Review Chitose Is In The Ramune Bottle, Kisah Saku Chitose Hadapi Teror Penguntit

Egi Anwar

Review Chitose Is In The Ramune Bottle, Kisah Saku Chitose Hadapi Teror Penguntit

Umumnya dalam sebuah novel atau anime dengan genre drama remaja sering kali kita disuguhi dengan cerita dari sudut pandang tokoh utama atau karakter yang dikucilkan. Namun dalam novel Chitose is in the Ramune Bottle hal tersebut tak akan kita temui. Chitose mengambil langkah berani dengan menempatkan kita sebagai pembaca untuk berada di dalam kepala Saku Chitose.

Review Lengkap Novel Chitose Is In The Ramune Bottle

Karakter tokoh utama dalam novel ini yaitu Saku Chitose bukanlah seorang penyendiri, melainkan sosok populer di kehidupan sosial sekolah yang tampan, bertubuh atletis dan dikeliling oleh sekelompok teman yang sama-sama mempunyai kekuasaan.

Ulasan novel ini akan membahas mengenai mengapa novel ini bukan hanya berkisah tentang pamer kehidupan “normies” saja melainkan sebuah refleksi yang tajam. Refleksi mengenai apa artinya menjadi pihak yang “benar” khususnya dalam kehidupan masyarakat masa kini yang penuh dengan harapan tinggi.

1. Simbol Ramune

Ada alasan khusus mengapa novel ini menggunakan symbol botol Ramune yang populer di Jepang. Kelereng yang terdapat di dalam botol Ramune hanya bisa bergerak dengan bebas di ruang yang terbatas, suaranya yang gemerincing indah namun terperangkap dalam ruangan. Merupakan sebuah analogi yang sempurna untuk Chitose, karena ia tampak manis dan berkilau seperti halnya soda namun ia harus menjaga “kelereng” atau identitasnya sehingga tetap bisa diterima di jalurnya secara sosial.

2. Siswa yang Tampan dan Populer Namun Tidak Sombong

Meski Chitose dikelilingi oleh karakter wanita cantik namun dinamika yang terbangun dalam cerita novel bukanlah sekedar romansa murahan. Setiap interaksi yang terjadi menjadi satu momen debat intelektual dan emosional yang berisi tentang cara pandang hidup. Novel ini berhasil memberikan satu bukti bahwa orang yang populer sekalipun bisa mempunyai rasa tak aman (insecurity) yang mendalam, hanya mereka lebih pandai untuk tidak menampilkannya ke muka publik.

Chitose mempunyai pandangan yang cukup universal mengenai hierarki sosial di sekolah menengah dan hal tersebut bersifat pragmatis namun sangat positif. Dia sudah menguasai bagaimana cara menyeimbangkan sebuah hubungan yang rumit sekaligus tahu bagaimana cara untuk mengendalikan komunikasi remaja yang kacau dengan sukses. Keterampilan sosial yang dimiliki Chitose menjadikannya sosok tokoh novel yang mempunyai karakter paling mudah untuk dipahami serta bersifat empatik.

3. Proyek Besar Chitose

Chitose yang terkenal dengan kepopulerannya kemudian diberi sebuah tugas atau proyek dari wali kelasnya yaitu untuk membujuk dan meyakinkan seorang siswa yang nakal serta bandel untuk kembali ke sekolah setelah beberapa bulan absen. Pada mulanya, Chitose keberatan dan merasa tugas tersebut sangat menjengkelkan untuk dilakukan terutama setelah mengetahui bahwa siswa tersebut adalah Kenta Yamazaki. Namun dengan cepat kondisi tersebut berubah menjadi sebuah proyek besar yang wajib untuk Chitose selesaikan dengan baik.

Chitose kemudian memberikan bimbingan khusus pada Kenta dan mengajarinya tentang cara untuk menjadi anak yang populer. Novel ini akan menceritakan tentang perjuangan Chitose membujuk Kenta untuk kembali ke sekolah dan kembali mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Namun ternyata Chitose sendiri juga berdebat dengan beban emosional yang ditanggungnya untuk bisa memenuhi harapan dari semua orang yang ada di sekitarnya.

Chitose merasakan adanya kekhawatiran untuk gagal dan jika ada hal-hal yang bisa terjadi di luar kendalinya. Rasa peduli Chitose pada temannya juga sangat tinggi, di mana hal tersebut menjadikannya terlibat secara pribadi dalam perjalanan teman-temannya seperti kehidupan Kenta. Chitose tulus bukan karena untuk menyombongkan pencapaiannya berhasil membujuk Kenta, namun karena dia benar-benar menyukai Kenta dan ingin dia sukses dalam kehidupannya.

4. Debat Ideologis Chitose dan Kenta

Melalui novel ini kita menjadi paham tentang apa yang dirasakan dan bagaimana cara pandang orang yang populer serta orang yang dikucilkan. Dalam novel terjadi debat ideologis antara Kenta yang berpandangan bahwa Chitose mencoba membujuk Kenta kembali ke sekolah hanya untuk meningkatkan reputasi baik yang dimilikinya dan akan segera meninggalkannya begitu usahanya tersebut berhasil. Bagi Kenta, anak-anak yang populer tak akan pernah peduli dengan penderitaan orang lain di sekitar mereka dan mereka tak perlu melakukannya karena sudah mempunyai penampilan yang menarik.

Sedangkan menurut Chitose, kunci dari komunikasi adalah keinginan untuk bisa saling memahami satu sama lain. Seseorang harus mempunyai rasa ingin memahami dan ingin dipahami sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lancar. Usaha yang dilakukan Chitose untuk bisa dengan tulus memahami orang yang ada di sekitarnya dan bisa meredakan situasi yang terasa tidak nyaman juga terasa sangat manusiawi.

5. Estetika dan Gaya Bahasa Novel

Penulis menggunakan gaya bahasa yang bersifat sangat deskriptif serta penuh dengan monolog yang bernilai filosofis. Setiap serinya terassa seperti sebuah perjalanan dan petualangan mental. Pembaca akan disajikan dengan setiap adegan dalam cerita novel, namun sekaligus diajak untuk ikut memahami apa alasan utama dibalik setiap tindakan kecil yang dilakukan oleh Chitose dalam novel.

Novel Chitose is in the Ramune Bottle merupakan sebuah novel ringan yang efektif untuk menantang prasangka yang kita miliki. Novel ini dengan jelas mengajak kita untuk berhenti menghakimi orang lain hanya karena posisi atau kedudukan sosial yang mereka miliki. Serial novel ini menjadi satu novel drama remaja yang paling jujur dan paling berani selama beberapa tahun terakhir ini.

Untuk kamu yang ingin memperluas wawasan dan memperoleh analisis tajam seputar literasi, manga, anime dan tren budaya pop lainnya, maka Digstraksi bisa menjadi referensi utama kamu. Temukan konten literasi berkualitas tinggi yang kamu butuhkan hanya dengan berkunjung ke digstraksi.com.

Frequently Asked Questions

Chitose is in the Ramune Bottle menceritakan tentang kisah apa?

Chitose is in the Ramune Bottle merupakan seri light novel dan anime tentang siswa SMA populer yang bernama Saku Chitose. Saku menjalani kehidupan ganda sebagai siswa populer yang sempurna dan siswa populer yang biasa. Dimana ia berupaya untuk membantu teman sekelasnya untuk kembali ke sekolah sembari bergulat dengan tekanan kehidupan sosial.

Novel Chitose is in the Ramune Bottle termasuk ke dalam genre apa?

Novel Chitose is in the Ramune Bottle termasuk ke dalam genre Harem, Comedy, Romance and School.

Apa yang dimaksud dengan Ramune?

Ramune adalah jenis minuman ringan yang mengandung karbonasi populer di Jepang yang biasanya dinikmati (terkadang hanya tersedia) di musim panas saja. Minuman ini populer di kalangan anak-anak hingga dewasa yang diambil dari kosakata bahasa Inggris yaitu Lemonade.

Mengapa di botol Ramune ada kelereng?

Kelereng yang terdapat di botol Ramune pada mulanya dipakai menjadi segel yang menjaga gelembung pada minuman. Pada saat pertama kali minum Ramune, Kamu mungkin akan sedikit kesulitan karena seringkali kelereng terjatuh ke dalam soda, sehingga harus mencegah kelereng menghalangi aliran saat meminumnya.