Sama Seperti Kita, Anak Juga Tidak Suka Dihakimi


Sama Seperti Kita, Anak Juga Tidak Suka Dihakimi 1

Bayangkan Bunda pulang dari kantor dalam kondisi mental yang kurang bagus. Di kantor tadi, Bunda mendapat tugas dari manajer untuk mengerjakan laporan. Namun sebelum Bunda sempat mengerjakan, datang undangan rapat secara mendadak. Selesai rapat, Bunda sibuk membuat minute of meeting, lalu berlanjut dengan pekerjaan-pekerjaan lain sehingga Bunda melupakan tugas dari manajer.

Sore menjelang pulang, manajer menagih laporan tersebut. Bunda tidak dapat menyerahkannya sore itu karena memang belum dikerjakan. Manajer tidak suka, dan memberikan peringatan yang cukup keras kepada Bunda.

Dalam perjalanan pulang, Bunda menceritakan kejadian tersebut kepada teman yang kebetulan naik taksi bersama. Apa reaksi Bunda ketika teman tersebut mengatakan, “nah kamu juga sih kebiasaan. Pelupa kok dipelihara! Ya jelas lah si bos marah.”

Atau begini, “lain kali tugas-tugas itu dicatat biar nggak kelupaan ngerjain. Tulis aja di post it, tempel di meja. Kalau aku, semuanya kumasukin ke reminder di HP.”

Atau begini, “ah, santai ajaaa. Gitu aja kok, enggak apa-apa.”

Bukannya membuat hati jadi lega, mungkin Bunda malah menyesal sudah curhat kepada teman.

Begitu juga dengan anak Bunda, ketika anak mendatangi Bunda sambil menangis kemudian bercerita bahwa mainannya rusak, apakah dia akan menyukai kalau Bunda mengatakan, “duh ceroboh sekali sih.”

Atau begini, “makanya lain kali kalau selesai main, langsung beresin mainannya biar enggak keinjek. Kalau main jangan dilempar-lempar. Mainan itu disayang-sayang. Kalau sudah rusak, sedih juga kan? Waktu kecil, Bunda jarang dibelikan mainan, makanya kalau diberi mainan, pasti Bunda sayang-sayang.”

Atau begini, “ah, cuma mainan rusak aja kok, enggak apa-apa, nanti Bunda belikan mainan baru.”

Photo by Kat Jayne from Pexels
Photo by Kat Jayne from Pexels

Sama seperti Bunda yang kesal pada teman Bunda, kemungkinan besar anak juga kesal, dan menyesal sudah bercerita. Jika ini terus berlanjut, bisa-bisa anak akan kapok bercerita.

Jadi, reaksi apa sih yang diharapkan oleh anak saat dia merasa kecewa karena mainannya rusak? Tentu bukan pernyataan yang mempermalukan dia, atau sederet nasehat-nasehat tanpa empati, atau malah komentar yang terkesan meremehkan keadaan. Ketiga-tiganya hanya akan melukai hati anak. Anak menjadi tidak yakin pada diri sendiri, akan merasa tidak mampu, merasa rendah diri.

Reaksi pertama yang seharusnya kita lakukan adalah mengakui dengan sungguh-sungguh perasaannya. Misalnya dengan mengatakan, “wah sedih ya.” Atau dipertegas lagi dengan komentar, “Bunda tahu itu mainan kesayanganmu.” Bahkan cukup dengan, “oh”, atau “hmm”. Yang terpenting adalah kesungguhan kita saat mengungkapkannya.

Memang sebagai orang tua, kita ingin membekali pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada anak agar dia menjadi pribadi yang semakin baik. Tapi tahan diri dulu, Bund. Ketika emosi anak sedang terganggu bukanlah saat yang tepat untuk memberikan nasehat.

Hindari juga memberi nasehat dengan menggunakan kata-kata “kalau Bunda dulu”, nasehat yang membandingkan prilaku anak dengan Bunda sendiri. Itu akan semakin membuat anak merasa rendah diri.

Dengan memberikan pengakuan terhadap perasaan anak tanpa embel-embel sederet nasehat, anak akan belajar untuk menghadapi sendiri perasaannya, dan permasalahannya. Terkadang setelah emosinya reda, bahkan anak dapat menemukan solusinya sendiri. Misalnya dengan mengatakan, “lain kali aku tidak akan melempar-lempar mainan!”

Nasehat tanpa empati adalah salah satu bentuk penghakiman, walaupun itu tanpa disadari. Ada hal lain yang dapat membuat anak merasa dihakimi padahal Bunda tidak sengaja melakukannya, yaitu ketika Bunda menyatakan pendapat yang berbeda dengan anak. Misalnya saat anak memilih baju, lalu Bunda berkomentar, “kamu mau jalan-jalan pake baju itu? Yakin?”

Mungkin Bunda tidak sadar, namun anak bisa saja merasa, “wah seleraku jelek banget.” Maka Bunda harus lebih berhati-hati menyampaikan pendapat. Jika pendapat tersebut sangat penting untuk disampaikan, sampaikanlah dengan tetap menghargai pendapat anak. Caranya adalah dengan mengajak diskusi, bukan serta merta menghakimi.

Kita sebagai orang dewasa saja, mungkin terkadang masih sulit menerima ketika kita dihakimi oleh orang lain. Anak-anak pun demikian. Terkadang alasan anak susah untuk diterima oleh orang tua, namun apa yang dia rasakan nyata. Kesungguhan untuk mengakui perasaan anak-anak adalah kunci. Sama seperti kita, anak-anak pun ingin dipahami, ingin dihargai, apalagi oleh orang-orang yang paling dia sayangi, orang tua mereka.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Warna Dunia

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap