Sejarah Hari Ulang Tahun DKI Jakarta

Sejarah Hari Ulang Tahun DKI Jakarta

Pada tanggal 22 Juni 2022, Ibu Kota Indonesia yakni Kota Jakarta akan merayakan Hari Ulang Tahun yang ke- 495.

Pada usianya tersebut sudah banyak momen penting yang sudah dilalui diantaranya penetapan hari jadi Kota Jakarta.

Bagaimanakah perjalanan sejarah  HUT Jakarta? Berikut rangkumannya yang dikutip dari sejumlah sumber

Jakarta, resmi bernama Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta atau sering disebut DKI Jakarta, merupakan ibu kota negara dan merupakan kota terbesar di Indonesia.

Jakarta menjjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mempunyai status setingkat provinsi.

Jakarta berada di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa. Dahulu, Jakarta dikenal dengan sejumlah nama, diantaranya Sunda Kelapa, Jayakarta, serta Batavia.

Di dunia, Jakarta mempunyai julukan J-Town, atau lebih populer lagi The Big Durian karena dirasa kota yang sebanding New York City (Big Apple) di  NKRI.

Jakarta mempunyai luas sekitar 664,01 km persegi (lautan: 6.977,5 kilometer persegi), berdasar data (BPS) Badan Pusat Statistik  menyebut bahwa penduduk DKI Jakarta di tahun 2020 telah mencapai 10.562.088 jiwa.

Dalam sejarahnya, DKI Jakarta sudah beberapa kali berganti nama. Mulai dari Sunda Kelapa (pada 397–1527), Jayakarta (pada 1527–1619), Batavia (pada 1619–1942), Jakarta (1942–sekarang).

Sementara itu penyebutan Ibu Kota DKI Jakarta dimulai pada tahun 1998 sampai sekarang.

Baca juga  Hutan Kota Jakarta yang Siap Dikunjungi Kembali Paska Era Covid-19

Nama Jakarta telah dipakai sejak masa kedudukan Jepang tahun 1942, untuk menyebut area bekas Gemeente Batavia yang diresmikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905.

Nama “Jakarta” adalah kependekan dari kata Jayakarta, yang diambil dari Bahasa Dewanggari atau lebih dikenal Bahasa Sanskerta yang diberikan oleh tokoh Demak dan Cirebon pimpinan Fatahillah (Faletehan) setelah berhasil menduduki pelabuhan Sunda Kelapa tanggal 22 Juni 1527 dari bangsa Portugis.

Nama Jakarta diartikan sebagai “kota kemenangan” alias “kota kejayaan”, akan tetapi sejatinya berarti “kemenangan yang diperoleh oleh sebuah perjuangan atau usaha” karena berasal dari 2 kata Sanskerta yaitu Jaya yang bermakna “kemenangan” dan Karta yang bermakna “dicapai”.

Bentuk ejaan lain nama kota ini telah sejak lama dipergunakan. Sejarawan dari Portugis, João de Barros, dalam Décadas da Ásia (1553) memaparkan keberadaan “Xacatara dengan sebutan lain Caravam (Karawang)”.

Sebuah (piagam) dokumen dari Banten (k. 1600) yang dibaca oleh ahli epigrafi Van der Tuuk juga menyebut istilah wong Jaketra, demikian juga nama Jaketra juga disebutkan pada surat-surat Sultan Banten dan Sajarah Banten sebagaimana telah diteliti Hoessein Djajadiningrat.

Bahkan, Laporan dari Cornelis de Houtman tahun 1596 menyebutkan Pangeran Wijayakrama sebagai koning van Jacatra atau raja Jakarta.

Baca juga  Jakarta - Jogja, Pake Motor? Begini Persiapan yang Perlu Kamu Lakukan

Untuk diketahui, di abad ke-17, Indonesia berada dibawah kekuasaan Kongsi Dagang Hindia Timur atau VOC. Salah satu dirut VOC yaitu Gubernur Jenderal Jan Pietezoon Coen mendirikan benteng di dekat muara Sungai Ciliwung di tahun 1617.

Kemudian, pada tahun 1618, Inggris datang. Coen pun pergi menuju Banda, Maluku guna mencari bantuan.

Sementara itu anak buahnya tetap bertahan di wilayah sekitaran Sungai Ciliwung (Jakarta saat ini) guna menahan gempuran Inggris yang bersekutu dengan Pangeran Jayawikarta, yang merupakan seorang adipati kota Jayakarta.

Kota Jayakarta berkembang pesat sebagai kota pelabuhan yang sangat sibuk. Para pedagang dari India, Arab, Tiongkok dan Eropa serta dari Negara-negara belahan dunia lainnya saling bertukar komoditi/barang.

Bahkan, di tahun 1619, Pemerintahan Belanda melalui VOC di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen meluluh lantahkan Jayakarta kemudian membangun kota baru yang terletak di barat sungai Ciliwung, yang dinamakan Batavia.

Nama ini diambil dari Batavieren, nenek moyang bangsa Belanda. Batavia direncanakan dan dibangun mirip dengan kota-kota di Negara Belanda, yakni dibangun dalam bentuk blok, masing-masih dipisah oleh kanal dan dilindungi oleh dinding sebagai benteng, serta parit.

Batavia ini rampung dibangun pada 1650. Pada zamannya, Batavia merupakan tempat tinggal bangsa Eropa, sementara bangsa Tiongkok, Jawa dan penduduk asli lainnnya disingkirkan ke tempat lainnya.

Baca juga  Destinasi Wisata Baru Untuk Warga Jakarta di Kemayoran

Perkembangan Kota Jakarta Berdasarkan data dari BPS tahun 2021, jumlah penduduk Jakarta sebanyak 10.609.681 di 2021.

Laki-laki mendominasi dengan total 5. 349. 641 jiwa. Sementara itu, jumlah penduduk perempuan tercatat sebanyak 5. 260. 040 jiwa .

Kendati begitu, pertumbuhan penduduk perempuan dirasa lebih tinggi dari laki-laki. Pembangunan Jakarta yang sangat pesat sejak awal tahun 1970-an, sangat banyak menggusur perkampungan etnis Betawi menuju pinggiran kota.

Pada tahun 1961, orang Betawi masih mempunyai persentase terbesar di wilayah pinggiran seperti Cengkareng, Kebon Jeruk, Pasar Minggu, hingga Pulo Gadung.

Terlebih saat ini, Ibu Kota Jakarta  menjadi magnet untuk sebagian besar masyarakat Indonesia.

Banyak masyarakat dari luar Jakarta berbondong-bondong mendatangi Ibu Kota untuk usaha maupun mencari pekerjaan serta menempuh pendidikan.

Hari Jadi Jakarta Penetapan HUT atau hari ulang tahun DKI Jakarta pada tanggal 22 Juni merupakan keputusan politik yang diambil oleh Wali Kota kelima DKI Jakarta yakni Sudiro pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, tepat pada tahun 1953 hingga 1960.

Yang artinya, tahun 2022 ini DKI Jakarta sudah merayakan hari jadinya yang ke-495. Penetapan tanggal 22 Juni adalah tanggal di mana orang-orang Demak serta Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah atai Faletehan berhasil menduduki dermaga atau pelabuhan Sunda Kelapa di tanggal 22 Juni 1527 dari Portugis.

Sesudah dibahas kemudian ditetapkanlah 22 Juni 1527 sebagai berdirinya Kota Jakarta. Hal tersebut tertuang dalam keputusan DPR kota sementara dengan No 6/D/K/1956.

Melalui PP No 2 Tahun 1961 juncto UU No 2 PNPS 1961 yang dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rudymicro