Review Dosa di Hutan Terlarang

Review Dosa di Hutan Terlarang 1

Ini adalah buku terbitan BasaBasi pertama yang saya baca, juga karya Ken Hanggara dan kawan-kawan yang baru pertama kali saya nikmati. Didorong oleh rasa penasaran dari blurb yang dengan sengaja dicetak di bagian belakang buku, saya mulai membacanya.

Aku tahu di mana harus membuang tubuh pacarku yang telah mati. Yang muncul di kepalaku adalah hutan, yang dulu hingga kini jadi sarang begal dan siluman. Kupikir tempat itulah paling tepat, karena tidak bakal ada yang menemukan tubuh pacarku sampai beberapa bulan ke depan. Konon juga, di tempat itu ada begitu banyak siluman yang tidak jarang pergi ke jalan raya di luar area hutan untuk sekadar mencari makan. Aku tidak tahu benar-tidaknya soal itu. Lagi pula, itu cuma mitos. Dan yang diriku percaya hanya fakta bahwa tempat itu begitu terpencil dan ditakuti bahkan oleh warga yang tinggal tidak jauh dari hutan.

Cerita horor Ken Hanggara memiliki rasa kekinian, bukan sekadar soal penampakan, suara tawa hantu-hantu, atau bau busuk yang tak jelas asal-usulnya, tetapi lebih dari itu. Horor yang ditulisnya memiliki alasan dan tujuan; bukan hanya untuk menakut-nakuti, tetapi juga menyisakan teror yang membekas di kepala pembaca. Di buku ini juga ada 5 cerpen pemenang audisi naskah Museum Anomali 2, serta cerpen horor karya Edi AH Iyubenu, Yetti A.KA dan Bamby Cahyadi. Sanggupkah Anda bertahan dari teror yang mereka bawa?

Pada awalnya saya tertantang dengan pertanyaan ‘Sanggupkah Anda bertahan dari teror yang mereka bawa?’ karena saya pikir cerita-cerita yang dituliskan akan membuat saya merinding, gelisah, dan kesulitan untuk tidur semalaman. Atau mungkin dihantui oleh bayangan-bayangan yang menyeramkan dari sosok mistis yang diceritakan.

Tapi tidak, saya tak merasakan hal-hal yang saya bayangkan di awal tadi. Namun, bukan berarti karya ini tidak bagus ataupun tidak menarik loh ya.

Ketika menyelam ke dalam satu per satu cerpen yang tersaji, saya merasa hanyut ke dalam dunia absurd yang hanya mampu dijelaskan secara rinci oleh para pengarangnya. Rasanya seperti masuk ke dalam gerbang dunia yang belum pernah saya lihat dan hanya diberi sedikit bocoran tentangnya. 

Saya sibuk berpikir dan menerka-nerka. Seperti saat membaca “Apartemen Malaikat (2)”, saya bertanya-tanya, apa sih yang ada di sumur itu? Ah, kayaknya bukan air deh. Mungkin darah? Tapi ketika melanjutkannya, saya menertawakan diri sendiri. Seharusnya saya tidak berpikir untuk mendahului penulis, harusnya saya menikmati saja ketika membacanya. Namun, secara tidak sadar saya terus melakukannya di setiap cerpen yang saya baca karena sungguh penasaran.

Kadang-kadang saya juga merasa kesal sendiri, sudah hampir setengah bagian dari cerpen saya baca, tapi kok setannya belum muncul juga? Tapi ternyata setan itu sudah menjadi bagian sejak awal cerita dimulai. Saya merasa ditipu oleh penulis dan lagi-lagi menertawakan diri saya sendiri.

Saya sangat menyukai bagaimana para pengarang bisa menghubung-hubungkan antara masalah yang dihadapi oleh para tokoh dengan kejadian mistis yang diceritakan. Meskipun kebanyakan dari ceritanya selalu menyatakan alasan kenapa kejadian itu timbul di akhir cerita dan membuat saya ber-oh ria ketika tiba di akhir cerita. Mungkin di sinilah saya merasa puas, setelah tahu alasan kenapa hal itu terjadi.

Secara keseluruhan, dibandingkan merasa takut akan teror, saya lebih merasa penasaran dan merasakan keseruan petualangan di dunia mistis yang dibangun oleh penulis. Buku ini menjadi salah satu yang berkesan dari buku-buku yang saya baca di tahun 2021 ini dan mendapat bintang 5/5. Akhir kata, selamat membaca dan menikmati keseruannya ya!

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Carter