Seindah Bunga Lili Putih


Seindah Bunga Lili Putih 1

Namaku Via, 7 tahun yang lalu, diera tahun 2004 aku seorang mahasiswa kebidanan di Kota Jogja,  Aku punya seorang kekasih, namanya Rafi, dia seorang polisi, kami sudah menjalin hubungan selama hampir 2 tahun. Dia seorang anak tunggal dari keluarga polisi juga. Sifatnya keras dan mudah marah, tapi disamping itu dia sangat menyayangiku. Selain Rafi aku juga punya orang misterius yang selama ini kurasakan kehadiranya walaupun tidak pernah kulihat wujud nyatanya.

 Ini dimulai sejak aku duduk di kelas 3 SMA pada tahun 2003, saat itu aku baru masuk sekolah dari ijin sakitku selama 8 hari karena  sakit tipes dan harus diopname, tiba-tiba di mejaku sudah ada fotocopy catatan-catatan pelajaran dan tugas-tugas sekolah  yang telah tertinggal karena sakit, dengan sekuntum bunga lili. Saat kucoba menanyakan kepada semua teman-teman dekatku, tidak ada satu orangpun yang tau tentang hal itu. Sejak saat itu dimejaku sering ada kejutan seperti : coklat, puisi, buku dan bunga lili yang tak pernah ketinggalan. heranya dia selalu tau sesuatu yang kuinginkan, seperti saat aku jalan-jalan dengan Nia teman kelasku, kami pergi ke Gardena saat itu, kemudian aku memilih sebuah tas lucu dan unik, aku ingin sekali membelinya tapi saat itu uangku tidak cukup untuk membeli tas itu, sempat  kecewa dan sedih saat itu, tak ku duga keesokan harinya tas itu sudah ada di mejaku.

Seindah Bunga Lili Putih 3

Kadang aku merasa dia seperti doraemon yang mempunyai kantong ajaib dan memberiku semua yang kubutuhkan saat itu. Dia bener-benar membuatku penasaran, dia sangat misterius dan tak terduga, tapi aku yakin dia adalah teman satu kelasku sendiri, karena saat ada tugas/PR sekolah dia selalu tau dan memberiku buku2 referensi yang dibutuhkan saat itu.

Sudah hampir 4 tahun berlangsung, bahkan perhatian dan kasih sayang Rafi belum bisa sebanding dengannya. Sudah hampir 2 tahun sejak aku jadian dengan Rafi aku mencoba menganggap dia tidak ada, aku tidak mau Rafi salah paham dan cemburu dengan orang misterius ini. Dulu aku dan nia pernah mencoba memecahkan teka teki ini, mencari siapa dia sebenarnya. Saat itu aku dekat dengan Doni teman kelasku, kami memang tidak sempat berpacaran, tapi sebenarnya aku menyukainya dan yakin klo dia juga mempunyai perasaan yang sama. Semakin dekat dengan Doni aku semakin yakin klo dia bukanlah orang yang kucari, ada juga Dadang teman satu kelasku, dia cowok yang pemalu, sering membuatkan puisi, membantuku membuat tugas sekolah, membelikanku sebuah asesoris, bahkan dia sempat nembak melalui surat. Tapi semua pemberian dadang seperti : surat-suratnya dan  puisi-puisinya semua tertulis jelas namannya “ From DADANG”, sedangkan dia…. Bahkan Inisial saja tidak dituliskan olehnya.

 Selain dadang dan Doni ada juga Firman, dia cowok yang suka mengumbar rayuan dan cinta, bukan hanya aku saja yang dirayu olehnya, semua cewekk dirayu sama dia. Aku yakin bukan dia. Pernah nia menebak seseorang, tapi aku rasa itu tidak mungkin. Dia bernama Arif Muhaemin, teman-teman memanggilnya dengan nama Arif, tapi aku dan Nia memanggilnya Mimin…hehehe, dia cowokk pendiam dan aneh, pertama kali masuk kelas tiga dan sekelas denganya sampai hampir lulus belum pernah aku bicara dengannya. Ini semua karena saat hari pertama masuk kelas baru, semua cowokk bersorak sorak dan memanggil namaku, saat aku menengok kearahnya, sambil bersorak sorak cowok-cowokk itu bilang “ Arif Love U” Hufttt… … Sejak saat itu aku in fell dan selalu memanggil dia dengan nama Mimin. Nama yang kamseupay sesuai dengan orangnya, dalam hatiku selalu berdoa semoga orang itu bukan Arif Muhaimin alias mimin.

Dulu saat SMA aku lebih banyak berteman dengan cowokk dibandingkan cewek, tapi sejak kuliah ambil jurusan kebidanan semua berbeda. Tidak ada bidan cowok, dan orang yang ambil jurusan kebidanan syarat yang utama adalah berjenis kelamin cewek. Itu sebabnya aku tidak punya teman cowok sekarang, teman kosku, teman kelasku dan teman seperjuanganku semua cewekk Hanya Rafi yang kumiliki sekarang, yang memperhatikanku, mengucapkan selamat ulang tahun untukku, mengajakku jalan-jalan, memberiku kado  dan mengantarkanku kemana aku mau. Tapi meskipun begitu tidak dapat kupungkiri klo masih ada orang misterius itu.

Hubunganku dengan Rafi sudah bisa dikatakan hubungan yang serius, aku sudah mengenal banyak tentang keluarganya. Begitu juga dengan Rafi. Tak jarang Rafi mengajakku ke acara formal keluarganya, begitu juga dengan aku. Kehadiran Rafi kadang membuatku lupa tentang orang misterius itu. tapi sering sekali aku merasakan ketidak cocokan dan ketidaknyamanan saat bersama dengannya. Sifatnya yang keras dan cemburuan membuatku tertekan, kekanak-kanakannya membuatku jenu, dia melarangku berteman dengan cowokk manapun, bahkan dia membatasiku bermain dengan sepupuku sendiri yang berjenis kelamin laki-laki, alasannya teman-teman sepupuku cowokk-cowokk dan dia takut aku jatuh cinta dengan salah satu teman cowokk sepupuku.  Dia selalu melarangku ini itu, aku merasa bosan dan tertekan oleh sifatnya, tapi hanya dia yang kumiliki saat ini, hanya dia yang bisa membantuku, dan hanya dia yang kusayangi saat itu.  

 Kegiatan kuliahku sekarang adalah Praktek Lapangan, kami sering menyebutnya dengan istilah PK, ini adalah PK ku yang ke 5 atau yang terakhir. Aku praktek disebuah RSU swasta yang baru, sebut saja namanya  “RSU Hidayah”, kebetulan pemilik RS itu  adalah orang tua dari teman SMA-ku yang bernama Ririn.  Saat praktek disitu aku berkenalan dengan dokter muda bernama Hendry, kakak dari Ririn pemilik RSU Hidayah itu. Aku beberapa kali ketemu dan jaga poli bersama, aku menjadi semakin dekat dan kenal dengan Hendry. Dia cowokk yang lumayan PD, banyak cewekk yang pernah jadi pacarnya. Kedekatanku dengannya hanya sekedar teman karena kami sudah punya pasangan masing-maisng. Aku tidak pernah melupakan Rafi dimanapun dan kapanpun berada, aku sadar statusku, saat ini, yaitu sebagai pacar Rafi, dan aku ingin menghargai hubungan ini.

 Hendry menawarkan pekerjaan setelah aku lulus nanti untuk langsung bekerja di RSU ini, dan dengan senang hati aku menyetujui tawaran Hendry. “Alkhamdulillah tidak perlu susah-susah cari kerja”, kataku. Sejak bertemu lagi dengan Ririn, kami jadi sering ketemu dan jalan bareng sambil mengenang masa-masa SMA dulu, andai saja Nia masih di Kota ini. Aku juga sempat cerita banyak tentang Cowok misterius yang sampai sekarang masih mengirimkanku kejutan kado-kado dan bunga lili setiap akhir pekan, meskipun aku sudah punya Rafi. Ririn juga sempat menduga2 dan menebak2, tapi kayanya semua tebakan tidak masuk dalam sasaran. Beberapa hari yang lalu kami sempat berbincang bincang tentang teman SMA dulu yang bernama Arif Muhaemin alias Mimin.

 Suatu hari saat disebuah Caffe Mall.

 “ eh Vi, kamu kenal Arif Muhaemin ga? Dia alumni SMA kita juga kan?”  Tanya Ririn sambil menikmati secangkir  Capucino di depannya.

 “iyah.. dia teman sekelasku waktu aku kelas 3”. Jawabku santai,

 “emang kenapa?” lanjutku

“Sekarang dia satu kelas denganku lho…” ujar Ririn mengagetkanku

“Satu Kelas???   jadi dia ambil jurusan kedokteran juga?” tanyaku terkejut

“ Iya, dengar-dengar si dia punya perusahaan bakso sekarang, anaknya baik dan kalem, kliatan alim dan pinter”. Kata Ririn menjelaskan, dan aku hanya manggut-manggut kurang tertarik mendengarkan.

“ terang aja Ririn bilang si Mimin kalem dan alim, dari dulu dia emang Kamseupya kok, apalagi klo ketemu denganku, kepalanya langsung menunduk kaya nyari jarum ditanah. Hufft”. Batinku. Beberapa saat setelah berbincang-bincang dengan Ririn sepintas kulihat sosok Rafi dengan seorang Cewek disebuah Conter Hp, kupandangi sosok itu dari kejauhan dan berharap itu bukan Rafi. aku mencoba mendekati sosok itu agar lebih jelas lagi, dan semakin dekat semakin jelas dan semakin yakin  klo itu Rafi.

“ Sedang apa dan dengan siapa dia? Kenapa kliatan sangat mesra dan romantic. Mereka tidak melepaskan gandengan tangannya meskipun sibuk memilih milih Hp di depannya”. Aku mencoba menahan sesaknya nafasku saat itu. hampir 15 menit aku memandangi mereka tanpa disadari oleh Rafi, aku tidak akan menyapa mereka sampai mereka menyadari keberadaanku saat itu, Ririn berusaha menenangkanku, genggaman tangannya semakin kuat kurasakan menandakan agar aku tetap tegar saat itu. Bebepara saat kemudian Rafi melihatku dan menyadari bahwa saat itu aku sedang mengamatinya, tapi herannya Rafi berpura-pura tidak melihatku atau bahkan tidak mengenalku. Aku semakin yakin klo hubungan mereka bukan sekedar teman biasa, Rafi pasti akan mengenalkanku dan menjelaskan siapa cewekk itu seperti biasa klo mereka benar2 berteman, tak lama kemudian Rafi dan cewekk itu meninggalkan tempat tersebut, dia berjalan sambil memeluk mesra cewekk itu. hatiku sangat sakit, aku merasa selama ini hubunganku baik baik saja dan tidak ada masalah apapun dengan Rafi, tapi kenapa Rafi tega melakukan hal ini padaku.

Selama tiga hari setelah kejadian di Mall kemarin aku dan Rafi tidak pernah berhubungan, baik lewat telp, sms ataupun bertemu langsung. Setelah kejadian itu HP Rafi sulit sekali dihubungi, berkali-kaliku telpon selalu dirijec, kadang sengaja tidak diaktifkan. Ingin sekali aku bicara dengan Rafi, berharap Rafi mau menjelaskan kejadian yang sesungguhnya. Sampai pada akhirnya, di hari minggu saat libur kuliah,  aku putuskan menghubungi dia lewat Wartel depan kosku ( Tahun 2006, masih jamanya pake wartel), mungkin dengan nomer yang berbeda Rafi mau mengangkat telponnya. Ternyata benar, beberapa saat setelah terdengar bunyi tuttt… dari pesawat telpon wartel Rafipun mengangkat Hpnya.

“ Hallo, dengan siapa ini?” Saut Rafi terdengar dari pesawat telpon itu.

“ Hallo Rafi, ini Via”. Jawabku

“ Oh… ada apa?” sambungnya dengan nada ketus. “Ya allah kenapa dia sebegitunya, bukanya harusnya aku yang marah, sabar… sabar.” Ucapku dalam hati, kemudian aku menyambung kembali percakapanku dengannya. 

“ Rafi aku hanya ingin kamu sekarang menjelaskan hubungan kita”. Sambungku

“ Bukanya sudah jelas!, bukanya kemarin kamu sudah liat sendiri kenyataannya, buat apa diperjelas lagi”. Mendengar jawaban dari Rafi hatiku yang sudah sakit saat itu bagaikan di tusuk ulang oleh sebuah pedang. Sakit sekali sampai tidak bisa lagi berkata-kata. Kututup langsung telpon tanpa permisi, bekali-kali ku usap air mataku yang keluar tiada henti, sampai malu untuk keluar dari ruangan wartel itu. aku menunggu lama di ruangan itu, sampai hampir 20 menitan hatiku baru mulai agak tenang, untung watelnya tidak antri. Setelah kluar dari ruang wartel aku berlari menuju  kosku yang tepat berada di seberang wartel itu, aku masuk kedalam kamar dan mencari semua barang pemberian Rafi serta foto2 dan kenangan2 saat bersamanya, aku mengambil korek dan kubakar semua barang itu, kulihat api semakin membara membakar foto2ku bersamanya, air mataku bercucuran, aku tidak menyangka hubunganku dengan Rafi putus dengan cara seperti itu.

 Hari terasa begitu lama sejak kejadian itu, yang kuingat hanya Rafi dan Rafi. Keesokan harinya, saat aku mau berangkat ke kampus, sekuntum bunga lili dan sepucuk surat sudah berada di depan kamar kosKu. Aku yakin ini pemberian dari orang misterius itu. ku ambil dan kubaca suratnya.

Assalamu’alaikum

Dear Via

Aku harap kamu tidak lagi bersedih, aku yakin Tuhan punya jalan lain yang lebih baik untukmu. Aku selalu berdo’a untukmu agar kamu mendapatkan pengganti Rafi yang jauh lebih baik dan mencintaimu. Ini bukan berarti aku mengharapkan kamu jadi miliku, buat aku bisa melihatmu bahagia sudah cukup tanpa harus memilikimu. Yakinlah suatu saat kau akan menemukan kebahagiaanmu lagi, tersenyumlah dan cerialah.

Dari orang yang menyayangimu.

Setelah membaca surat itu akupun tersenyum dan malu, sepucuk surat itu sedikit menenangkan hatiku, meskipun tidak bisa kulihat dia, ternyata dia selalu ada. Sudah 4 tahun lebih dia melakukan hal ini padaku, tidak bosankah dia… siapa dia?, kenapa dia tidak mau terus terang. Kapan aku bisa bertemu dengannya, ke alamat mana aku bisa membalas suratnya. Entahlah aku tidak mau lagi memikirkan tentangnya, dulu waktu SMA aku sudah berusaha untuk mencari tahu siapa dia, dan sekarang aku tidak punya waktu lagi untuk mencari-cari lagi siapa dia, toh klo jodoh ya ketemu.

Aku mencoba tegar dan melanjutkan hidupku meskipun tanpa kekasih yaitu Rafi.  Sudah 2 tahun berjalan setelah aku putus dengan Rafi, sekarang aku sudah lulus bekerja di Rumah sakit Hidayah milik keluarga Ririn. Aku semakin dekat dengan dokter Hendry kakak dari Ririn, 2 tahun berteman dengannya selama itu pula dia sudah berganti pacar sampai 8 gadis, dia memang punya pesona untuk menggait perempuan manapun, tapi hubunganku dengannya tidak pernah lebih dari teman. Aku tidak pernah punya perasaan lebih untuknya, selain teman dia juga kadang aku anggap sebagai kakaku sendiri.

Sekarang dr. Hendry menjabat sebagai Direktur Pelayanan Medis di Rumah sakit itu, suatu hari dia memanggilku keruangannya, dan mengenalkanku pada dokter umum yang baru.“ Via ini dr. Arif, yang akan jaga di UGD”.  Kata dr. Hendry  mengenalkanku dengannya. “dr. Arif ini Via, dia yang akan memperkenalkan dokter dengan lingkungan rumah sakit ini.” Sambung dokter Hendry. Orang yang dipanggil dokter Arif itu menjulurkan tangannya. Dan akupun menjangkaunya, tangannya begitu dingin, wajahnya juga pucat seperti orang yg sedang grogi. Aku mengenalnya, dia adalah Mimin. Tapi dia Nampak sangat berbeda dengan dulu, dia lebih rapih, yang jelas lebih putih dan badanya yang dulu kurus kering sekarang jadi berisi dan tinggi. Tapi kenapa dia terlihat grogi, atau mungkin ini karna pengalaman kerjanya yang baru.

“ Mimin kan?” Sapaku mencoba mencairkan suasana agar dia tidak lagi grogi. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. “ Mari dok saya perlihatkan dulu ruangan yang ada”. Sambungku sambil mempersilahkannya. Kami berjalan2 keseluruh ruangan, kulihat dia tidak lagi grogi, senyum ramahnya membawakan kharisma pada dirinya, Mimin yang dulu aku anggap sebelah mata dia tidak lagi seperti dulu. Pendidikan dokternya merubah dia drastis, dia sungguh berwibawa dan ramah. Dia juga jauh lebih tampan dari yang kulihat dulu.

 Pada suatu hari saat aku piket jaga bersama dr. Arif alias Mimin, disela-sela waktu aku mencuri pandang dan mengamatinya saat dia sedang menghadapi pasien, dia terlihat professional dalam melayani dan menangani pasien, kadang aku berharap orang misterius itu menjelma menjadi Mimin, hehehe orang yang dulu tidak kuharapkan kini justru menjadi orang yang paling aku harapkan. Perawat dan bidan-bidan lain memberitahuku klo dokter Arif sangat ramah dan sopan, dia selalu tersenyum dan menyapa siapa saja, tapi heranya… selama ini dia belum pernah menyapaku duluan, bahkan kadang meskipun melihatku dia berpura-pura tidak melihat, setiap kali papasan dia hanya menunduk seperti dulu waktu SMA. 

Suatu malam, hujan begitu lebat diiringi oleh angin yang besar. Aku sedang membeli nasi goreng yang terletak tidak jauh dari Kosku. Kulihat Mimin sedang makan di warung itu, dia sendirian, dia sedang menikmati nasi goreng dan teh hangat. Aku mendekatinya dan kusapa dia, dengan duduk di depan mejanya.“ dokter Arif” sapaku

“eh… Via.” Jawabnya, seperti biasa lagi-lagi dia bersikap aneh dan grogi, apa itu penyakitnya setiap kali bertemu denganku seperti itu.

 “dokter makan disini juga? Emang dokter  tinggal dimana sekarang?” tanyaku

“ Iyah, kebetulan saya habis dari rumah teman, kamu kesini pake apa? Bukanya hujan sangat deras saat ini.” Kata dr. Arif

“ naik motor dok, tadi pas saya keluar dari kos hujannya belum terlalu besar, baru gerimis aja. Sekarang malah besar banget.” Jawabku

“ klo gitu makan disini aja, ga usah dibungkus, sambil menunggu hujan reda.”katanya lagi,  Tumben-tumbenan dia ngajak aku makan bareng, yah… ga sengaja si tapi lumayanlah bisa ngobrol, Akupun memutuskan makan disitu bareng Mimin. setelah selesai makan dokter arif menawarkan untuk nebeng di mobilnya karena hujan masih lumayan deras, nanti motorku biar dititipkan dulu katanya. Aku menyetujui tawarannya. Meskipun agak ragu untuk meninggalkan motorku disini, apalagi besok harus kerja naik motor. tapi kapan lagi bisa ngobrol bareng dengannya, diakan selalu menghindar dariku. Lagian besok aku bisa jalan kaki kesini dari kos, ga terlalu jauh ini. Sampai di kos aku mendapatkan lagi bunga lili itu lagi, suasana hatiku saat itu sedang berbunga-bunga bagai bunga lili, entah kenapa aku sendiri bingung. Apa karena bunga lili itu atau justru karena habis asyik ngobrol dengan Mimin. andai saja orang itu benar-benar mimin alias dokter arif. Hehehe…

Keesokan harinya, saat aku bergegas mau berangkat kerja dan ambil motor, tiba-tiba motor itu sudah ada didepan kosku beserta kuncinya. Kejutan itu mengingatkanku pada orang Misterius itu. “benarkah dia Mimin????” pikirku dalam hati

Hari demi hari, seiring waktu terus berjalan, aku dan mimin tak jarang lagi bertemu, kadang kita sempat makan siang bareng dan ngobrol2. Mimin terlihat sering bersama Hendry, mereka sering sekali bersama. Entah apa yang bergejolak dihatiku saat itu, setiap kali melihat mimin aku selalu bersemangat, ingin menyapa, dan mengobrol dengannya. Kadang sepintas aku merasa sosok orang misterius itu ada pada diri Mimin, disaat aku sedang lapar dan tidak sempat membeli makan siang, dia datang mengantarkan soto kudus kesukaanku, saat mengantuk dan lelah karena habis menolong partus (melahirkan) dia datang memberiku secangkir Capucino kesukaanku, dia sering memberiku silverqueen Bites Almond kesukaanku, entah dari mana dia tahu semua kesukaanku, dan kebutuhanku saat itu. Sejak kehadiran Mimin sekarang aku jadi merasa dekat sekali dengan orang Misterius itu, dan harapanku sekarang Mimin adalah orang yang kucari selama ini.

Ini adalah hari Ulang Tahun “RS Hidayah”, untuk memperingatinya Tim Menegemen dan Marketing sengaja mengadakan Khitanan Masal gratis dan lomba balita sehat, aku seorang bidan jadi posisiku ditempat perlombaan balita sehat, sedang mimin berada di khitanan masalnya, acara dimulai dari jam 9 pagi sampai dengan jam 13 siang. Setelah acara selesai semua orang terlihat lelah dan kusam, apalagi dari Tim panitia yang kebetulan aku termasuk didalamnya. Aku sengaja keruangan periksa anak yang kebetulan kosong karna dokter anaknya tidak ada jadwal saat itu untuk beristirahat dan merebahkan badanku di bed periksa. Saat kurebahkan badan ini dan kunyalakan AC ruangannya beberapa menit kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Mendengar suara ketukan pintu akupun langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas membuka pintu. Orang itu membawakan bunga lili persis dengan bunga yang selalu dikirimkan oleh orang misterius itu selama kurang lebih 6 tahun ini. Mataku melotot dan mulutkupun bengong melihatnya, aku sangat terkejut saat itu. “ Mimin…kau… kau kah orang itu”. ucapku terbata bata. Dia memberiku bunga itu dan kemudian bicara “ Maaf ini ada pesanan dari dr. Hendry, aku diberi amanat untuk memberikanya padamu”. Mendengar kata-katanya tubuhku menjadi lemas serasa tanpa tulang, aku yakin  klo bunga itu bukan dari Hendry, aku yakin seyakin yakinnya klo itu dari Mimin. aku kenal Hendry, dia tipe cowok yang anti memberikan bunga pada cewek. Akupun menerima bunga itu sambil mengucapkan sesuatu “ Ooooh… sejak kapan Hendry suka memberikan bunga pada wanita, dan sejak kapan kamu jadi pengantar bunga dari orang lain.” Ucapku Tegas dan mencoba menahan kecewa.

“dr. Hendry bilang dia malu klo harus mengantarkannya langsung, dia juga tidak punya keberanian karena selama ini kamu hanya menganggapnya teman ataupun kakak.” Sambungnya mencoba menjelaskan kepadaku. Akupun tidak peduli dengan apa yang dikatakannya, aku berjalan pergi meninggalkannya menuju tempat parkir dimana motorku berada, tak peduli dengan apapun saat itu, aku hanya ingin pulang dan beristirahat di Kos, aku merasa Cape dan lelah. Bukan hanya fisikku yang kurasakan cape tapi juga hatiku setelah menghadapi Mimin barusan. Sesampai ditempat parkir tepat berada di sebelah motorku, aku berhenti dan menarik nafas panjang-panjang, saat itu aku merasakan kekecewaan yang amat dalam, entah kenapa aku merasa seperti itu, mungkin karena saat ini aku mengharapkan Miminlah yang memberiku bunga itu, Miminlah yang mengaku klo dia sebenarnya orang Misterius itu. beberapa detik setelah aku berada di sebelah motorku tiba – tiba seseorang menarik tanganku dan mengajakku pergi dari tempat itu, aku berjalan mengikuti langkahnya dengan memandangi wajahnya saat itu, tidak ada sepatah katapun, dia hanya diam dengan terus membawaku menuju mobilnya,sampai dimobil diapun membukakan pintu mobil sebagai tanda untuk menyuruhku duduk dimobil itu, gas mobilpun mulai di tarik setelah kami berdua duduk, kami berjalan menyusuri jalan tanpa sepatah katapun. Aku terus memandanginya, melihatnya menyetir, diam dan terlihat sangat dingin. Tiba didepan  disebuah Warung bakso, dia menghentikan mobilnya. “Apa yang mau dia lakukan?” Batinku, tapi aku hanya bisa diam saat itu. “ Kamu mungkin sudah lupa dengan tempat ini”. Katanya kepadaku, aku hanya diam dan berusaha mendengakannya, sepertinya dia ingin menceritakan sesuatu untukku.

“Kurang lebih 11 tahun yang lalu, ada sebuah kebakaran besar  sampai menelan beberapa korban disini, salah satunya adalah  seorang Ayah dengan anaknya yang sedang berjualan bakso saat itu, dia adalah ayah dan adikku. Aku berada disana saat itu, tapi Allah menyelamatkan nyawaku. Juga dengan ibuku yang saat itu luka parah, saat melihat kondisi ibuku aku berteriak meminta tolong, tapi saat itu tak seorangpun dapat menolong kami karena mereka disibukan oleh Api dan berusaha memadamkannya. Aku berlari kesana kemari mencari pertolongan, sampai datang sebuah mobil merah, mobil itu berhenti, aku melihat seorang laku-laki  bersama keluarganya keluar dari mobil itu dan menolong kami, mereka membawa kami ke rumah sakit, bukan hanya itu saja, mereka juga bersedia membiayai biaya rumah sakit ibuku yang saat itu harus menjalani operasi. mereka adalah ayahmu, ibumu dan kamu, keluargamu bagaikan Dewa penyelamat untuk Ibuku dan aku. Tanpa keluargamu mungkin aku dan ibuku pergi bersama ayah dan adikku saat itu. Kami bisa menjalani kehidupan kami kembali dengan bersusah payah karena tidak ada lagi ayah yang membantu kehidupan kami. Saat aku masuk SMA aku melihatmu lagi, bidadari penyalamatku satu sekolah denganku, setiap hari aku mengamatimu dari jauh, memperhatikanmu tanpa sepengetahuanmu. Aku ingin sekali berkenalan dan tahu siapa namamu, orang yang kuanggap malaikat tapi tak bisa kutahu siapa namanya. Kemudian saat masuk kelas tiga, betapa bahagianya aku karena aku bisa satu kelas denganmu. Kau sangat cantik dan mempesona, hatimu baik, tulus, putih bagaikan bunga lili. Banyak sekali anak2 cowok yang membicarakan kecantikan dan kebaikanmu, kamu bagaikan piala yang berusaha direbutkan oleh semua anak cowok di SMA itu. Untuk pria seperti aku pada saat itu pastinya tidak level untukmu. Aku sangat kumuh. Bajuku kotor, aku hanya anak yatim yang tidak punya apa-apa, tapi aku mendapatkan kebahagiaan saat aku bisa melihatmu tersenyum. Aku tidak perlu menjadi pacarmu atau temanmu, bisa melihatmu bahagia sudah cukup puas untukku. Karena itu aku berusaha membuatmu senang, mencoba memberikan apa yang kau butuhkan semampuku.

 Saat kelulusan SMA aku mendengar bahwa kamu mendaftar Akbid di kota ini. Dan saat itu aku bekerja keras membantu ibuku berjualan bakso keliling dan belajar tengah malam agar aku bisa menjadi dokter, agar suatu saat aku bisa bertemu denganmu lagi di tempat kerja. Allah selalu mendengarkan doaku, aku kuliah di Universitas kedokteran, aku tidak malu untuk berjualan bakso di depan kampusku,membuka rental ketikan untuk teman2 kelasku, disiang hari aku berjualan bakso dan dimalam hari aku mengetik tugas2 teman yang tidak bisa dikerjakannya sendiri. Sekarang warung bakso ini menjadi besar, ada beberapa pelayan dan karyawan yang bernasib sama sepertiku, yaitu anak yatim yang mencari uang untuk biaya sekolah. Aku bersyukur bisa menjadi dokter dan memajukan usahaku, dan kau tahu apa yang membuatku bisa seperti ini?, itu karena kamu Via, aku mengejar cita-citaku dan  impianku hanya untuk bisa melihatmu tersenyum”. Mendengar ceritanya aku hanya bisa diam dan tak bisa berkata kata, aku hanya bisa membatin dalam hati saja, mataku berkaca kaca ingin mengeluarkan air mata. Ya Allah… ceritanya bagai sebuah sinetron, apa aku seberharga itu untuknya, kenapa selama ini aku tidak tahu betapa beruntungnya aku, aku merasa sangat dimuliakan olehnya, pantas kah aku? Semuliakah itu aku? Bahkan aku sendiri merasa sangat tidak pantas mendapatkan piala penghargaan seperti ini. Aku ingin mengucapkan terimakasi banyak padanya, tapi mulut ini terasa terbungkam, aku ingin sekali memeluknya tapi serasa ada yang mengikat tanganku. Andai kau tahu Mimin, tidak ada orang lain lagi yang kuharapkan saat ini selain kamu, pengorbananmu, ketulusanmu, kesetiaanmu… siapa lagi yang dapat menandinginya. Beberapa saat kemudian dia memegang tanganku dan berkata  “Aku melihatmu bahagia saat bersama Hendry, senyum ceriamu kembali bersemi saat kau bersama Hendry, dua hari yang lalu Hendry mengatakan padaku agar aku membantunya memberitahukan perasaan dia sebenarnya kepadamu. Dengar Via, aku tidak berharap kau jadi milikku, aku hanya berharap kau bisa tersenyum dan bahagia”.

“ Tidak… kamu salah mimin”. Kataku dengan nada keras, kemudian aku melanjutkan kata-kataku “Dengar mimin, aku tidak pernah menyukai Hendry,  setiap kali aku melihatmu aku merasa ada sesuatu yang beda dihatiku, aku ingin sekali menyapamu, memberikan senyum untukmu, mengobrol denganmu. Tapi setiap kali aku melihatmu, kau selalu bersama Hendry. Senyum ceria itu aku berikan untukmu, bukan untuk Hendry.”  Dia menatapku mendengar kata-kataku, tatapannya memberikan gambaran seakan dia tak percaya, mungkin dia fikir aku mengatakan itu karena telah mendengarkan ceritanya tentang diriku. “Benar Min, sejak aku putus dengan Rafi 2 tahu yang lalu, aku hanya menunggu orang pengirim bunga lili itu datang, dan setelah aku bertemu dengamu aku selalu berharap kau lah orang itu. aku tidak menyukai Hendry, tapi aku menyukaimu, aku menunggumu, dan aku yakin hanya kau yang tulus mencintaiku.” Sambungku .

Mendengar itu Miminpun memelukku dan berkata  “Terima Kasih ya Allah, engkau berikan aku bidari yang selama ini ku impikan”. Setelah itu Mimin mengajakku turun dari mobil dan membawaku ke Warung baksonya yang berada depan mobil. Dia memperkenalkanku dengan ibunya, ibunya sangat meresponku dengan baik, dia juga mengucap banyak syukur klo akhirnya bisa bertemu denganku. Ibunya tahu klo selama ini begitu banyak yang dilakukan mimin untuku. Saat ini aku hanya bisa berkata Terima Kasih Tuhan…


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ana Amalia R

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap