Rumah Sakit, Sup, dan Pikiran


Rumah Sakit, Sup, dan Pikiran 1

(Alternate Universe of I Wanna Be U/Your Throne on WEBTOON; all characters belong to SAM)


Siang itu, suasana kamar inap bercat dinding salem itu sepi. Hanya bunyi jam dinding yang jarum panjangnya bergerak per detik itu yang menjadi sumber suara; jarum pendeknya yang berada di angka 2 kian menurun menuju angka 3. Terdapat dua individu di dalamnya, namun keduanya saling diam, tidak membuka mulut. Satu makan dengan hikmat, satu diam; hanya menatap sup di overbed table hitam dengan tatapan kosong.

Sang pemuda berambut merah, yang sedang menyantap supnya dengan hikmat di atas tempat tidur, melirik kekasihnya yang duduk di kursi sebelah kasur. Sengaja ia denting-dentingkan sendok ke mangkuk plastik sup. Namun, kekasihnya tetap diam, mata tidak lepas dari sup yang belum ia sentuh.

“Meddie,” panggilnya.

Belum ada jawaban.

“Meddie,”

Belum juga ada jawaban.

Sang pemuda akhirnya menjentikkan jari di depan wajah kekasih; berhasil menarik kekasihnya kembali ke realita. Wanita itu mengerjapkan mata, lalu sigap berdiri.

“Kamu butuh sesuatu?” tanyanya; kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, sedang mencari-cari sesuatu.

“Iya,” jawab pemuda itu. “Aku butuh kamu untuk makan sup kamu. Nanti dingin, nggak enak lagi.”

Perempuan itu diam. Rona merah muda menjalari pipinya. Ia duduk kembali. Tangan kanannya mengambil sendok; menyendokkan sesuap sup ke mulut. Ia pun makan dengan hikmat.

Masih sambil menyantap supnya, netra merah pemuda itu menatap perempuan berambut ungu yang duduk di samping tempat tidur.

“Medeia,” panggilnya tiba-tiba.

“Hm?” respons perempuan yang dipanggil Medeia itu. Matanya tidak lepas dari sup yang ia santap.

“Kamu cantik,” ujarnya.

Tangan Medeia terhenti di udara. Kepalanya tertoleh ke arah kekasihnya. Alisnya tertaut, heran. Namun, bibirnya tidak menyembunyikan senyum. “Kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu?”

Pemuda itu mengangkat bahunya carefree. “No reason. Emang cantik, kok,” jawabnya. “Aku nggak tau berapa lama lagi bisa liat wajah cantik kamu.”

Kali ini, Medeia meletakkan sendoknya. Perhatiannya tertuju penuh kepada pemuda itu sekarang. “Phell, we’ve talked about this,” ia berucap. “Jangan berpikir—”

“Aku nggak berpikir yang aneh-aneh, Meddie,” Phell menyela. “I’m thinking realistically. I could be the first one who will be died, bisa jadi juga kamu.

“Apapun yang terjadi, tetap lanjut hidup, ya? Live for yourself.”

Medeia berbisik pelan, “Pasti,” lalu kembali memusatkan perhatian pada sup di meja.

Percakapan mereka berakhir. Medeia berusaha untuk tidak overthinking; mengenyahkan perasaan sedih yang ia tahan sejak Phell memulai percakapan ini. Bibirnya semakin melengkung ke bawah, bergetar. Namun tetap ia menyuapkan sup ke mulutnya. Tepat setelah supnya masuk, air matanya menetes.

Sebelum Phell bertanya, Medeia cepat-cepat berkata, “Supnya pedas.” Ia melanjutkan, “Terus panas.” Lalu menyibukkan diri mencari tisu, menghindari tatapan Phell.

Namun, Phell tahu bahwa sup Medeia tidak lagi panas, juga tidak pedas.

Phell tahu, bila ia pergi, Medeia pasti akan sedih untuk beberapa waktu. Namun, ia tahu bahwa dia akan baik-baik saja tanpa dirinya. Medeia adalah individu yang kuat. Ia akan melanjutkan hidup dalam waktu yang cepat.

He is grateful because he’s the one who’s disappearing.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sarah

   

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap