Sebuah Rasa yang Masih Tersisa


Sebuah Rasa yang Masih Tersisa 1

Beberapa hari yang lalu salah satu teman kampus ku mengajak untuk berdialog mengenai sebuah perasaan yang masih ada untuk mantan kekasihnya kemarin meskipun ia tahu bahwa perasaan itu salah dan hanya akan menyakiti perasaan pasangannya saat ini. Ada sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab sampai detik ini, alasan rasional tentang berakhirnya hubungan mereka meskipun menurutnya tidak pernah terjadi masalah besar dalam hubungan mereka.

Kesalahan pertama, ketika perasaan yang kemarin masih ada dan tidak benar-benar diselesaikan atau diakhiri namun mereka atau salah satu dari mereka membuat perasaan baru dengan orang yang baru. Pada akhirnya, ada sebuah rasa penasaran akan perasaan yang belum kelar tersebut.

Tidak salah ternyata ketika dua insan ingin membuka hati untuk orang baru namun sebelumnya mereka harus menyelesaikan perasaannya terlebih dahulu, alasannya agar tidak ada rasa yang tertinggal atau bahkan penasaran akan perasaan yang belum kelar itu.

Banyak diluaran sana yang berargumen bahwa seseorang harus mengikhlaskan sesuatu yang mungkin bukan di takdirkan untuknya. Pada realitanya, semua itu membutuhkan sebuah effort yang cukup besar dan juga keikhlasan.

Ada beberapa tahap yang harus dilalui oleh mereka ketika ingin mengikhlaskan sesuatu yang bukan ditakdirkan untuknya. Evaluasi, melupakan, nostalgia, dan yang paling tinggi adalah merelakan. Evaluasi dengan menggabungkan antara hati yang besar untuk menerima realita yang ada, perasaan yang jujur terhadap diri sendiri, dan pikiran yang terbuka untuk mengetahui alasan rasional mengapa hubungan yang tidak diharapkan itu bisa terjadi.

Tahap selanjutnya, seseorang akan mencoba sebisa mungkin dan sekuat mungkin untuk bisa melupakan semua hal yang berhubungan dengan mantannya. Ingin rasanya menghapus semua kenangan dan memori yang pernah dibuat bersama dahulu. Foto-foto romantis ketika masih bersama, tiket perjalanan atau bahkan tiket konser dan nonton di bioskop setiap hari Sabtu atau Minggu, bahkan hadiah-hadiah kecil ketika merayakan momen special yang dilakukan berdua semua dikumpulkan menjadi satu dalam kotak besar. Meskipun banyak sekali kemungkinan jika mengumpulkan memori fisik akan berakhir sia-sia juga, namun setidaknya berusaha melupakan sudah lebih baik untuk saat ini.

Semua memori fisik yang pernah tersimpan di kamar maupun di ruangan lain meskipun sudah dikemas dalam satu kotak besar, masih saja ada yang tertinggal. Kenangan yang lebih menyakitkan bukan pada kenangan dalam bentuk fisik, melainkan kenangan yang terekam pada hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam penyimpanan memori jangka panjang. Tahapan yang paling melelahkan sebenarnya dan tidak mudah memang, dipaksa untuk melupakan namun selalu teringat dengan jelas memori yang terjadi ketika diawal berkenalan, bertengkar, bahagia, sampai menyakitkan. Namun akan ada balasan setimpal yang akan diterima jika seseorang dapat melalui fase melelahkan ini yakni sebuah ikhlasan.

sumber: 

Photo by Simona Sergi via unsplash.com
sumber:  Photo by Simona Sergi via unsplash.com

Ketika seseorang sudah ada di tahap merelakan, berarti disadari atau tidak ia sudah ada di tahap mengikhlaskan seikhlas-ikhlasnya bukan hanya di mulut saja. Karena ketika seseorang sudah dapat mengikhlaskan apa yang bukan ditakdirkan untuknya, pasti akan digantikan dengan seseorang yang jauh lebih baik dari dia yang sudah cukup baik saat ini. Namun lagi-lagi semua bukan simsalabim langsung berada pada tahap merelakan ini, pelan-pelan saja semua akan selesai pada waktunya. Karena hanya kamu sendirilah yang tahu seberapa besar hati kamu untuk bisa merelakannya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rizka Lilis Karina

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap