Salah Satu Rantai Setan!

Salah Satu Rantai Setan! 1

SUARA ketukan keras itu telah merusak lelap tidur Sobari. Semula ia mengira suara itu bagian dari mimpi buruknya.

Ia terbangun, teringat hutangnya yang masih menumpuk di note catatan hp, ketukan tadi sangat terasa hingga ke jiwa, hingga dikira nyata. Dengan segenap kesadaran yang ada ia berusaha bangkit dari pembaringannya.

“Udah hidup merantau, ngekos sendiri, tidur juga sendiri, ‘apa lagi si ini!’ mengapa ‘tukang tagih hutang’ datang malam-malam begini, masih jam 1.43 pula.” Keluh Sobari.

Ia senyapkan langkah kakinya dengan sangat waspada melangkah menuju pintu, yang tadi dikiranya suara keras itu berasal dari ketukan pintu ‘rumah kosnya’. Pelan, sangat pelan sekali, hampir samapai di tuas pintu beberapa centi lagi, tiba-tiba “KLOTAAKK… CIIIT…CIIIT”, dengan sangat kaget ia terperanjat dengan suara itu hingga terduduk di lantai.

“Alahmak… Kucing dan tikus itu SIAAALL! Udah gila, pagi-pagi udah bikin orang kaget setengah mati.” Kesal Sobari.

Ia trus-trusan dihantui cicilan motor Suzuki GSX-nya, ditambah dengan tekanan ‘hutang yang tanpa sengaja’. Sebulan yang lalu setelah tarikan terakhirnya dari ngojek online, ia teringat kalau ini pekan penarikan bonus, karena memang ojek online yang sobari geluti memberikan bonus di tiap akhir pekan. Sambil menggosok-gosokan kedua tangannya di depan atm, dengan mata terbuka lebar, menantikan bonus itu.

“Waw… Waw… Waw… Lumayan bisa buat jajan GSX gue nih, top chair. Ha ha ha.” Sobarai tertawa lepas dengan semua ini.

Tapi lagi-lagi ia teringat dengan ‘hutang gila’ yang tidak sengaja dilakukannya.

“Q-NET sialan!” Gerutunya

“Kurang ajar penipu edyaaan itu, hah! Ga jadi jajan dah GSX gue. Lagian ngapain si itu kumpulan ‘SETAN’. Liat aja suatu saat pasti hancuur!” Tukasnya.

Sebuah ide agak gila muncul dibenak Sobari, tiba-tiba gagasan untuk melaporkan Q-NET ke pihak berwajib setempat yang terdekat.

“Gue harus balas dendam! Apaan enak aja, bonus bulanan hangus begitu aja! Emang mereka pikir motor gue bensinya air!”

Sobari, dengan segenap dendam dan kesal yang membuncah di pada dirinya, ia melangkahkan kakinya dengan mantap menuju kantor Polisi terdekat dengan kantor Q-NET.

“Permisi Pak.”

“Sini- sini dek, jangan jauh-jauh gitu, engga kedengaran.” Sahut Polisi itu.

Sebenarnya dia takut untuk melaporkan ini, karena Sobari memang tidak suka dengan Polisi. Tapi karena dendam dan kekesalannya, takut itu dikesampingkannya.

“Heh, iya Pak.”

“Ada apa? Mau bikin SKCK, mau gabung teroris ya?” Celetuk ngasal Polisi.

“Enngg …ga Pak, ini saya mau laporan.”

“Laporan apa dek? Pagi-pagi begini udah mau ngelapor aja, anak muda jangan bisanya lapor, lapor, dan lapor. Saya jadi lapar nantinya.” Canda Polisi itu.

“Coba gimana, sini ceritain aja dulu gimana kronologinya?”

“Ini Pak, saya di tipu oleh Q-NET, saya yakin mereke komplotan penipu, uang bonus tarikan ngojek saya amblass untuk bayar uang muka syarat untuk keanggotaan.”

“Wah… Ini anak lapor tentang Q-NET lagi, Q-NET kan udah bayar biaya keamanan dengan jumlah yang fantastis.” Bingung Pak Polisi dalam batinnya.

“Ditipu gimana dek, kok bisa, bisa dijelasin lagi rinciannya, mungkin dengannya saya bisa ambil tindakan.” Jelas Pak Polisi.

“Waktu itu ketika saya sedang ngojek, dapat penumpang dengan inisial ‘i’ dia bilang minta dianter ke gedung ‘Sona Topas’ diperjalanan saya engga begitu mengerti jalan yang boleh dilalui motor dan mobil, karena saya orang perantauan baru 2 bulan di Jakarta. Akhirnya dia pakai map mengarahkan saya, nah ternyata map itu mengarah ke jalur mobil. Bapak pasti tau kelanjutannnya, saya ditangkap oleh salah seorang teman Bapak, semua surat-surat dan perlengkapan jalan lengkap. Saya diberikan opsi ‘mau pengadilan atau dibantu?’ jelas saya milih opsi ‘dibantu’ kan saya lagi nyari nafkah, biar cepat juga. Singkatnya saya diharuskan bayar denda 500ribu, tapi saya minta keringanan, akhiranya 50rb saja, dan itupun yang bayar pria berinisial ‘i’ itu. Dia bayar, kita lanjutkan perjalan, sampai tiba di gedung Sona Topas.”

“Setelah saya menyelesaikan perjalanan terjadilah perbincangan ringan, antara saya dan i itu.”

I : “Mas, emang kerjanya ini aja atau ada kerjaan lain?”

S : “Iya, hanya ini aja kerjaan saya.”

I : “Wah, sayang-sayang lho mas, masi muda, harusnya mas mikirin nanti gimana kedepannya, manusia kan ga selamanya ‘muda’ harus mikir nanti gimana kedepannya, apa yang akan ditinggalkan untuk generasi berikutnya!”

I : “Udah nanti ke kantor saya aja ya, bilang mau ketemu Pak Ibis, hari apa mas bisa? Sabtu atau Minggu? Terserah Masnya, nanti mungkin ada pekerjaan yang layak untuk Mas Sobar, siapa tadi namanya?”

S : “Sobari Pak!”

I : “Ya udah, datang ya, jangan sia-siakan masa mudanya.”

S : “Ya, In Syaa Alloh Pak.”

I : “oh ya catat nih nomor w.a saya.”

S : “dengan Pak Iblis tadi ya?”

I : Ibis, bukan Iblis.

***

“Datanglah saya ke Sona Topas tempo hari, dan kebetulan itu pas bulan puasa Pak Pol.” Jelas Sobari.

“Trus gimana kamu disana ?”

“Yah! Apaan Pak, disana isinya ‘Lautan tipu yang luas!’ kesel saya! Saya waktu itu dengerin seminar, drama abal-abalan, hati saya bergejolak ingin nonjok! Tapi apa daya saya tidak punya banyak kelompok, bahkan hanya seoarang anak rantau, ya udah akhirnya saya ikutin sampai buka puasa disana. Tapi saya ragu ini uang haram atau halal, karena saya terdesak dan engga bawa bekal juga, terpaksa saya makan sedikit sajian mereka.”

“Nah, trus dimana yang kamu permasalahkan?” Sahut Pak Pol.

“Saya dipepet trus Pak, sampai tiba di kediaman Ibis. Nah disana saya didoktrin paksa lagi, padahal batin saya sudah menolak mentah-mentah komplotan setan itu, mereka seperti setan Pak! Tolong tangkap mereka!” Sobari memohon.

“Tangkep gimana? Kan kamu ga diapa-apain!” Ketus Pak Pol.

“Saya disuruh bayar uang muka seadanya berapa aja, pertama disuruh 500rb aja dulu. Saya tidak bisa menyanggupinya, orang duit pas-pasan buat hidup di perantauan, ngapain pake bayar yang ga jelas kayak gitu. Dan samapailah saya untuk melaporkan semua ini hari ini. Gitu Pak ceritanya.” Jelas Sobari.

“Ok, baik, laporan kami terima. Saya akan coba banding tentang apa yang kamu laporkan dengan kejadian lapangan, apakah sesuai atau kamu yang mengada-ngada.” Tegas Pak Pol.

***

Q-NET sudah mewanti-wanti sesuatu yang bakal terjadi, seperti pelaporan dan lain-lain. Dan mereka juga telah bekerja sama dengan Pihak Keamanan setempat dengan bayaran yang tidak sedikit. Pak Pol bukan melakukan banding melainkan melaporkan “bahwa ada pemuda yang bernama Sobari melapor tentang Q-NET. Sialnya Sobari nasib buruk menimpanya, ternyata apa yang tidak disukainya memang benar-benar akan menjadi musuhnya.

Sobari pun dipanggil keesokan harinya oleh Pak Pol yang kemarin,

“Sobari, sobari. Kamu masih muda nak, baru 17th tapi sudah pandai memfitnah orang banyak, kemarin saya sudah banding ke pihak Q-NETnya langsung, dan yang kamu bilang itu semua memang kebijakan Perusahaan itu. Jadi kamu yang sekarang jadi ‘tersangka’ sebagai ganjaran ‘pencemaran nama baik’, lebih-lebih ini sebuah peusahaan besar. Besar dendanya dek Sobari, tapi karena saya kasihan melihatmu, anak rantau, pasti motor juga nyicil kan?”

“Iya Pak, masih nyicil, saya juga ngekos dan untuk bayar hidup sehari-hari ngepas banget. Tapi Pak mereka itu penipu!” Tukas Sobari.

“Hei! Sobari tenang, kamu ini perantau manalah kau tahu perusahan penipu dan bukan penipu, sudah Sobari, kamu mau masuk penjara karena tidak bisa bayar denda pencemaran nama baik atau bayar denda!?” Tanya Pak Pol dengan semangat penuh.

“Bayar denda aja Pak.” Sahut Sobari dengan nada lemas dan pasrah.

“Ok, Sobari, denda ‘pencemaran nama baik’ mahal biayanya, kisaran 50jt, tapi karena saya prihatin sama kamu, saya korting 50% ya, ga ada nego lagi. Jadi kamu harus bayar 25jt!”

“Pak… Mana saya sanggup, penghasilan tak seberapa, nyicil motor, servis motor, bayar kos, biaya makan. Ditambah lagi 25jt.” Jawab Sobari dengan lesu dan suara rendah.

“Ok kalau gitu, kamu mampunya berapa nyicil tiap bulannya? 25jt udah ga bisa dinego, tapi cicilan bisa nego, berapa kamu bisa nyicil perbulannya?”

“100ribu/bulan Pak .” Tegas Sobari.

“Ya boleh-boleh ga papa, berarti 250jt : 1,2jt(12bln) = 208,33 atau gampangnya 209th kamu baru bisa lunas dari hutang 250jt itu. Ingat ya, sini kamu, ini tanda tangan materai 10rb X 10 = 100rb buat materai.” Jelas Pak Pol.

“Ya Alloh begini banget manusia-manusia ini berbuat zholim kepadaku.” Keluh Sobari dalam hati.

“Ga usah lemas kayak gitu, berani berbuat, berani bertanggung jawab, walau hanya 100rb perbulan, kamu harus tepat waktu, bila terlambat sampai 3 hari, saya akan utus ‘tukang pukul saya’, paham kamu!” Bentak Pak Pol.

***

Sesampainya di Rumah, Sobari merasa semua urat-urat di tubuhnya sudah tidak terpasang dengan teratur, kepalanya terasa amat berat, sampai ia tertidur begitu saja malam itu.

Ia tertidur pulas sekali, beban hidup itu membuatnya lemas tak berdaya. Ditambah Ia pun bermimpi buruk, ia memimpikan dikejar 2 Raksasa, yang satu Raksasa bertuliskan Q-NET di bajunya. Yang kedua Raksasa itu berpaikaian Topi Baret khas Pak Pol. Ia berusaha lari, bahkan sempat melawan dengan melemparkan gas elpiji hijau melon yang bertuliskan ‘hanya untuk orang miskin’. Tapi apa daya, kulit mereka terlau tebal, hingga akhirnya sang raksasa Q-NET melempar sebuah mobil (mobil Pak Pol), suara dentuman pun menggelegar “MBUUUAAAMM…” Sobari terpental jauh sekali!

Ia terbangun dari tidurnya, dilihatnya ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 1.43 pagi.

“Hah … Hah … Ku kira suara ketukan itu bagian dari mimpi burukku, ternyata hanya ‘perkelahian kucing’. Dasar kucing ga pernah sekolah.” Setelah melongok dari jendela kosnya.

“Hebat juga kucing-kucing itu, berkelahi sampai menghasilkan ketukan yang begitu kuat di kos kecilku ini, kucing macam setan!” Gerutu Sobari.

“Aku yakin di pagi hari ini, dengan perantara ‘Istighfar dan Permohonanku kepada sang Pencipta’, pasti dia akan mengabulkan, memudahkan segalanya, karena dia maha tahu, sebenarnya aku ‘tidaklah bersalah’, aku hanya terjebak salah satu dari sekian banyaknya ‘rantai setan’ yang ada. Aku yakin ini hanya sebentar dan pasti akan berlalu sebelum aku menginjak umur 20th.”

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Halub Zih