Saling Cinta bukan Prinsip Utama Pernikahan


Saling Cinta bukan Prinsip Utama Pernikahan 1

“Prinsip utama pernikahan bukanlah saling cinta, tapi tidak saling membenci.”

Umurku sekarang 23 tahun. Balum menikah, meski sudah punya calon. Jadi memang agak sok tahu kalau aku bicara soal pernikahan. Tapi, boleh kan menyampaikan pendapat? Menurutku, prinsip ini memang agak lain dari prinsip “yang penting saling cinta” yang dipegang oleh kebanyakan orang. Padahal, setelah kupikir-pikir ulang, eh, ternyata ini lebih bagus. Setidaknya menurutku. Tapi aku yakin, bukan cuma aku yang setuju dengan gagasan ini.

Kalimat itu aku dengar dari guru di pesantren. Kalau ada orang yang tidak setuju dengan opini itu, mungkin karena belum tahu penjelasannya. Nah, di sini aku akan coba jelaskan untuk khalayak semua. Mari masuk ke pembahasan.

Coba kita renungkan ya. Pelan-pelan aja.

Pernikahan adalah sebuah hubungan yang penuh drama. Sebagian orang akan memutuskan menikah dengan orang yang sudah dicintainya. Kalau tidak cinta, ya tidak ada pernikahan. Sebagian lagi tidak mempermasalahkan cinta, asal ada uang semua bisa dilaksanakan. Ini materialistik. Sebagian yang lain lagi memasang sederet kriteria untuk calon pasangannya. Sebagian orang lagi dengan yakin bisa menerima tawaran nikah dari orang yang belum pernah dikenal sebelumnya. Untuk kasus terakhir ini, apakah antara laki-laki dan perempuan sudah saling mencintai? Bisa iya, bisa juga tidak.

Iya, kalau keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan tidak, kalau cinta pada pandangan pertama tidak menjadi keberuntungan mereka. Tapi, apa ya terus kasus pernikahan yang semacam ini buruk? Jangan dinilai dulu. Teruskan saja dulu baca tulisan ini sampai selesai. Nanti kamu boleh memutuskan untuk setuju atau tidak setuju dengan pendapat ini.

Yang aku bicarakan di sini adalah prinsip utama. Berarti standar minimal. Kalau mau membuat kalimat di pembukaan tadi jadi sederhana, mungkin jadinya akan seperti ini, “Paling tidak, pernikahan tidak didasari dengan kebencian.” Bisa juga dengan opsi lain, begini, “Paling tidak, dalam pernikahan, kedua mempelai tidak saling membenci.” Inilah prinsip utama pernikahan.

Kalau mau agak berlebihan, “Yang penting nggak jijik.”

Logikanya, jarak antara ‘benci’ dan ‘cinta’ itu antara langit dan bumi. Terlalu jauh. Terlalu susah mengubah benci menjadi cinta. Sedangkan jarak antara ‘tidak benci’ dan ‘cinta’ itu dekat. Sangat memungkinkan untuk mengubahnya. Kan tidak benci itu kondisi netral. Tidak benci adalah sama juga tidak cinta.

Misalnya ada orang yang melaksanakan pernikahan dan kedua mempelai saling mencintai, ya tentu itu bagus sekali. Kenapa? Karena sudah melebihi standar minimal. Pernikahan menjadi pesta perayaan cinta. Tapi kalau toh cuma sampai standar minimal, ya nggak masalah. Itu sudah mencukupi untuk melangsungkan sebuah upacara pernikahan. Bukankah begitu, kawan?

Belum saling mencintai kan sama sekali tidak menghalangi pasangan pengantin untuk bergandeng tangan. Benar kan? Belum saling mencintai pun juga tidak menghalangi mereka untuk saling memperkenalkan diri satu sama lain. Belum saling mencintai, bukan alasan yang logis untuk saling menolak.

Bukankah lebih mudah untuk cinta, kalau kita tidak benci?                                   


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

mfajaruye

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap