.com/Courtney Hedger

Kehidupan merupakan anugerah paling langka bagi manusia, maka mensyukuri setiap detiknya adalah pilihan paling bijak. Caranya ialah dengan memanfaatkan waktu secara optimal untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan. Tentunya, stuck dalam insekyuritas bukanlah hal yang bermanfaat, bukan?

“Jadi, mari kita menggunakan waktu kita sebaik mungkin. Saya meyakini bahwa beginilah cara terbaik memanfaatkan waktu: jika engkau bisa, berbuat baiklah kepada orang lain, kepada makhluk hidup lain. tapi jika tidak bisa, setidaknya janganlah engkau menyakiti mereka,” kata beliau.

“Kita juga lahir dengan berkat masing-masing, gunakan berkat itu untuk membantu sesama,” tambahnya.

Insekyur bisa muncul karena kita terlalu fokus pada orang lain dan melupakan diri sendiri. Maka mulai saat ini, cobalah untuk lebih perhatian kepada diri sendiri dulu. Tanyakan apa yang ia perlukan, bantu untuk penuhi. Jika kita telah mampu bergerak untuk menolong diri sendiri, maka menolong orang lain pun akan terasa lebih mudah.

3. Tidak lelah menempa diri

sumber: unsplash.com/Toa Heftiba
sumber: unsplash.com/Toa Heftiba

Setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Jika pun ada, maka kesempurnaannya itu adalah tumpukan ketidaksempurnaan yang dipoles terus menerus. Keduanya berfungsi agar kita tidak jalan di tempat.

Dalam hal ini, Yang Mulia Dalai Lama memberikan teladan yang amat bijak. Saat negerinya dicaplok Tiongkok hingga menyebabkan beliau terusir, ia tidak lantas menyerah begitu saja atau balik menyerang musuh. Justru ia memanfaatkan masa-masa itu untuk memperkuat diplomasi internasional dan menyiapkan Tibet menjadi negara merdeka. Tak sekalipun beliau mengutuk Tiongkok, fokusnya adalah pada negerinya sendiri.

Ngomong-ngomong, beliau mengungsi ke India sejak berkecamuknya Pemberontakan Rakyat Tibet melawan pendudukan Tiongkok di tahun 1959. Jika dihitung sampai sekarang, beliau telah meninggalkan kampung halamannya selama 60 tahun.

Barangkali demikianlah gambaran ideal orang yang bijaksana, ia tak memiliki waktu untuk nyinyir pada orang lain, sebab sibuk untuk memperbaiki dirinya sendiri.

4. Berpikiran solutif

sumber: unsplash.com/Olav Ahrens Rotne
sumber: unsplash.com/Olav Ahrens Rotne

Saat masalah datang, kebanyakan kita menjadi malas dan cenderung berhenti untuk mencoba lagi. Tanpa sadar, kebiasaan itu memang lebih disukai otak manusia daripada harus berpayah-payah mencari solusi. Jika hal tersebut telah menjadi habit, maka mencari jalan keluar seolah menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan.

Padahal, seharusnya kita mengembangkan mekanisme berpikir solutif ini agar otak tidak tumpul. Fokuslah pada solusi, bukan masalah. Karena masalah selalu datang, maka cara terbaik men-skip-nya dari hidup kita adalah menyelesaikannya.

Yang Mulia Dalai Lama tidak diam saja saat dirinya harus terusir dari negeri sendiri. Beliau tetap bisa menjalankan kendali pemerintahan dan kehidupan beragama negerinya biarpun berada di luar negeri. Beliau memanfaatkan keberadaannya di India untuk mengembangkan diri dalam berbagai disiplin ilmu demi mendapat solusi-solusi dari berbagai permasalahan negerinya.

Dalai Lama dalam pertemuan online dengan para saintis. sumber: dalailama.com
Dalai Lama dalam pertemuan online dengan para saintis. sumber: dalailama.com

Bahkan dalam era digital saat sekarang ini, beliau lebih mudah menjangkau seluruh dunia melalui teknologi. Hanya duduk dari kuilnya, beliau bisa mengajar dan mengikuti dialog intelektual hingga lintas benua.

5. Berusaha lebih dekat dengan alam

Jiwa manusia sebenarnya menyukai segala sesuatu yang alami. Oleh sebab itu, banyak orang hobi berwisata ke alam bebas, apalagi bagi orang yang tinggal di perkotaan. Alam pedesaan, pegunungan maupun lepas pantai adalah oase yang amat menyegarkan bagi jiwa-jiwa kehausan. Itulah sebabnya para pegiat spiritual memilih daerah cenderung terpencil, kawasan hutan atau pucuk gunung untuk mencari ketenangan.

sumber: unsplash.com/Yevhenii Dubrovskyi
sumber: unsplash.com/Yevhenii Dubrovskyi

Alam bebas menawarkan obat untuk berbagai penyakit fisik maupun non-fisik, yang sebetulnya semua berawal dari pikiran. Dengan melihat dan melebur bersama alam, akan didapatkan ketenangan pikiran yang mampu mempengaruhi tindakan. Segala macam wabah pikiran, termasuk insekyur, akan dapat tereduksi secara signifikan.

6. Membiasakan diri hidup secukupnya

sumber: unsplash.com/Artem Beliaikin
sumber: unsplash.com/Artem Beliaikin

Penyebab insekyur yang paling banyak ditemukan berasal dari ketidakpuasan akan hidup. Banyak orang merasa tidak cukup kaya biarpun telah berpenghasilan, padahal tetangganya ada yang sama sekali menganggur. Banyak yang merasa jelek setelah lihat postingan selebgram, sementara di surat kabar ada berita seorang anak perempuan usia SD memutuskan berhenti sekolah karena tidak mampu beli kuota untuk belajar daring. 

Itulah, kecemasan dan ketidaknyamanan yang sering kita jumpai. Kita terlalu banyak menonton hidup orang lain sampai lupa untuk menata hidup seseorang yang paling penting di dunia ini, yaitu diri kita sendiri. Hiduplah secukupnya, tapi bukan berarti seadanya. Puaslah dengan apa yang ada, namun jangan hentikan impian kita.

Demikian resep anti insekyur dari tokoh paling masyhur di Tibet, Yang Mulia Dalai Lama. Semoga kita semua bisa mengamalkan dan memperoleh manfaatnya, menjadikan kita pribadi bebas insekyuritas dan hidup dengan hati merdeka.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Athi Suqya Rohmah

   

Seeker of Cosmic Revolution IG: @khurun.ngin

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap