Semua Dilimpahkan ke Dirimu

Semua Dilimpahkan ke Dirimu

Berbagai keluhan berbentuk diksi tajam yang selalu dikeluarkan dari lisan seorang insan dapat membuat sebuah kalbu yang berada di titik terdalam diri manusia menjadi terisak. Memang benar, kiranya bahwa lisan lebih tajam daripada pedang. Memang benar, kiranya bahwa manusia tidak dapat hidup seorang diri untuk bertahan di fana yang sebagian besar orang berargumen bahwa hidup itu kejam dan hanya mementingkan egonya.

Di dunia yang penuh dengan ketidak pastian ini, terkadang kamu memang butuh sendiri. Meskipun terdapat berbagai teori sosial yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat hidup , tetapi terkadang manusia pun butuh sesaat untuk bercengkrama dengan ia dan dirinya sendiri. Menampik berbagai spekulasi bahwa “kamu harus sepenuhnya hidup untuk orang lain” dan merubahnya menjadi “aku akan hidup untuk mencintai diriku sendiri dahulu, baru aku akan mencintai orang lain kemudian” adalah tidak apa – apa.

Mengapa?

Bagaimana bisa?

Memangnya seperti apa?

Semua itu tentu saja bisa. Mari kita kupas perlahan seperti kamu ketika mengupas sebuah apel. Tidak perlu terburu – buru membicarakan tentang ini seperti kamu dengan semangat membuka kado hadiah ulang tahun ataupun ketika kamu membuka paket dari belanja pada tanggal kembar.

Tidak kah kamu sadari bahwa menjadi utama mengapa kamu selalu diam? Kamu selalu memilih ‘diam’ banyak kata, , majas, dan berbagai umpatan untuk mengekspresikan bagaimana dan kecewanya kamu. “Yah, begitulah! Tidak ada kata – kata yang dapat mewakili bagaimana perasaanku sekarang!” ungkapmu demikian sembari tersenyum.

Diantara banyaknya kesempatan yang bisa menjadi momentum untuk mengungkapkan apa yang kamu rasakan, mengapa kamu selalu diam? Kamu selalu memilih ‘diam’ diantara banyaknya cara untuk mengunkapkan kekecewaan yang kamu pendam selama ini, begitupun ketika kamu tidak bertindak apa – apa ketika temanmu terlihat sehingga kamu bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya kamu rasakan tentang dia, kamu memilih diam dan patuh kepada atasan ketika terdapat waktu senggang ditengah agenda , kemu memilih diam dan hanya mengerjakan ketika anggota tim melimpahkan segala kepadamu, bahkan kamu memilih diam dan tersenyum ketika mereka mencaci maki kamu dan mengungkapkan kamu melakukan hal curang atas ‘hadiah’ yang terkadang kamu dapatkan atas segala jerih payah yang sudah kamu lakukan selama ini.

“Semua aja dilimpahin ke aku!” ungkapmu di sore hari ketika di .

Berbagai pekerjaan yang seharunya bukan bagianmu, dilimpahkan kepadamu. Kamupun hanya memilih untuk langsung mengerjakannya dibanding harus berargumen dengan para manusia tuli yang memang berniat tidak ingin mendengarkan. Berbagai serapahan ketika kamu dicap ketika kamu memang ingin mengerjakan sesuatu yang untuk dirimu sendiripun kamu dapatkan lagi. Dan begitulah kamu, yang memilih untuk diam dan seiring dengan waktu yang berjalan maka dirimu lah yang menjadi tuli akan penilaian yang orang lain katakana tentang dirimu.

Ketika tidak ada hal yang dapat menjawab berbagai pertanyaan tiada henti yang sering kali kamu ungkapkan disetiap detiknya, maka ketahuilah bahwa “Biarlah waktu yang menjawab!” menjadi sesuatu yang harus kamu percayai adanya. Karena dengan perlahan, hati akan menyesuaikan dengan logika yang sedang kamu miliki sekarang. Bukan berarti hatimu menjadi , bukan! Tetapi, ia akan menjadi lebih teguh, lebih bisa memaklumi, dan tentu saja lebih bisa menerima kondisimu yang sekarang.

Katakanlah jika kamu tidak pernah mendapatkan berbagai lontaran cacian itu, kamu tidak akan pernah tau siapa yang membencimu sehingga kamu perlu menghindari orang tersebut. Jika kamu tidak pernah dicaci oleh mereka, kamu tidak akan bisa menjadi sesosok insan yang kuat seperti hari ini. Jika kamu tidak pernah menemukan mereka ketika membicarakan kamu diam – diam di pantry atau di kantin, kamu tidak akan tau bagaimana sakitnya ketika orang – orang membicarakan dibelakang. Kamu tidak akan pernah punya pemikiran “Aku tidak akan pernah mau membicarakan orang dibelakang mereka, karena itu adalah hal yang rendah!” dan mungkin saja jika kamu tidak pernah menjadi ‘korban’ atas pembicaraan mereka, kamu sekarang sudah menjadi bagian dari si para penggosip.

Semua yang dilimpahkan pada dirimu menandakan bahwa kamu memang orang yang kuat. Kamu mampu untuk menjadi yang bersinar terang di seluruh jagad raya. Kamu bukanlah hanya seonggok cahaya senter yang hanya mampu menerangi satu ruangan. Terdengar konyol, memang. Tapi apa salahnya? Bahkan terkadang kamu dapat melakukan beberapa hal konyol selagi itu dapat membuat bahagia hati kecilmu. Kamu hebat dapat menjadi setangguh ini! Dan kamu perlu tau hal itu!

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Putri Ay