Saya Sudah Mencoba, tapi Untungnya Gagal

Saya Sudah Mencoba, tapi Untungnya Gagal 1

Wah rasa-rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis di Digstraksi! Kali ini saya mau berbagi pengalaman pribadi, bisa dibilang pengalaman buruk, tapi bagi beberapa orang, ini merupakan bagian dari perjalanan hidup. Baiklah semoga kalian mampir dan membaca ini ketika sedang merasa putus asa.

Hari ini adalah hari Jumat, saya menulis ini di malam hari setelah mengerjakan Ujian Tengah Semester (UTS). Saya kuliah sambil kerja. Pagi sampai sore bekerja di kantor, sore sampai malam kuliah daring. Tapi saya menikmati kuliah saya, yang tidak saya nikmati adalah pekerjaan saya.

Sudah sejak lama hal ini terbesit dalam benak saya. Malam sebelum tidur, pagi bangun tidur, mandi di bawah shower, bahkan saat buang air besar. Saya memikirkan tentang b*nuh dir*. Saya frustasi. Trauma. Lelah. Menyerah. Tetapi saya juga bingung. Semua hanya memendam di dada dan kepala, tidak diutarakan maupun direlisasikan, pikiran itu hanya omong kosong, hingga pada akhirnya hari ini terjadi juga. Saya menenggak 9 pil  parasetamol dan 10 pil pereda nyeri dengan air kopi americano yang saya beli secara daring. 

Awalnya saya memang ragu, sebelum melakukannya pun saya riset dulu di internet. Hingga pada akhirnya saya mantap untuk menelan satu persatu pil parasetamol tersebut secara sembunyi-sembunyi karena saya melakukannya di kantor. Efeknya tidak langsung terasa, hanya saja perasaan saya berdebar-debar karena takut. Kemudain saya menggak 4 pil pereda nyeri satu persatu, dan 6 pil sekaligus. Di sini lah semuanya mulai terasa, mual, pusing, lemas, saya hampir pingsan, tapi kemudian saya diajak bicara dengan orang lain, lalu tidak jadi pingsan. Entah ini sebuah keberuntungan atau bukan bagi saya.

Efek yang ditimbulkan kemudian membuat saya berfikir untuk menyampaikan kepada rekan kerja saya, sehingga saya sampaikan bahwa saya telah meneggak pil untuk tujuan overdosis. Disinilah saya mulai ragu dengan pilihan saya. Apakah saya harus mat* atau tetap hidup? Saya sendiri ragu dengan jawaban saya. Kemudian rekan saya membelikan kelapa hijau dengan tujuan menetralisir obatnya, saya hanya minum beberapa mili saja. Namun setelah itu saya muntah-muntah secara berkala dan sering. Saya tidak menelan makanan apapun dari kemarin siang, jadi yang keluar hanya busa, lendir, cairan kopi americano, dan tersisa rasa pahit obat ketika mengeluarkannya. Saya berfikir mungkinkah ini pil yang tadi saya telan. 

Percobaan b*nuh dir* ini saya sampaikan ke tiga teman saya, yaitu rekan kerja, teman kuliah (saya sempat meminta tolong mencarikan psikiater daring melaluia dia), dan teman saya yang lain. Sore tadi saya diajak karaoke bareng dengan rekan kerja saya. Kedua teman saya yang lain keberadaannya jauh, beda provinsi, saya tidak tahu apa yang terjadi, namun kemudian beberapa teman saya yang peduli tentang kesehatan mental saya (saya pernah menulis tentang keinginan b*nuh dir* di media sosial saya) mencoba untuk menghubungi melalui chat. Disini saya mulai merasa banyak juga yang khawatir dengan saya. Sebagai informasi, saya disini tinggal sendiri dan tidak memiliki kedekatan yang berarti dengan orang tua dan keluarga saya. Teman-teman saya menanyakan kabar, lalu saya sampaikan apa yang terjadi. 

Perubahan fisik yang saya rasakan saat ini adalah, perut saya terasa sangat tidak enak, lalu badan saya seperti meriang tapi suhu masih normal, rasa mual masih ada namun tidak ada muntah sebab saya memang tidak makan. Rasa takut mati mulai muncul, jadi saya membeli 3 kaleng susu steril, tetapi saya tidak tahu apakah masih efektif atau tidak. Lalu yang saya takutkan adalah, ketika saya sudah menggak semua pil itu, nantinya akan berdampak panjang kepada organ-organ tubuh saya, saya akan sangat repot jika harus menjaga kesehatan saya kembali. Karena biasaya ketika kita dihadapkan pada kematian yang di depan mata, disitulah kita merasa sangat takut untuk mati. 

Mungkin kalian akan bertanya, apa yang membuat saya melakukan hal ini? Jawabanya adalah sangat rumit. Saya katakan di awal bahwa saya memang sudah berfikir untuk melakukannya, namun selalu urung. Hingga hari ini saya melalui beberapa masalah belakangan ini yang membuat semua masalah bahkan yang lalu kembali menyeruak ke permukaan. Kepala saya penuh, dada saya sesak, tangis saya pecah, air mata mengering. Saya tidak akan menceritakan masalah-masalah saya, di sini saya hanya ingin berbagi pengalaman bahwa mengambil jalan pintas membuat hidup semakin susah. 

Akhir kata, semoga cerita saya tidak menjadi inspirasi untuk melakukan b*nuh dir*. Saya hanya ingin berbagi pengalaman bahwa saya telah mencoba dan beruntungnya masih gagal. 

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

emde