Sakitnya Operasi Zaman Dulu Tanpa Obat Bius! Begini Sejarahnya

Sakitnya Operasi Zaman Dulu Tanpa Obat Bius! Begini Sejarahnya 1

Mungkin sebagian dari kita pernah mengalami yang namanya operasi entah sekali atau beberapa kali dalam hidup kita sewaktu penyakit dalam tubuh tersebut harus dikeluarkan dengan cara seperti itu, atau saat melahirkan juga mungkin? Ya, lantas bagaimana perasaan kalian ketika hendak, saat, dan pasca operasi?

Biasanya orang yang akan melakukan operasi mengalami kecemasan tertentu. Bisa saja takut operasinya gagal, takut jarum suntik, takut diiris-iris, atau takut gunting operasi ketinggalan di dalam tubuh kita? Duh semoga jangan ya.

Kalau pasca operasi mungkin, yang kita alami adalah nyeri di bagian tubuh setelah dioperasi. Biasanya butuh waktu beberapa hari hingga minggu atau bulan untuk memastikan bahwa rasa sakit tersebut benar-benar hilang.

Sumber gambar : pinterest
Sumber gambar : pinterest

Lalu bagaimana saat manusia sedang berada dalam fase atau proses operasi? Mungkin di zaman ini kita sudah bisa hidup enak, sebab operasi saat ini menggunakan obat bius atau yang biasa disebut dengan anestesi. Anestesi diberikan hingga pasien merasakan mati rasa, mengantuk, hingga tertidur. Tergantung kebutuhannya.

Nah, bagaimana ya dengan orang zaman dahulu sebelum abad ini berlangsung? Bagaimana cara mereka melakukan operasi ketika obat bius saja belum ditemukan? Oke, mari simak pernyataan berikut ini.

Sumber gambar : pinterest
Sumber gambar : pinterest

Ada beberapa hal yang dilakukan oleh orang zaman dulu untuk meredakan rasa sakit sewaktu operasi. Misalnya saja orang Mesir kuno yang menggunakan salju untuk membuat pasiennya sampai dalam keadaan hipotermia. Setelah pasien dalam kondisi tidak sadar akibat tubuhnya yang mengalami hipotermia, para ahli bedah lantas melakukan operasi.

Sementara di China timur sudah dikembangkan praktik budaya akupuntur untuk menggantikan anestesi.

Pada saat abad 17 sampai abad 19 ahli bedah melakukan tindak operasi besar dengan memotong bagian tubuh pasien TANPA MENGGUNAKAN OBAT BIUS. Jadi para ahli bedah sungguh-sungguh mengoperasi pasiennya dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya.

Dalam sebuah buku berjudul Crucial Interventions, salah satu koleksi dari Wellcome Collection yang digambarkan oleh seorang sejarawan bernama Richard Barnett tentang operasi waktu abad itu. Di dalamnya diceritakan bahwasannya pasien banyak yang meninggal karena shock pasca-operasi, infeksi, hingga kehilangan banyak darah.

Tingkat persentase kematiannya pun tidak main-main. Beberapa rumah sakit di London menunjukkan tingkat 80% nyawa melayang akibat operasi. Meskipun terkesan mengerikan, namun operasi pada abad 17,18,19 dapat memberikan wawasan terhadap dunia kedokteran kuno saat itu yang tentunya dapat membuat para ahli bisa terus berinovasi dan mempelajari hingga ditemukannya obat anestesi.

Dalam buku tersebut juga digambarkan bagaimana pada tahun 1846, orang yang terkena kanker lidah harus mengalami operasi yang cukup sakit. Ahli bedah yang berperan untuk mengoperasinya, menggunakan cara dengan mengiris lidah menjadi 2 bagian, lantas memotong tumor yang bersarang di dalamnya. Setelah itu ahli bedah pun menjahit nya begitu saja agar tersambung kembali.

Pada tahun yang sama, Robert Linson menggunakan obat bius pertama yang selanjutnya diikuti jejaknya tersebut oleh James Simpson. Akhirnya pada tahun 1865, Joseph Lister menemukan antiseptik yang dapat membantu para ahli bedah untuk melakukan operasi lebih banyak serta lebih rumit.

Oke pembaca digstraksi yang budiman, semoga informasi ini bermanfaat bagi kalian ya.. 🙂

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Soreane Sore