Review Antologi Cerpen : Goresan Titik Nadir – Kumpulan Kisah Takdir

Review Antologi Cerpen : Goresan Titik Nadir – Kumpulan Kisah Takdir 1

Hai! Kali ini saya akan mereview antologi cerpen karya Riska Iriyanti dan Ummul Maghfiroh. Sebelumnya, izinkan saya memberikan informasi umum terkait buku ini ya, teman-teman.

Review Antologi Cerpen : Goresan Titik Nadir – Kumpulan Kisah Takdir 3
Judul Buku Goresan Titik Nadir
Pengarang Riska Iriyanti dan Ummul Maghfiroh
Penerbit CV Nakomu
Tahun Terbit 2021

Blurb

Proses cinta sejati tidak selalu mudah

Mungkin sebagian dari kita terbuai dengan akhir kisah cinta yang bahagia di drama, kemudian berharap bahwa kebahagiaan itu bisa menulari kita saat ini juga. Namun… kita disadarkan dengan inilah kehidupan nyata. Tidak semuanya indah seperti cerita karangan kepala kita.

Semua tokoh dalam antologi ini memiliki kisahnya masing-masing. Mengajak kita untuk duduk dengan tenang di depan panggung sambil menonton kisah mereka yang sudah ditakdirkan pengarang.

Salah satunya Nabastala dan Senja. Hangatnya awal cerita ketika pertunjukkan dibuka saat membaca justru menjadi awal babak bagi pengarang untuk membuka babak baru yang membuat bingung pembaca dan bertanya ada apa? 

Atau saat kita turut senang melihat Amanda yang menemukan Keenan yang bisa menerima dirinya apa adanya dan dijungkirbalikkan oleh babak lain yang membuat bertanya kenapa harus begitu?

Saya tak bisa menceritakan kisah mereka satu per satu di sini, karena saya hanyalah penonton yang bertugas untuk menyaksikan. Kisah ini sudah ditulis oleh pengarang mereka, dan sudah menjadi tugas mereka untuk menceritakannya kepada pembaca melalui buku ini.

Review

Awalnya saat melihat sampul buku dan blurb yang ada di bagian belakang buku, saya langsung mengambil kesimpulan kalau buku ini akan berisikan cerita-cerita sedih atau mungkin memilukan. Ternyata pandangan saya keliru. Saya melupakan fakta bahwa ada dua penulis di dalam buku ini yang memiliki gaya penulisan yang berbeda.

Cerpen-cerpen yang ditulis oleh Riska terasa lebih ringan dan mudah untuk diterima oleh anak muda, karena gaya penulisannya yang ‘kekinian’. Sampai-sampai saya merasa tua karena merasa ih kok gue gak tau kalimat ini ya? Selain itu, penulis selalu menuliskan pesan yang ingin disampaikan pada akhir cerita. Sehingga pembaca bisa lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Sementara cerpen-cerpen yang ditulis oleh Maghfiroh terasa mendalam karena kata-kata yang digunakan sangat puitis. Tak jarang, dari satu kalimat ke kalimat yang lain terasa berirama saat dibaca. Penulis cukup menekankan penggambaran terhadap perasaan para tokoh, sehingga pembaca bisa menyelam lebih dalam pada pementasan para tokoh oleh penulis.

Penempatan cerpen yang berselang-seling antara Riska dan Maghfiroh juga cukup membuat naik-turun. Dari yang awalnya berakhir sedih, kemudian berakhir bahagia, lalu sedih kembali dan bahagia lagi. Sampai akhirnya ditutup dengan sebuah perpisahan yang harus kita relakan.

Secara keseluruhan, saya suka dengan antologi ini dan memberi bintang 4,5/5. Antologi ini cocok banget untuk dibaca sekali duduk karena tidak terlalu tebal, serta menggunakan font yang ramah di mata. Buku ini juga bisa menjadi alternatif disaat teman-teman sedang mengalami reading slump atau hanya memiliki waktu singkat untuk membaca buku.

Akhir kata, saya berikan satu quotes yang cocok banget bagi yang ditinggal pas lagi sayang-sayangnya hehehe

Aku akan selalu ingat, pernah ada hati yang mencintaiku dengan tulus. Menyayangiku dengan tabah dan merindukanku tanpa lelah.”

Sampai jumpa ditulisan berikutnya!

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Carter