Saatnya Mengakrabkan Diri dengan Mie Instan dan Kopi Sachetan

Saatnya Mengakrabkan Diri dengan Mie Instan dan Kopi Sachetan 1

Bisa jadi tahun 2020 ini adalah tahun tersulit, karena di tahun inilah pagebluk global COVID-19 menyapa lalu memporak-porandakan semua. Namun siapa yang bisa menjamin jika tahun 2021 yang sudah berjalan hampir sebulan ini tidak lebih sulit dibanding 2020?

Sejumlah indikator yang saya ambil dari berbagai sumber ini bisa jadi pertanda menuju arah sana. Gaji UMK di berbagai daerah banyak yang tidak naik, padahal harga-harga pasti naik, kinerja perusahaan belum bisa maksimal, itu artinya bagi kalian yang bekerja tidak bisa berharap bonus tahunan, apalagi diajak piknik naik delman istimewa ku duduk di muka…pak kusir.

Masih akan adanya pembatasan kegiatan di 2021 juga akan berpengaruh terhadap penurunan produktivitas di semua sektor. Ditambah iuran jalur mandiri BPJS kelas III naik per 1 Januari 2021 lalu.

Belum lagi berbagai aturan pembatasan dalam jangka panjang juga bisa membuat hatimu lelah seperti saat mengirim WhatsApp ke dia hanya di-read saja sampai satu purnama lamanya.

Tapi ini serius, logika sederhananya begini: pembatasan terlalu lama selain membuat lelah jiwa ragamu, efek terburuk adalah semangat pencegahan COVID-19 mengendur, sehingga gairah untuk pencegahan kembali lemah. Bukti ini sudah nyata adanya, Selama Januari ini saja ada beberapa ledakan kasus terbesar dan menyumbang rekor harian tertinggi , dan ini tak menutup kemungkinan terjadi di bulan-bulan mendatang bukan?

Kemudian ini lagi entah macam apa virusnya, belum selesai kita diteror bertubi-tubi, kini ancaman paling berbahaya dari varian baru virus corona datang lagi.

Dilaporkan 18 negara telah mendeteksi adanya varian baru dari virus corona, bahkan lima di antaranya di Asia, dan yang terdekat sudah ada di tetangga kita, negeri Upin Ipin, sudah tahu kan negara apa itu? Kamboja?, duh gusti Malaysia lah.

Berbagai indikator itu tentu akan makin menyusahkan para pekerja pasca adanya UU Omnibusu yang selama ini banyak bergantung pada upah sektoral yang jadi andalan bulanan. Namun cilakanya, belum sampai upah sectoral dirasakan banyak pihak, nomenklatur upah sectoral auto dihapus.

Upah sectoral ini lebih besar dibanding UMK pada umumnya, upah sectoral ini seperti sector pariwisata di Bali, sector industri di Jakarta, Tangerang, Surabaya, dll yang besarannya lebih besar minimal 5 persen dari UMK.

Bahkan hingga tanggal 25 Desember kemarin di mana tanggal gajian di banyak perusahaan, saya masih banyak menerima informasi dari kawan jika gaji mereka masih banyak dipotong. 

Jumlahnya bervariasi, ada yang dipotong 20 persen, ada yang bahkan 50 persen. Ada juga yang dipotong uang makannya, ada juga yang tidak dipotong,– karena sudah di-PHK.

Lalu apa yang bisa kita lakukan. Ya mau gak mau segala bentuk penyesuaian, hingga efisiensi atau pengiritan harus dilakukan. Karena di orde pandemi ini bukan soal yang kuat yang bertahan, tapi yang bisa menyesuaikan dirilah yang bisa bertahan di tengah pagebluk internasyional ini.

Berikut ini cara efisiensi yang ramah buat kita yang berada di rantai makanan paling bawah dalam sistem industri kita.

Perbanyak beli kopi sachetan

Di masa pandemi menjauhi tempat keramaian adalah pahala tersendiri karena mematuhi anjuran pemerintah, dan ngopi di rumah saat pandemi adalah pahala yang lain. Dengan membeli kopi sachetan itu berarti Anda terhindar dari tempat keramaian seperti kafe, kedai, warkop, mall, dll yang berpotensi tertular corona.

Membeli kopi sachetan berarti Anda ikut mendukung program pemberdayaan UKM karena kopi sachet banyak dijual di toko-toko kelontong dan bisa dibeli eceran. Bahkan jika beruntung juga bisa berutang.

Sebagai kalkulasi cash flow pengeluaran Anda, jika segelas kopi di kafe ala-ala anak indie a.k.a anak senja Rp 15 hingga Rp 50 ribu sekali seruput, maka dengan membeli kopi eceran dengan merk seperti inisial bank yang terbalik itu hargaya Rp 1.000/sachet, maka akan ada selisih uang kopi yang bisa dipakai beli masker atau tambahan pulsa internet ketengan.

Mie instan

Untuk yang satu ini rasanya tidak perlu diulas panjang lebar, Anda bisa mencari rujukan di internet dan banyak pakar sudah banyak menuliskan catatan tentang kandungan gizi, cara penyajian, termasuk sisi kesehatannya. Anda cukup memakai kata kunci mie instan di kolom pencarian Google niscaya akan Anda jumpai banyak tulisan soal mie instan.

Yang ingin saya sampaikan di sini adalah lagi-lagi nilai ekonomisnya, Anda tak perlu makan mie instan tiga kali sehari, cukup sediakan saja tumpukan mie instan di lemari Anda. Dengan harga eceran Rp 2.400 hingga Rp 3.000, beberapa varian rasa dari goreng, soto, hingga rasah bayar semua ada.  

Ganti Rokok

Pemerintah telah mengetok palu kenaikan cukai tahun 2021 yang rata-rata sebesar 12,5 persen, itu berarti bagi Anda yang ahli hisab akan ada kenaikan harga yang kemungkinan mulai efektif 1 Februari 2021.

Kenaikanya beragam, dari data sejumlah situs media klikbait yang saya comot, sigaret putih mesin (SPM) golongan I 18,4 persen, sigaret putih mesin golongan II A 16,5 persen, dan sigaret putih mesin IIB 18,1 persen. Selanjutnya sigaret kretek mesin (SKM) golongan I 16,9 persen, sigaret kretek mesin II A 13,8 persen, dan sigaret kretek mesin II B 15,4 persen. Kemudian tidak ada kenaikan tarif cukai untuk segmen sigaret kretek tangan (SKT).

Nah yang terakhir ini bisa jadi alternatif (ya alternatif, saya tidak menyarankan atau mempromosikan, entar disemprit KPI dan KPAI, hehe), rokok putihan dalam satu bulan kedepan bakal melonjak. Namun Anda bisa mensubtitusi kesenangan Anda dengan beralih ke rokok sigaret kretek tangan seperti 76, 234, dan sebangsanya.

Harga yang terpaut juga lumayan, lumayan juga selisihnya bisa untuk beli susu sachetan atau jahe geprek biar imun Anda tetap terjaga, dan kantong anda tidak tipis sebagaimana iman Anda.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

TimurJauh

   

yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin