Review Buku “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur” karya Muhidin M Dahlan

Review Buku "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur" karya Muhidin M Dahlan 1

“Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelajur : Memoar Luka Seorang Muslimah”, sebuah judul buku yang sangat berani. Seperti beraninya penulis menuliskan kisah di dalamnya, yang menurutnya diambil dari kisah nyata. Kisah yang membuat saya, seorang Muslimin, merasa sesak napas. Merasa dada ini mendadak menjadi berat.

Ada rasa marah, kesal, sekaligus tidak percaya bahwa kisah ini nyata terjadi. Sebagai seorang laki-laki sekaligus muslim yang sedang duduk dengan nyaman dalam status quo, saya merasa buku ini sangat kurang ajar. Ia menelanjangi kebobrokan kondisi sosial kita yang selama ini kita kira baik-baik saja. Entah tabirnya atau mata kita yang dibuka olehnya.

Ia membuka semua hal, semua pihak yang selama ini selalu terlihat baik, ternyata di dalamnya terdapat kebusukan yang disembunyikan.

Buku ini, menceritakan perjalanan hidup seorang muslimah yang pada mulanya tidak terlalu peduli dengan agama. Lalu, dengan perantara seorang teman, ia menjadi dekat dengan agama, ingin belajar lebih banyak ilmu agama, hingga ingin melaksanakan semua perintah agama. Bahkan, dia sampai menjalankan laku spiritual tasawuf yang sangat jarang bisa dilakukan orang lain.

Namun, dalam perjalanan hidupnya, dalam perjalanan menjadi manusia yang beragama dengan seutuhnya, ia dipertemukan dengan orang-orang yang terlihat sangat agamis dan memiliki tekad untuk memperjuangkan agama, bukan hanya untuk diri sendiri namun untuk masyarakat sebangsa. Tentu hal ini menarik perhatiannya. Dalam semangat keagamaan yang menggebu-gebu sehingga tidak dapat nerfikir jernih, ia bergabung dengan kelompok tersebut. Ia berharap, dengan bergabung dengan kelompok tersebut dapat membuatnya menjadianusia yang semakin taat beragama.

Harapannya sirna ketika bukan ketaatan yang ia dapat, melainkan kemunduran. Ia kecewa terhadap kelompok ini, ternyata mereka hanya menggunakan jubah agama untuk menutupi kebobrokan mereka. Dalam kondisi kecewa dan putus asa, ia menjadi manusia yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Ia yang dulu taat agama, kini enggan untuk beribadah. Ia yang dulu menghindari maksiat, kini hidup dalam dunia yang penuh dengan kemaksiatan. Namun, dalam kehidupannya yang sekarang, ia melihat apa yang tidak dilihat orang lain.

Dari sinilah, kita diajak untuk melihat yang ada di sekitar kita dengan lebih dalam, karena apa yang tampak di luar bisa jadi sangat berbeda dengan yang ada di dalam. Di luar, orang bisa menggunakan tabir apapun -termasuk agama- untuk memperindah citranya, namun, kondisi sesungguhnya tidak melulu sama dengan apa yang diperlihatkan. Misalnya, ia seorang haji, tapi ternyata masih melakukan perbuatan keji. Bicara tentang agama dengan menggebu-gebu, tapi tindakannya -yang tidak diketahui orang- jauh dari nilai-nilai agama.

Sejak awal diterbitkan, buku ini memicu kontroversi. Dari judulnya saja sudah cukup membuat banyak orang kebakaran jenggot, apalagi isinya. Bahkan, setelah buku ini beredar selama bertahun-tahun, masih saja ada yang marah setelah saya unggah video review-nya di youtube.

Menurut saya sendiri, buku ini justru sangat layak dibaca untuk bahan merenung. Setelah membaca buku ini, saya jadi berfikir, sudah benar-benar beragama? jangan-jangan, selama ini saya hanya beragama di luarnya saja.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Diat Anugrah