Saat Pohon Tersenyum Ikhlas


Saat Pohon Tersenyum Ikhlas 1

Terik matahari menyelinap diantara pepohonan. Jalan menanjak terjal bebatuan. Tari terus berjalan walau kakinya terasa berat untuk melangkah. Sesaat kerlingan matanya mengitari pemandangan disekitar, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Ia menghampiri sebuah pohon yang rindang. Di sana terdapat tempat duduk yang terbuat dari balok-balok kayu yang telah tersusun tepatnya di bawah pohon tersebut.Ia duduk dan menyandarkan bahunya ke pohon, ia beristirahat menghirup udara sejenak melepas lelah.

“Ya Allah apa yang harus aku lakukan?” gumamnya dalam hati.

Matanya begitu sayu, lembut hembusan angin  menyapanya dengan ramah.  Tari  memejamkan matanya,dan merasakan kedamaiaan yang diciptakan oleh sang maha pencipta melalui angin, dan pohon yang menutupinya dari terik matahari. Badannya diam namun hatinya bergetar dalam. Getaran itu karena   kesedihan yang ia pendam dalam hatinya, namun ia belum bisa menceritakan atau bertanya untuk mencari solusi dalam keadaan yang sedang ia rasakan. Tidak lama kemudian Tari mendengar suara dari kejauhan. “Rujak…buah…… rujak……buah…” Suara itu begitu nyaring dan berkali-kali terdengar.

Ia melihat kearah suara itu terdengar, ternyata seorang bapak tua yang sedang memanggul dagangannya. “Seharusnya bapak paruh baya itu sedang beristirahat dirumah! mengapa sudah tua masih saja berjualan?” Tari berpikir penuh perhatian.

Bapak tua itu kemudian duduk disampingnya, menawarkan dagangannya kepada Tari.

“Neng, mau..ru….jak………?” dengan suara yang tersengal. Tari mengingat-ingat uang yang tersisa, sambil membuka tas  tempat ia  biasa menyimpan uang. Setelah diperiksanya, ia hanya menemukan selembar kertas uang dua ribu rupiah. Ia cukup membeli buah melon.                                                                                                                  

Siang ini beberapa anak kecil segera keluar dari rumah, mereka berlari membeli dagangan bapak tua. Tidak mau kalah, ibu mereka pun ikut membeli rujak untuk menyegarkan mata.

Dagangan bapak tua sudah hampir habis. Tari tidak berani untuk bertanya, kenapa bapak tua ini masih  berjualan, karena dengan keadaan kulitnya yang sudah mulai keriput, namun bapak tua itu masih semangat berdagang. Tari menyantap buah melon sambil memperhatikan sembunyi-sembunyi.“Ya Allah angkatlah derajatnya di dunia dan di akhirat serta limpahkanlah rezekinya” Tari sambil berdo’a didalam hatinya.

Tiba-tiba

”Neng, baru pulang sekolah ya? Mengapa tidak langsung pulang kerumah? Nanti orang tuamu khawatir kepadamu. Apa kau sedang menunggu kawanmu?” Bapak tua bertanya kepada Tari.

Sebenarnya  Tari sedang dalam perjalanan pulang,  tetapi keadaan hatinya saat ini sangat sedih. Tari menganggap bapak tua itu seperti gurunya, yang sudah banyak pengalaman dalam kehidupan. Walaupun Tari sedikit gugup, ia berusaha menceritakan. Selama ini Tari merasa kesepian saat di sekolah maupun dirumah teman-teman silih berganti datang dan pergi, mereka selalu ada  saat membutuhkannya, sehingga ia merasa hanya dimanfaatkan saja oleh teman-teman, selama ini Tari belum menemukan teman yang tulus. Mendengar cerita tersebut bapak tua itu tersenyum.

Tari merasa heran.“Apakah aku salah bicara?” berkata perlahan.

“Neng, coba perhatikan pohon disana!” Bapak tua itu menunjuk ke arah pohon Jambu biji yang sedang di petik oleh anak-anak .

Tari memperhatikan pohon Jambu biji tersebut, ia masih berfikir apa maksud bapak tua itu. Nisa semakin ingin tahu.

“Lihatlah pohon Jambu Biji itu! . Ia tidak di siram setiap hari, bahkan jarang di perhatikan oleh orang-orang disekitarnya, apakah ia merasa sedih?” Bapak tua meyakinkan Tari  dengan pertanyaannya.

“Tidak pak”.Tari menggelengkan kepalanya serta mencermati setiap perkataan Bapak tua.

 “Walaupun seperti itu, pohon tetap tumbuh menjulang tinggi terbingkai dedaunan, bunga dan buah. Semua manusia dan hewan dapat memanfaatkan buah, bunga, daun ataupun kayunya. Apakah pohon itu marah ketika manusia dan hewan memanfaatkannya?” Bapak tua menghela nafas panjang berhenti sejenak dalam penjelasannya.

Pepohonan menyemarakkan siang ini  dengan hembusan angin semilir, lalu lalang penduduk saling tegur sapa.

”Neng hidup ini adalah pelajaran, kita bisa belajar dari sebuah pohon. Pohon itu tidak pernah menghitung berapa manfaat yang diberikan untuk mereka. Ia tidak merasa memiliki, bahkan ketika ia mati di tebang atau dibakar, sudah menjadi  arang dan abu, ia hanya Ikhlas dan selalu bermanfaat. Tidak mengharap kepada makhluk, karena semua ini hanyalah  milik Allah Swt yang maha memelihara, kita harus berserah diri hidup dan mati hanya untuk Alloh Swt, bersyukur  selalu berzikir kepada Allah Swt. Hidup kita selalu diperhatikan oleh Allah Swt.” Bapak tua menjelaskan.

 “Subhanallah….MasyaAllah………….”Tari memuji  Allah yang telah memberikan pelajaran terhadap manusia melalui ciptaannya juga, dan ia sangat kagum dengan sifat pohon yang patuh kepada Allah swt.

“Pohon itu berdzikir pak?” Tari kagum tetapi ia merasa heran.

“Ia neng, semua tumbuhan dan makhluk di bumi ini selalu berdzikir, tetapi mata kita terbatas untuk melihatnya. Tari tertunduk dalam,  hatinya bergetar terasa membendung air mata     

“Sama seperti mu neng, walaupun  teman-temanmu bersikap kurang baik balaslah dengan kebaikan, doakan dia agar dibukakan pintu hatinya!” Bapak tua memberi nasihat kepada Tari

Jalanan nampak lengang, anak-anak  mulai kembali kerumah waktunya mereka untuk tidur siang.

 “Kamu harus semangat, hidup ini tujuannya adalah beribadah kepada Allah Swt, selalu melakukan apa yang diperintahkannnya dan menjauhi segala larangannya, dan harus selalu berdzikir sehingga kamu mengingat Allah SWT dan mencintainya. Mulai hari ini gapailah cita-citamu nak, tanpa memikirkan hal yang tidak bermanfaat, jadilah orang yang bermanfaat dalam keridhoan Allah SWT.”

Bapak tua mengakhiri penjelasan dan nasehatnya, Ia meminta Tari agar segera kembali kerumah , dan Ia berpamitan kepada Tari untuk berdagang melanjutkan perjalanan keliling desa.

“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh..!” Bapak tua mengucapkan salam perpisahannya dengan Tari

“Wa’alaikumussalam.warohmatullohi wabarokatuh…. hati-hati ya Pak! Mudah-mudahan dagangan bapak terjual habis.” Tari kembali mendoakan Bapak tua, sambil melambaikan tangannya.

Bapak tua masih terlihat dari kejauhan. Dalam diam Tari termenung, ia merasa pertanyaannya telah terjawab, ternyata Bapak tua tidak hanya berjualan tetapi ia juga berdakwah, dan mengisi hari-harinya dengan keihklasan menjalani kehidupan ini dengan tujuan sang pencipta. Tari baru sadar bahwa selama ini ia belum Ikhlas menjalani kehidupan, ia harus Ikhlas dan mengambil hikmah dari kehidupan sebuah pohon, yang selalu dia ingat adalah Allah Swt dengan cara berdzikir. Tari seperti mempunyai kekuatan dalam hatinya, ia akan menyayangi semua makhluk tanpa harus membenci,dan menjalani hidup dan mati ini karena Allah Swt. Hari ini suasana hatinya berubah sangat bahagia karena Allah telah mengirimkan Bapak tua untuk memberikan Ilmu kepadanya.

Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

RatnaLestari

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap