Secret Admirer : Kisah Kasih di Sekolah


Secret Admirer : Kisah Kasih di Sekolah 1

“Indira! Mau sampai kapan kamu berdiri disana?”

Panggilan Gladis membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arahnya sebelum akhirnya ku tolehkan lagi pandanganku pada pria yang sesaat lalu aku pandangi.

“iya sebentar” jawabku pada Gladis pertanda aku memintanya untuk menungguku. Sebelum akhirnya aku memandang pria itu lagi.

Pria  itu tak sedikitpun menoleh ke arahku karena memang jarak kita yang cukup jauh. Aku di pintu kantin dan dia ada di kantin paling ujung. Dia Devan Alvaro pria tampan di sekolahku. Tampan, badboy, dingin dan terkenal, jika itu yang ada dalam benak kalian maka kalian salah.

Menurutku dia tidak tak terlalu tampan, tapi menarik. Dia juga termasuk pria baik hati, pintar dan ramah kepada semua orang tetapi dia tidak terlalu terkenal.

Aku sendiri merupakan murid biasa yang mengagumi seorang pria baik hati. Ya, aku menyukai Devan sudah sejak lama. Tapi aku bahkan tak berani menunjukkan batang hidungku di hadapannya.

“Indira!! Kamu dengar aku gak?” untuk kedua kalinya Gladis membuyarkan lamunanku.

“iya maaf, Dis. Kenapa?” ucapku penuh penyesalan.

“kamu mau sampai kapan mandangin Devan dari jauh? Kalau begitu kapan dapatnya?”

Gladis memang gadis cerewet yang setia menemaniku di sekolah selama ini. Tapi aku sudah terbiasa dengan sikapnya itu.

“gak tahu. Aku gak berani bahkan hanya untuk berpapasan dengannya. Mungkin belum saatnya untuk saling bertemu untuk saat ini”

“iya sih. Tapi harus ada usaha juga dong”

“iya ini juga lagi usaha” ucapku sambil terkekeh. Aku selalu senang menggodanya karena dia akan merajuk dan bergumam seperti anak kecil. Seperti yang aku katakan, dia mulai merajuk menghentak-hentakkan kakinya dan berjalan meninggalkanku.

Hari ini adalah mata pelajaran geografi, mata pelajaran kesukaanku. Tapi walaupun begitu, sesekali mataku memandang ke luar kelas. Biasanya di jam ini Devan akan berjalan menuju kelas dan melewati kelasku. Tapi setelah lama menunggu, tak ada tanda-tanda bahwa dia akan muncul.

“udah jangan ditunggu, kalau jodoh nanti juga tuhan ‘mempertemukan’ kalian” ucap Gladis. Aku tahu dia hanya menggodaku, tapi aku memilih menghiraukannya.

“Indira setelah jam pelajaran selesai, temui saya di ruang guru” aku terlonjak mendengar perkataan guru Geografiku.

“i…iya, bu” aku menoleh pada Gladis berharap dia dapat menjawab pertanyaanku. Tapi nihil, dia hanya menggelengkan kepalanya.

“baik, cukup untuk hari ini. selamat siang”

“terimakasih, bu” serentak kita satu kelas mengucapkan terimakasih.

“Gladis, kamu pulang duluan aja. Aku ke ruang guru dulu”

“Oke. Hati-hati di amuk Bu Nita” Gladis terkekeh sebelum akhirnya berlari menjauhiku.

Sesampainya di depan ruang guru jantungku berdegup kencang. Beberapa pertanyaan mulai muncul di kepalaku. ‘Apa aku akan dihukum karena memandang ke luar selama jam pelajaran?’ pikiranku kalut saat ini. tapi aku tetap melangkahkan kakiku menuju meja Bu Nita.

“S..Siang, Bu” sapaku pada Bu Nita.

“Siang. Kamu Indira kan?” aku mengangguk menjawab pertanyaan Bu Nita.

“saya lihat perkembangan kamu sangat pesat dalam mata pelajaran Geografi, maksud saya nilai kamu selalu bagus. kali ini saya ingin meminta kamu mewakili sekolah kita untuk mengikuti Olimpiade Sains bidang Geografi”

“saya bu? Sendiri?”

“enggak, nanti saya akan mencari satu orang lagi untuk bidang Geografi jadi nanti kamu akan mengikuti bimbingan dengan satu temanmu lagi”

“kalau itu keputusan ibu, saya akan laksanakan bu. Terimakasih sudah mempercayai saya”

“ya baiklah. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Selebihnya jika ada informasi lagi akan saya kabari nanti”

“baik bu. Kalau begitu saya permisi’

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku menjadi perwakilan sekolah dalam mengikuti olimpiade. Tapi rasanya berbeda mungkin karena sudah lama sekali dari terakhir kali aku mengikuti olimpiade seperti ini.

Agak kecewa sebenarnya hari ini. biasanya sepulang sekolah aku selalu duduk di depan post satpam hanya untuk melihat Devan pulang. Tapi hari ini suasana sekolah sudah sangat sepi.

***

Dan di pagi harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Sebelum sampai ke kelas namaku di panggil seseorang.

“Indira!!! Tunggu” nafasnya terengah-engah karena berlari.

“dipanggil Bu Nita ke kantor. Katanya ada perlu”

“oke. Makasih, Siska” aku segera melangkahkan kakiku menuju ruang guru.

Sesampainya disana mataku disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan. Devan, pria itu ada disana dengan Bu Nita. Ada apa ini? apakah dia yang akan ikut olimpiade?

Dengan degup jantung yang lain dari biasanya, aku mendekati meja Bu Nita. Dia menoleh sesaat setelah aku sampai di sampingnya.

“ahh Indira, kalian sudah kenal sebelumnya? Dia Devan, dia yang akan mewakili Olimpiade bidang Geografi denganmu. Ibu harap kalian bisa lebih akrab”

“iya Bu” ucapku berbarengan dengannya. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum canggung.

Aku keluar beriringan dengan Devan. Dari dekat ternyata dia sangat tinggi, aku bahkan harus mendongak untuk sekedar melihat wajahnya.

“jadi, apa ini kali pertamamu ikut olimpiade?” dia bertanya padaku dengan nada suara yang sangat lembut. Inilah moment yang aku impikan selama ini. sudah cukup meski hanya berjalan dan berbicara seperti ini.

“sebenarnya tidak. Tapi untuk bidang geografi ini memang pertama kalinya. Kau sendiri?” dia terlihat berpikir sejenak sebelum kemudian menjawab pertanyaanku.

“aku juga. Untuk bidang ini aku rasa ini pertama kalinya. Sebelumnya aku ikut di bidang astronomi atau kebumian” aku mengangguk menanggapi perkataannya.

“hhmm, semoga kita bisa saling membantu dalam bimbingan nanti. Dan jika ada apa-apa kau boleh menemuiku” dia berucap layaknya kita sudah kenal lama.

“oh iya, kau dari kelas mana?”

“tepat di samping kelasmu” aku tersenyum dan sangat yakin dia bisa mengerti maksudku. Karena tidak ada kelas lagi di samping kelasnya.

“ahh benarkah? Kenapa rasanya aku belum pernah melihatmu?”

“mungkin aku yang jarang keluar kelas” dan selalu menghindar jika bertemu denganmu. aku melanjutkan perkataanku dalam hati.

“baiklah Dev, aku duluan” ucapku saat telah sampai di depan pintu kelas.

“iya. Besok kita mulai bimbingan, jangan lupa” dia melambaikan tangannya padaku dan berlalu menuju kelasnya.

Aku memasuki kelasku, tak lupa senyum yang masih terpatri di wajahku. Rasanya saat ini dunia sedang berpihak padaku.

“ciiee dianterin calon pacar” Gladis benar-benar seorang penggoda yang handal. Dan baiknya dia hanya berbisik padaku sehingga anak kelas yang lain tidak mendengarnya.

“apasih kamu” aku sangat malu mendengar perkataannya.

“eh tapi kenapa tiba-tiba kamu bareng sama dia?” ahh benar juga, aku belum memberitahu Gladis perihal olimpiade itu.

Dan saat itu berakhirlah aku menceritakan hal yang aku alami dari kemarin hingga saat ini.

***

Selama kurang lebih setengah bulan ini aku dan Devan melakukan bimbingan bersama. Kadang dia juga mengajakku belajar bersama di luar sekolah. Aku sangat senang bisa bercengkrama dengannya.

Aku sudah sangat bersyukur dengan keadaan sekarang. Bahkan jika hanya bisa berteman dengannya saja, itu sudah cukup bagiku.

Dan hari ini, hari menegangkan yang aku rasakan. Hari dimana aku dan Devan akan bersaing dengan siswa-siswi dari sekolah lain untuk mendapatkan gelar juara. Apapun hasilnya nanti, setidaknya aku dan Devan sudah berusaha.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

xzzily

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments