Semangkuk Bubur Ayam Spesial


Semangkuk Bubur Ayam Spesial 1

Bubur lagi, Bu?” tanya anak perempuan sambil mengucek-ngucek matanya.

Seorang wanita yang sedang menata bubur di tikar usang itu menoleh. Dia tersenyum ramah kepada anak perempuan yang baru bangun tidur itu.

Si ibu mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Sekarang Nay mandi dulu. Setelah itu baru sarapan.”

“Siap, Bu!” jawab si anak sambil hormat.

Wanita itu tersenyum melihat anaknya tetap ceria. Kebahagiannya sangat sederhana bisa melihat kedua putrinya selalu ceria merupakan kebahagiaan tersendiri.

Setelah tiga mangkuk bubur dengan kecap dan kerupuk terhidang, Asih pun melihat putri bungsunya yang masih tidur.

“Lala, bangun, Nak.” Asih mengusap lembut pundak anaknya.

Lala pun menggeliat. Kemudian, mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia bangun dengan malas karena kantuk masih setia menemaninya.

“Lala masih ngantuk, Bu.” Gadis kecil berusia tujuh tahun itu memajukan bibirnya.

“Tapi sudah subuh, Lala harus bangun untuk salat.”

“Setelah Kak Nay selesai mandi, Lala mandi, ya.” Setelah mengatakan itu Asih kembali ke ruang tengah sekaligus ruang tamu yang hanya tersedia tikar usang dan meja kecil di pojok ruangan.

Asih adalah janda dengan dua orang putri. Suaminya telah meninggal tiga tahun yang lalu karena sakit. Keadaan ekonomi yang tidak mendukung membuatnya tak bisa mengobati sakit yang sudah lama diderita.

Acapkali Asih mengingat suaminya, dia meneteskan bulir bening. Bukan penyesalan menikahi laki-laki miskin, dia sedih karena suaminya bergitu cepat meninggalkannya bersama anak-anak.

“Ibu kenapa?” tanya Nay yang sudah duduk di depan Asih.

Asih buru-buru menghapus air matanya dan tersenyum kepada Nay. Dia tidak ingin anaknya tahu perihal kesedihannya.

“Enggak papa, ibu cuma kelilipan.”

“Beneran, Bu? Ibu enggak nangis kan?” Mata anak berusia sembilan tahun itu menatap penuh selidik mata ibunya.

“Nay, enggak usah khawatir, ibu baik-baik aja.”

“Adek mana, Bu?” Nay pun mencari-cari keberadaan adiknya.

“Lagi mandi mungkin.” Asih senang karena Nah tidak bertanya lebih lanjut.

Tak lama kemudian Lala datang dengan rambutnya yang masih basah. Binar di matanya redup ketika melihat sarapan yang tersaji di depannya. Dia bosan dengan menu makan yang tiap hari hanya bubur ditambah kecap dan kerupuk. Lala ingin makan seperti teman-temannya.

Asih yang melihat Lala yang cemberut menatap bubur hidangannya merasakan sesak di dada. Dia merasa belum menjadi ibu yang baik karena belum bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Bukan tak ingin Asih memberikan makanan yang bergizi untuk anak-anak, tetapi apa daya penghasilannya sebagai buruh cuci harian tak mencukupi. Dia bekerja hanya jika ada tetangga yang membutuhkan jasa cuci baju atau setrika. Itu sebabnya Asih memilih membuat bubur setiap harinya agar bisa menekan pengeluaran untuk membeli beras.

Selain kebutuhan sehari-hari, Asih juga harus mencukupi kebutuhan sekolah kedua putrinya, sehingga dia harus benar-benar mengalokasikan penghasilannya yang tak seberapa itu dengan baik agar kedua putrinya tetap bisa mengenyam pendidikan, tidak seperti dirinya yang sekolah dasar saja tidak tamat.

“Lala enggak suka, ya dengan sarapannya?” tanya Asih dengan perasaan sedih.

“Bukan itu, Bu. Lala hanya bosan jika setiap hari makan bubur.”

“Doakan ibu, ya agar rezeki ibu mengalir deras agar kalian bisa makan enak.”

“Aamiin,” sahut keduanya kompak.

“Ibu, enggak usah khawatir. Nay suka kok dengan semua masakan Ibu.”

“Lala juga.”

Asih sangat bersyukur karena dikaruniai kedua putri yang sangat pengertian. Dia tak pernah lupa melangitkan doa-doa di sepertiga malam untuk kedua putrinya.

Meskipun hidupnya tak bergelimang harta, Asih tak pernah mengeluh dengan keadaan. Dia selalu berusaha mensyukuri segala nikmat. Wanita itu emang sungguh tangguh.

“Bu, nanti Nay ke rumah Sita lagi, ya? Mau mengerjakan tugas bareng.”

Semenjak sekolah tatap muka dialihkan menjadi daring, Nay selalu mengerjakan tugas sekolah bersama Sita–tetanga depan rumah karena Nay tak memiliki telepon pintar.

“Iya, Nak. Maaf kan ibu yang belum bisa membelikanmu ponsel.”

“Tidak apa, Bu. Orang tuanya Sita juga baik.”

“Kamu jangan merepotkan mereka ya, Nak. Ibu tidak enak.”

“Siap, Bu.”

“Bu, Lala juga seperti biasa.”

Beruntung tetangganya masih banyak yang peduli dengan keadaan mereka. Nay dan Lala pun tetap bisa mengerjakan tugas dengan bantuan teman-temannya. Asih sangat bersyukur karena masih ada orang-orang baik seperti teman anak-anaknya.

“Lala juga jika tugasnya sudah selesai langsung pulang, ya.”

“Siap, Bu!

Selepas anak-anaknya pergi ke rumah teman untuk mengerjakan tugas sekolah, Asih bersiap untuk mengantarkan pakaian yang sudah bersih dan wangi ke rumah tuannya.

Asih berharap hari ini banyak yang menggunakan jasanya agar dia bisa mewujudkan keinginan kedua anaknya yang sederhana, yaitu makan bubur lengkap dengan ayam suwir di atasnya. Selama ini mereka hanya makan bubur yang diberi kecap dan kerupuk.

“Assalamualaikum, Bu Nani,” panggil Asih sambil mengetuk pintu tetangganya.

“Waalaikumsalam, Bu.” Nani membuka pintu rumahnya.

“Ini pakaiannya, Bu.” Asih memberikan satu kantung pakaian bersih.

“Terima kasih, Bu Asih. Ini upahnya.”

“Sama-sama, Bu. Kalau bergitu saya pamit dulu.”

Asih pun berjalan untuk ke rumah tetangganya yang lain. Dia ingin menawarkan jasanya. Namun, sayang sudah beberapa rumah dia ketuk, tetapi mereka tak membutuhkan jasa Asih.

Matahari pun semakin semangat menampakan sinarnya. Asih mulai lelah berkeliling kampung. Dia pun memutuskan kembali ke rumah untuk istirahat sejenak.

Sesampainya di rumah Nay dan Lala sudah ada di rumah. Mereka sedang berbincang dengan asyik.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, Ibu,” jawab keduanya.

“Ibu haus? Nay ambilkan air, ya?”

“Terima kasih, Nay. Kamu emang anak baik. Ibu bangga punya kalian.”

Nay pun mengambilkan air. Kemudian, kembali duduk bersama ibu dan adiknya.

“Nay dan Lala sudah mengerjakan tugasnya?”

“Sudah, Bu.”

“Lala juga sudah.”

Asih mengusap kepala putrinya bergantian. Harapannya kembali sirna untuk memberikan bubur ayam spesial karena hari ini tak ada yang membutuhkan jasanya, sedangkan uang di tangan tersisa tiga puluh ribu.

Kebutuhan dapurnya juga banyak, beras yang tersisa satu gelas, minyak goreng pun habis. Dia memandang kedua putrinya dengan hati yang perih.

Kedua putrinya tak meminta banyak hal, hanya semangkuk bubur ayam spesial, tetapi hal sederhana itu tak mudah untuk dipenuhi. Asih menghela napas berat.

“Ibu kok sedih?” tanya Nay. Anak itu memang peka.

“Maafkan ibu, ya. Hari ini ibu belum bisa memenuhi keinginan kalian untuk makan bubur ayam.” Asih menahan bulir bening di pelupuk matanya.

Nay dan Lala saling tatap sambil tersenyum membuat Asih mengernyitkan keningnya karena reaksi dua anak itu di luar dugaan. Nay pun mengisyaratkan Lala untuk mengambil sesuatu.

Tak lama kemudian Lala datang dengan menenteng sesuatu di tangannya sambil tersenyum senang.

“Apa itu, La?” tanya Asih sambil mengernyitkan kening.

“Tara!” Lala membuka kantung plastik tersebut.

“Bubur?”

“Iya, Bu. Ibunya Sita yang memberikan,” jelas Nay dengan senang.

“Alhamdulillah, sampaikan terima kasih ibu, ya, Nay.”

“Iya, Bu. Buburnya ada tiga mangkuk.” Nay berucap dengan semangat.

“Alhamdulillah. Nay dan Lala harus selalu bersyukur, ya. Bubur ini akhirnya datang meskipun bukan ibu yang membelikan, tetapi pada dasarnya sama saja karena Allah yang memberikan rezeki lewat perantara orang tua Sita.”

“Iya, Bu. Nay senang, doa Nay dikabulkan. Benar kata Ibu Nay enggak boleh ngeluh dan harus selalu bersyukur apa pun keadaan kita.”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Permata_S

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap