Sajak Kisahan dalam Puisi “Cahaya Bulan Tengah Malam” (Karya Sapardi Djoko Damono)

Sajak Kisahan dalam Puisi “Cahaya Bulan Tengah Malam” (Karya Sapardi Djoko Damono) 1

Hujan Bulan Juni (1994), Perahu Kertas (1983), dan Aku Ingin (1989), merupakan beberapa judul puisi populer karya Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono yang tulisannya sederhana dan menyentuh hati bagi pembaca, namun memiliki makna yang sama sekali tidak sederhana.

Bagi mahasiswa maupun mahasiswi jurusan sastra Indonesia, beliau sudah tidak asing lagi ditelinga. Beliau sangat terkenal dengan penyajian sajak yang sangat teratur dan terikat. Dalam puisinya, beliau seringkali menuangkan nuansa alam untuk menghidupkan kata demi kata dalam sajaknya. Beliau mempunyai banyak keahlian dibidang seni, mulai dari menari bermain alat musik, bermain drama, tetapi tampaknya bidang sastralah beliau paling menonjol yang dimilikinya.

Selain karya puisi, beliau juga menulis cerita pendek  dan juga beliau mempunyai keahlian menerjemahkan berbagai karya penulis asing disejumlah artikel di surat kabar. Sang sastrawan juga mempunyai jasa yang sangat besar terhadap sastra, karena berkat jasanya yang begitu luar biasa yang ia tumpahkan dalam sajak yang begitu indah untuk dinikmati.

Banyaknya karya yang ditulis oleh beliau menjadikannya mendapat banyak penghargaan dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Karya beliau sangat terkenal di khalayak umum maupun bagi para sastrawan.

Penghargaan yang pernah beliau dapati diantarannya adalah:

Cultural Award (Australia, 1978), Anugerah Puisi Putra (Malaysia, 1983), SEA Write Award (Thailand, 1986), Anugerah Seni Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990), Kalyana Kretya dari Menristek RI (1996), Achmad Bakrie Award (Indonesia, 2003), dan ASEAN Book Award (2018).

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono selain menjadi sastrawan beliau juga mengajar sebagi dosen di beberapa kampus di Indonesia. Beliau juga aktif dalam berbagai lembaga seni dan sastra pada 1970-1980an. Antara lain sebagai Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia Jakarta (1973-1980), redaksi majalah sastra Horison (1973), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (sejak 1975), anggota Dewan Kesenian, anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka Jakarta (sejak 1987) dan lain-lain.

Karya puisi beliau juga sudah banyak yang dijadikan objek musikalisasi bagi para sastrawan lainnya. Pada kesempatan kali ini penulis ingin menyajikan salah satu puisi karya Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Cahaya Bulan Tengah Malam” (1971). Berikut merupakan isi dari puisi Cahaya Bulan Tengah Malam beliau.

Aku terjaga di kursi ketika cahaya bulan jatuh di wajahku dari genting kaca

adakah hujan sudah reda sejak lama?

Masih terbuka koran yang tadi belum selesai kubaca

terjatuh di lantai; di tengah malam itu ia nampak begitu dingin dan fana.

Karya: Sapardi Djoko Damono
Karya: Sapardi Djoko Damono

Puisi ini menceritakan bahwa pengarang merasa kesendirian yang di alami di tengah malam ketika pengarang tengah duduk di kursi sambil menikmati hujan. Dalam puisi ini juga pengarang menunjukan sikap sedih yang ditunjukkan pada penggalan “di tengah malam itu ia nampak begitu dingin dan fana”. 

Penulis dapat menyimpulkan bahwa pengarang memiliki tujuan dan amanat dari puisi Cahaya Bulan Tengah Malam di atas adalah semua masalah yang dihadapi tidak akan bisa selesai dengan sendirinya, jika ingin masalah tersebut terselesaikan maka jangan hanya diam merenungi masalah, tetapi bertindak agar masalah tersebut dapat terselesaikan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nurfauziyah