Saya Mencoba Berhenti Main Sosial Media, Ini yang Saya Rasakan


Saya Mencoba Berhenti Main Sosial Media, Ini yang Saya Rasakan

Saya teringat saat sebelum ada media sosial , ketika kita semua tidak terpaku pada layar ponsel atau komputer kita.

Hidup memang tidak semudah hari ini tetapi pengalaman bathin , fisik yang saya rasakan lebih kaya.

Kemajuan  teknologi tidak dapat disangkal dan smartphone adalah penemuan terbesar di abad ke-21.

Tidak diragukan lagi, teknologi perlahan-lahan mengubah masyarakat secara besar-besaran, berbeda dengan teknologi seperti mobil yang merupakan objek yang kita gunakan hanya sesekali saja, smartphone adalah hal yang benar-benar kita gunakan setiap hari dan terkadang selama berjam-jam.

Tidak berlebihan rasanya jika saya mengklasifikasikan Gadget saat ini sebagai candu .

Saya memutuskan untuk istirahat dari semua media sosial selama sebulan dan hanya menerima telepon, dan whatsapp karena terkait kerjaan , sebenarnya saya ingin sekali berhenti menggunakannya tetapi rasanya tidak mungkin karena masih banyak kerjaaan menggunakan whatsapp.

Saya mematikan quota data dan sengaja tidak megisi pulsa selama sebulan, untuk benar-benar melihat apa yang akan terjadi pada saya.

Ini saya lakukan setelah saya benar-benar menghabiskan 5 jam di TikTok tanpa berasa , dan beberapa jam di instagram, saya merasakan kelelahan dan tidak tidak tenang , saya tidak tau mengapa.

Saya benar-benar memimkirkan hal ini , saya peduli dengan kesehatan saya karena jika saya dapat dengan mudah menghabiskan 5 jam di tempat melihat layar ponsel tanpa melakukan sesuatu yang produktif, maka itu adalah tanda bahaya besar.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi saya rasa mata kita saat ini tidak beradaptasi untuk menghabiskan begitu banyak waktu melihat cahaya putih. Dan inilah yang terjadi ketika saya puasa media sosial.

Ternyata Sangat sedikit orang yang peduli

Hal pertama yang saya notice adalah ternyata sangat sedikit orang yang peduli atau bahkan menyadari bahwa saya ada , bahwa saya tidak ada di media sosial atau online di status whatsapp.

Saya tidak menerima pesan apa pun selama offline dan sangat sedikit percakapan yang saya lakukan, hal ini yang menyadarkan saya bahwa ternyata memang tidak ada orang yang benar – benar peduli , mereka sibuk dengan dunianya, saya tidak terlalu penting untuk orang lain , dan selama ini mereka hanya memanfaatkan saya saja , jangan jangan saya juga seperti itu , kita saling memanfaatkan untuk kepentingan dan ego kita sendiri , ini menjadi semacam intropeksi apa yang harus saya lakukan dalam kehidupan terutama dalam menjalani sebuah relationship dan lebih mengenali rasa yang harus saya sikapi mengenai atensi orang .

Sayangnya hidup kita hanya menuju dunia digital dan di dunia seperti itu, empati dan kepedulian hilang demi menjadi viral

Rasanya seperti berhenti dari kecanduan narkoba

Jangan salah , saya tidak pernah memakai narkoba lho. Tetapi Ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan sama sekali, karena harus memaksakan diri untuk tidak membuka aplikasi tertentu, saya juga harus uninstall beberapa aplikasi dengan sangat penuh pertimbangan dan ragu .

Saya meletakkan telepon saya beberapa meter dari saya dan akan mematikannya di malam hari tetapi godaannya itu nyata sekali, setiap detik saya akan berpikir untuk mengambil dan menghidupkannya lagi.

Rasanya seperti berhenti menggunakan narkoba, selama beberapa hari pertama, saya tidak bisa menghabiskan satu jam tanpa memikirkan ponsel saya.

Ini tidak mengherankan karena feed media sosial menghasilkan pelepasan dopamin di otak kita yang membuat kita bahagia, itulah sebabnya berhenti secara tiba – tiba ini terasa seperti berhenti dari narkoba.

Perbedaan antara media sosial dan obat-obatan sebenarnya adalah dalam jumlah pelepasan dopamin dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncaknya.

Merasa kesepian tapi tidak bosan

Dulu ketika bosan kita memang benar benar tidak ada yang harus dilakukan selain nonton tv , atau ngobrol atau bahkan tidur , hanya akan melihat ke langit atau menonton ulang film-film lama beberapa kali.

Tetapi sekarang, kita mendapatkan aliran konten baru terus menerus datang yang siap kita tonton.

Netflix ada banyak film daripada yang dapat kita tonton seumur hidup, Twitter memiliki lebih banyak tweet daripada yang dapat kita baca seumur hidup, dan Instagram memiliki lebih banyak gambar daripada yang dapat kita lihat seumur hidup.

Emosi yang keluar dari pengalaman seperti itu adalah kesepian dan bukan kebosanan, saat online kita selalu merasa menjadi bagian dari sesuatu, baik itu di kolom komentar  atau tombol like yang kita dapatkan di posting kita, begitu kita kembali untuk kehidupan nyata, kita menyadari bahwa tidak banyak orang yang menyukai kita dan ada hal-hal yang kurang menyenangkan untuk dilakukan.

Realitas Buatan menggantikan Realitas

Setelah facebook mengumumkan projek metaversenya , Saya takut pada suatu titik waktu ketika realitas buatan pada akhirnya akan menggantikan kenyataan.

Sementara dalam kehidupan nyata kita harus bekerja keras untuk makan, kita terus-menerus dikelilingi dengan masalah, dalam realitas buatan ini kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan dengan konsekuensi yang sangat kecil pada akhirnya.

Penting bagi kita untuk mulai mendefinisikan apa yang harus kita pertimbangkan sebagai standar manusia dan seberapa jauh kita diizinkan mengontrol perubahan ini.

Distraksi dan Utilitas yang Membingungkan

Tidak dapat disangkal bahwa produktivitas kita meningkat ketika kita online, kita dapat melakukan banyak hal dengan lebih cepat, mendapatkan akses ke lebih banyak informasi dan melakukan lebih banyak lagi, kita mempelajari beberapa tips di sana-sini di YouTube dan TikTok, tetapi saya kadang bingung apakah ini distraksi atau bermanfaat.

Kita mungkin mempelajari tips yang berguna di sana-sini tetapi itu setelah berjam-jam menonton konten yang tidak berguna, makanya kita harus memiliki tujuan ketika kita memutuskan untuk online atau mencari sesuatu di internet , untuk mengalihkan perhatian atau menghibur diri sendiri.

Dengan melakukan itu, kita akan menyadari bahwa Anda menghabiskan lebih banyak waktu untuk menghibur diri sendiri daripada hal lain.

Masyarakat dapat berkembang melalui produktivitas orang-orangnya dan sekarang kita memiliki semuanya dibandingkan zaman dahulu yang harus berjuang atau ada efort, saya sendiri merasakan media sosial menurunkan produktivitas dan mengalihkan fokus saya, dan karenanya harus diatur.

Saya sering berfikir juga bagaimana dengan anak – anak atau orang yang awam mempergunakan gadgetnya dengan emosional , yang emosinya tidak stabil , bagaimana mereka tidak mengontrol emosi, jari dan fikirannya , bagaimana masa depan mereka ya ?.

Dengan cara yang sama Anda tidak akan membiarkan anak-anak Anda bermain game sepanjang malam kan ?, Anda juga harus mengontrol aktivitas online mereka.

Baca Juga

Exit mobile version