Sebenar-Benarnya Teman Hidup (Menyatukan Hati)

Sebenar-Benarnya Teman Hidup (Menyatukan Hati) 1

‘Beruntungnya kekasihmu, mendapat pasangan yang pengertian sepertimu.’

‘Sepertinya kamu adalah kekasih idaman.’

‘Aku berharap Tuhan masih menyisakan pasangan sepertimu untukku.’

Menjadi idaman atau pasangan yang baik dalam sebuah hubungan tidaklah mudah. Butuh waktu cukup lama dan pengorbanan yang sangat berat. Amarah, kesedihan, air mata, dan kegelisahan yang cukup menguras emosi melengkapi tantangan dalam perjalanan sebuah hubungan.

Menyatukan dua pikiran yang berbeda dengan prinsip yang tak selalu sama tidak mesti dengan mulus dapat terselesaikan. Komitmen dan keinginan untuk saling memperbaiki adalah kunci utama agar dapat belajar menjadi pasangan yang lebih baik.

Pertama dan yang utama adalah komunikasi. Bagaimana bersikap kepada pasangan—akan terbuka atau menjaga privasi. Semua sesuai kebutuhan. Walaupun ada masa di mana kita membutuhkan kepekaan dari pasangan—melakukan apa yang kita mau tanpa kita minta, tapi kembali lagi bahwa pasangan kita bukan terlahir sebagai seorang cenayang yang mampu berkomunikasi dengan hal-hal tak kasat mata, termasuk kemauan kita yang tak terungkap.

Jadi, tak salah saat kita menyediakan waktu untuk berkomunikasi secara serius bersama pasangan. Mengupayakan komunikasi dengan pasangan berjalan lancar agar tak muncul kesalahpahaman di antara keduanya.

Memang tak mudah untuk memuluskan komunikasi. Ego dan akal sehat selalu bertempur untuk memenangkan haknya masing-masing. Idealnya, memenangkan ego untuk mengungkap keinginan saat pasangan sedang dalam keadaan baik serta mampu memenuhi, dan sebaliknya—memenangkan akal sehat untuk mengerti keadaan pasangan saat sedang tidak baik-baik saja.

Kedua dan tak kalah penting adalah memberikan ruang pada pasangan untuk menjadi dirinya sendiri. Bertanya tentang apa yang pasangan butuhkan untuk menjadi nyaman dalam menikmati hubungan berdua. Tak lupa juga menghargai segala hal yang membuatnya bahagia dan tidak membatasi pasangan untuk mencintai dirinya terlebih dahulu.

Saat pasangan menangis, memeluk lalu mendengarkan segala keluhnya setelah tenang dan mampu menguasai situasi adalah tindakan yang bisa jadi mengesankan untuk pasangan. Sesederhana itukah? Mungkin saja. Kembali lagi kepada komunikasi kebutuhan pasangan untuk dapat diperlakukan seperti apa.

Ketiga dan masih sama pentingnya, yaitu membiasakan untuk mengatakan terima kasih dan maaf kepada pasangan. Untuk hal sekecil apapun. Ya, apresiasi dan penghargaan terhadap keberadaan pasangan secara tidak langsung membuatnya merasa bahwa kehadirannya penting—bahkan untuk hal-hal kecil.

Sederhana saja, misal dengan mengatakan, ‘Terima kasih untuk hari ini, sudah menyediakan waktu untukku’ atau ‘Maaf ya, jika aku merepotkan’. Tak lupa juga menyisipkan kata ‘tolong’ untuk segala sesuatu yang membutuhkan bantuan pasangan. Ingat, sekecil apapun itu. Ketika berhasil untuk selalu memelihara energi positif bersama pasangan, maka hampir dapat dipastikan juga akan berpengaruh pada kehidupan bahagia bersama anak-anak nantinya.

Satu hal yang perlu kita ingat—bahwa tak ada kehidupan berpasangan yang selalu terbebas dari masalah dan konflik, tapi belajar untuk selalu memperbaiki kualitas hubungan sangat mungkin untuk dilakukan demi menjaga keselarasan bersama pasangan.

‘Kamu tahu apa tentang kehidupan berumah tangga?’

Setidaknya aku telah belajar dari berbagai hal, mulai dari teori, materi parenting, hingga pengalaman orang-orang terdekat. Memang tak selalu mendarat dengan mulus, terkadang pula merasa putus asa dengan jalan keluar yang tak kunjung ada.

Tapi, setiap mengingat komitmennya yang ingin selalu mampu menjadi pasangan terbaik untukku, membuatku bersedia kembali berusaha untuk mengatasinya bersama. Menemukan kembali alasan mengapa kami saling mencinta.

Pernah katanya, “Sekeras apapun kita mencari, tak akan mampu kita temui pasangan yang terbaik, melainkan kita membuat pasangan yang terbaik untuk diri kita sendiri, lengkap dengan mengapresiasi lebih dan memeluk kurangnya. Memang tak akan mudah, tapi mencintaimu, aku mau belajar bersama.”

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Annisa Istika