Seberapa Penting Rating Usia dalam Karya Sastra?


Seberapa Penting Rating Usia dalam Karya Sastra?

Apa Itu Rating Usia? Sebelum masuk ke pembahasan, alangkah baiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu rating usia. Secara mudahnya, rating usia adalah kelas dalam usia di buku-buku ataupun karya lain.

Ada 14+ yang mana boleh dibaca, ditonton, atau lainnya oleh mereka yang sudah berusia 14 tahun lebih, dan seterusnya.

Hal ini karena setiap karya memang diproduksi untuk dipasarkan sesuai dengan target pembaca atau penontonnya; dari anak-anak, remaja, sampai dewasa.

Polling Terkait Seberapa Penting Rating Usia

Saya pernah membuat polling di Instragram saya (khusus untuk meresensi buku, diskusi, dan beberapa hal lain yang saya gemari bersama teman-teman yang memiliki kegemaran sama).

Saya memberikan tiga pilihan (Penting sekali, penting saja, dan tidak penting) dari pertanyaan, “Menurut kalian, seberapa penting rating usia?”

Hasil polling-nya adalah:

Penting sekali: 78%

Penting saja: 17%

Tidak penting: 5%

Selain itu saya juga bertanya, “Apakah ada yang masih membaca atau pernah membaca buku tidak sesuai rating?”

Ternyata masih ada, tapi tidak banyak, hanya segelintir orang saja.

Jadi Seberapa Penting Rating Usia dalam Karya Sastra Itu?

Menurut saya, rating usia dalam karya sastra itu sangat penting.

Dahulu, saya pernah membaca buku tidak sesuai rating usia, saya merasa shock karena pembahasannya terasa tidak cocok untuk saya, selain pembahasannya tidak cocok, bahasa yang digunakan pun masih sulit dicerna untuk saya saat itu.

Mengapa saya bisa membaca buku tidak sesuai rating usia? Hal itu karena saya merasa masih kurang literasi dan edukasi, usia saya pun masih terlalu dini, karena terlalu bersemangat membaca saya jadi kurang teliti.

Dari hal ini saya belajar bahwa kita memang butuh lebih banyak membaca dan mencari tahu, hal itu semata-mata agar kita tidak terjerumus pada kesalahan.

Sama halnya dengan pernyataan bahwa malu bertanya sesat di jalan, malas membaca dengan teliti pun bisa menimbulkan kesesatan.

Karya sastra itu diproduksi untuk dipasarkan sesuai dengan targetnya, buku anak-anak dibaca untuk anak-anak, buku remaja dibaca untuk remaja, dan seterusnya.

Bahkan, di tempat saya menulis novel (platform online), penulis itu dituntut untuk memerhatikan dengan sangat rating usia yang penulis itu berikan terhadap karyanya, hal tersebut karena pihak perusahaan tahu bahwa jika seseorang membaca suatu karya sastra tidak sesuai rating itu bisa menimbulkan efek buruk.

Ambil contoh, jika kita (yang sudah masuk ke tahap remaja atau dewasa) membaca buku anak-anak, pasti kita akan merasa kalau buku tersebut tidak layak untuk kita baca, begitu pun untuk anak-anak yang membaca buku untuk pembaca dewasa, hal itu bisa memicu hal negatif, seperti memiliki pemikiran dewasa di usia terlampau dini contohnya.

Hal negatif tersebut bisa berupa implementasi buruk dalam keseharian, pemikiran buruk dalam kesendirian, dan lain sebagainya.

Buku memang jendela ilmu, tapi buku yang dibaca tidak sesuai usia juga bisa menimbulkan hal negatif.

Tidak mungkin, kan, anak usia enam tahun membaca buku filsafat yang biasanya dapat dipahami oleh para dosen?

Atau, seorang anak berusia tujuh tahun membaca buku lika liku pernikahan yang dijelaskan secara eksplisit? Mereka belum saatnya menggandrungi dunia itu.

Memang kedewasaan tidak dipatok oleh usia, tapi menurut saya–saya akan memfokuskan hal ini terhadap anak-anak–kalau seorang anak membaca sebuah karya sastra lantas memiliki pola pikir dewasa dalam hal positif mungkin baik-baik saja, akan tetapi, jika pola pikir dewasa itu malah mendorongnya ke ranah buruk, kan, sangat mengerikan?

Contohnya, anak berusia 12 tahun sudah berkeinginan untuk menikah karena membaca buku berisi romantisme pasangan muda atau anak-anak ingin memiliki suami di usia muda dan tidak mau meneruskan kuliah tanpa berusaha terlebih dahulu, benar-benar tidak wajar.

Hal tersebut dapat merusak citra baik sebuah karya sastra di pandangan orang-orang awam, hal tersebut juga dapat membuat orang-orang awam beranggapan bahwa karya sastra itu bukanlah suatu hal yang baik untuk dikenalkan kepada anak keturunan mereka.

Jadi mulai sekarang, mari membaca buku sesuai rating usia demi melestarikan budaya!