Sastra dalam Kehidupan Milenial

Sastra dalam Kehidupan Milenial 1

Generasi milenial memiliki hubungan erat dengan digitalisasi yang di mana semua kegiatan tidak terlepas oleh perangkat teknologi sebagai sarananya, apalagi di dunia pendidikan pada abad ke-21 sudah menerapkan media pembelajaran secara online melalui gawai dan laptop.

Terlihat jelas minat pendidikan saat ini lebih disukai pembelajaran seputar sains dan sosial. Sedangkan pembelajaran sastra masih dianggap ketinggalan zaman dan dipandang tidak berperan di era digital.

Secara sekilas, sastra hanya diketahui beberapa orang sebagai rangkaian kata dalam puisi, novel, dan cerpen. Padahal eksistensi sastra lebih dari itu, yaitu sebagai saksi kehidupan manusia sejak belum mengenal tulisan dan berisikan makna-makna kehidupan yang bisa diterapkan pada semua kalangan.

Sastra erat kaitannya dengan empat aspek keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan membaca dalam sastra sangat penting untuk mendapatkan pesan dan makna dari bacaan. Selain berfungsi pada sastra, empat keterampilan berbahasa digunakan untuk memperoleh dan menyampaikan informasi kepada khalayak.

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masih banyak remaja pada generasi ini yang belum menerapkan keterampilan berbahasa, contohnya memposting sebuah kutipan diambil dari suatu novel yang dirasa relate, namun saat ditanyai mengenai pesan yang terkandung mereka tidak mengetahuinya. Bahkan diantaranya ada yang tidak membaca keseluruhan isi buku karena sekedar untuk memperindah akun sosial medianya.

Fenomena di atas merupakan pengalaman pribadi penulis saat melihat beberapa pengguna media sosial Instagram dan Twitter yang memposting kutipan karya seseorang serta melakukan diskusi singkat dengan pihak terkait melalui Direct Message.

Dari kasus tersebut, penulis melihat bahwa literasi saat ini sangat memprihatinkan, dan rata-rata dari mereka hanya fokus untuk mengikuti hal trendi yang up to date tanpa mengulik informasi di dalamnya, sehingga sebuah tulisan yang tercantum dianggap hiasan semata.

Kecanggihan teknologi membuat segalanya begitu mudah tetapi berdampak negatif terhadap sastra. Perlu dipahami bahwa yang negatif bukan karya sastra dalam bentuk digital, namun pembaca atau pendengarnya yang mengambil cara instan untuk mengetahui unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik berupa resensi serta rangkuman analisis yang tersedia di website tanpa menikmati karya tersebut dikarenakan bahasa dalam sastra sulit ditelaah.

Maka dapat disimpulkan, faktor utama penyebab rendahnya pemahaman sastra pada generasi ini dikarenakan bahasanya sulit dimengerti yang membuat mereka enggan untuk membacanya. Membaca karya sastra dimulai kalimat awal saja sudah membuat mereka terbebani dan jenuh lantaran belum terbiasa, seperti terdapat kalimat konotasi yang asing baginya.

Oleh karena itu, suka atau tidak suka saat membaca karya sastra harus ditargetkan oleh diri kita sendiri untuk membaca secara keseluruhan dengan jadwal tertentu, contohnya dimulai dengan durasi yang singkat hingga bertahap supaya kita bisa konsisten membacanya.

Selain konsisten dalam membaca, kita bisa memanfaatkan media internet apabila menemukan kata atau kalimat yang belum dipahami untuk mencari arti supaya mengetahui alasan penulis menyisipkan kata tersebut di antara kalimat yang dituliskannya.

Dengan cara di atas, kita bisa menangkap makna dan pesan dengan mudah sembari mengasah kemampuan kognitif. Semakin sering membaca sebuah karya sastra, maka semakin melekat diri kita dengan bacaan tersebut, dan tanpa disadari pemahaman terhadap sastra pun ikut berkembang. Begitu juga saat membacanya akan terasa ringan untuk dinikmati karena sudah dibiasakan.

Sangat disayangkan apabila generasi ini tidak menanamkan budaya membaca untuk menjelajah sebuah karya sastra. Seperti yang dikemukakan oleh Karno dalam buku Pengkajian Sastra karya Al-Ma’ruf dan Nugrahani (2017), bahwa terdapat banyak manfaat yang dapat diperoleh dari karya sastra yaitu, (a) sastra sebagai ilmu; (b) sastra sebagai seni; dan (c) sastra sebagai kebudayaan.

Dari ketiga manfaat tersebut bisa dilihat bahwa selain menjadi sarana hiburan, secara bersamaan kita akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi karena bertemu dengan kata-kata yang jarang dijumpai dan belajar memahami hal baru.

Di samping itu terdapat nilai moral dan ajaran agama yang bisa diteladani dan diterapkan ke dalam kehidupan manusia. Pada zaman sekarang, para anak-anak dan remaja harus mempunyai kepribadian yang bermoral serta berakhlak baik sebagai dasar acuan untuk memilah konten-konten bebas di internet.

Dunia sastra akan memberikan kita perjalanan ke berbagai waktu, tempat, dan kejadian yang membuka wawasan kehidupan dari penulis karya tersebut. Oleh sebab itu, menikmati sebuah karya sastra tidak harus dibaca atau didengarkan oleh orang yang menyukainya saja, namun seluruh golongan masyarakat harus membiasakan membaca khususnya karya sastra sebagai bentuk melestarikan sosial budaya, apalagi saat ini karya sastra sudah terdapat di perangkat digital untuk bisa dinikmati secara luas.

Tinjauan Pustaka

Al-Ma’ruf, A. I., & Nugrahani, F. 2017. Pengkajian Sastra. Surakarta: CV. Djiwa Amarta Press.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Arien Cahyani Putri