Seorang Kuli harian lepas menjadi jutawan

Seorang Kuli harian lepas menjadi jutawan 1

Cerita kehidupan memang tidak ada yang tau, kedepan kita akan menjadi apa?? banyak cerita dari nenek moyang pun selalu bercerita kepada anak dan cucu nya untuk mengingatkan kepada mereka, bahwa kehidupan itu ada namanya roda kehidupan. kadang kita di atas, dan kadang kita ada di bawah, jadi untuk yang kita  ada di posisi atas jangan pernah merasa puas dan jangan ada sifat SOMBONG. Jika kita berada di posisi terbawah sekalipun, jangan pernah putus semangat dan jangan pernah merasa tersisihkan, karena setiap manusia hidup sesungguhnya sudah ada takaran rezeki masing Рmasing dari pertama kali manusia itu di lahirkan. Tetapi hanya saja untuk di turunkan nya rezeki itu berbeda Рbeda bentuk dan waktunya. Jadi untuk kita sebagai manusia, harus yakin apa yang bahwa roda kehidupan itu akan selalu berputar.

Seperti yang sudah terjadi di warga cirebon yang satu ini, yang bernama nur jaman (nama samaran). Nur jaman anak terakhir dari 8 saudara, dia di lahirkan di keluarga yang kaya di kampungnya, karena orang tuanya salah satu pemilik tanah terbanyak di kampung, dan bukan hanya itu saja, orang tuanya juga bekerja menjadi salah satu pengabdi negara.

Kehidupan nur jaman mulai berubah semenjak dia baru berumur 5 tahun, berarti dia belum pernah merasakan kekayaan orang tuanya. kehidupan keluarganya mulai menurun setelah ayah nya menikah lagi sampai memiliki istri 3.

Setelah nur jaman berumur 7 tahun, dia mulai masuk sekolah dasar. Itupun tidak lama dia merasakan bangku sekolah, dia hanya sampai kelas 2 (umur 8 tahun) terus keluar dari bangku sekolah. Karena ayah nya sudah tidak bekerja lagi, ayah nya di PHK dari tempat kerjanya, jadi ayah nur jaman tidak bisa membiayai sekolahnya lagi. jangankan nur jaman, kaka nya juga tidak ada yang di lanjutkan sekolahnya. Hanya sampai kaka nur jaman yang ke 2 saja yang merasakan bangku sekolah dasar sampai selesai, sisanya putus sekolah.

Setelah di PHK, ayah nur jaman sekarang berkebun dan selalu ada di rumah, tidak lagi hidup bersama istri mudanya, karena istri mudanya meninggalkan ayah nya nur jaman.

Mulai saat itu nur jaman merasa bahagia, karena kedua orang tuanya selalu ada di dekatnya. Dia tidak peduli masalah bangku sekolah, dia hanya bahagia bisa membantu kedua orang tuanya di kebun.

Singkat waktu >>

Nur jaman sudah beranjak dewasa, dia selalu di buli sama teman – teman nya bahwa nur jaman anak dari orang miskin, apa lagi nur jaman juga tidak pernah dan mungkin lupa seperti apa bangku sekolah??

Hebat nya nur jaman,,,

Dia tidak pernah merasa sakit hati, dia anggap semua yang menertawakannya itu sebuah cambukan untuk nur jaman lebih semangat menjalankan hidupnya.

Pertama kali nur jaman belajar bekerja menjadi kuli bangunan. Dia ikut kuli bangunan semenjak berumur 18 tahun. Setelah sekian lama nur jaman bekerja menjadi kuli, dia mulai di percaya dengan pimpinannya untuk pegang proyek sendiri. Mulai dari situ Kehidupan nur jaman berubah membaik, nur jaman kini sudah bisa membelikan sesuatu kepada orang tua nya dan dia juga sudah mulai menabung untuk masa depan nya.

Singkat cerita >>> Nur jaman menikah dan di karuniai 2 anak laki – laki. Dengan posisi nur jaman menjadi pemborong proyek, kehidupan dia tidak lagi kekurangan dan bahagia dengan keluarga kecil nya. Nur jaman tidak lama merasakan itu semua, setelah bos nya meninggal nur jaman secara otomatis kehilangan pekerjaan nya. karena selama ini dia bekerja menjadi mandor di bawah naungan kontraktor, dan kontraktor yang tempat bekerja nur jaman sudah tutup, tidak beroperasi lagi.

Mungkin tidak mudah menjalani itu semua jika kita di posisi nur jaman, pastinya kita bingung harus kemana? apa lagi nur jaman hanya punya ke ahlian di profesi kuli bangunan.

Saat itu, nur jaman memakai uang sisa yang ada di rumah nya untuk mencoba wirausaha. Dengan pengetahuan yang sangat sedikit, dia mencoba usaha ikan lele. Nur jaman membangun empang dengan tenaga nya sendiri tanpa minta bantuan orang lain (tidak mempekerjakan orang lain), semata – mata untuk menghemat pengeluaran. nur jaman menggali empang untuk kolam iklan lele biasa nya mulai dari pagi hari sampai terbenam matahari, kegiatan itu dia lakukan setiap hari sampai kolam ikan itu selesai di buat nya.

Nur jaman berharap usaha ternak ikan lele nya itu berjalan mulus dan mendapatkan hasil yang memuaskan. karena pengetahuan nya sedikit, nur jaman bukan nya untung, yang ada rugi banyak. Nur jaman tidak tau bahwa bibit ikan yang masih kecil – kecil dia tebar di empang selalu di makan oleh burung.

Setelah tiba panen, hanya ada beberapa ikan saja ternyata yang bisa dia jual. yang seharus nya mendapat untuk, justru nur jaman mendapatkan rugi banyak.

Yang patut kita tiru >>

Nur jaman tidak patah semangat, dia selalu berfikir positif. Dia tidak menyalahkan burung yang mencuri ikan ternaknya, dia bahkan berucap seperti ini, “mungkin memang keteledoran saya juga, karena tidak pasang jaring buat menutupi empang, sehingga burung itu dengan mudah makan bibit ikan”.

Dari kejadian itu, nur jaman akhirnya berhenti untuk melanjutkan usaha ternak ikan nya, karena uang yang dia miliki sudah menipis.

Dengan uang yang pas – pasan dia mencoba usaha jualan kueh. dia beli di pasar tradisional khusus makanan seperti kueh dan roti. dia membeli dan dijual kembali kepada warung kecil di sekitar desa nya.

Awalnya dia hanya mendapatkan cacian sama teman – teman nya. karena uang yang pas – pasan dan hanya itu yang bisa dia kerjakan saat ini, nur jaman tidak menanggapinya, dia terus berjualan kueh. lambat laun, waktu terus berjalan usaha nur jaman semakin maju. dari yang tadinya hanya berjualan kueh, karena ada request pelanggan nya mengenai barang yang lain, kini nur jaman jualan sembako juga. tambah hari tambah maju, dia terus menambahkan belanjaan nya sampai akhirnya semua barang sembako dia jual.

Singkat waktu >>> 

Tambah hari tambah banyak pelanggan dan tambah hari juga barang yang dia jual tambah Kumplit. karena banyak pelanggan juga, nur jaman akhirnya membuka toko grosir sembako sendiri di rumah. setelah itu hidup nur jaman pun kian berubah.

Dengan hasil dari usahanya selama 1 tahun itu, nur jaman sudah bisa membeli kendaraan roda empat sendiri, dengan tujuan supaya setiap belanja sembako bisa membawa lebih banyak dan tidak dua kali kerja membeli barang.

Akhirnya nur jaman kembali mendapatkan sebuah kebahagiaan kembali, dia mendapatkan jalan yang terbaik untuk kehidupan nya, hingga saat ini.

Kisah ini saya angkat dari kisah nyata, sebuah perjalanan kehidupan seseorang yang beralamat di desa banjarwangunan, kecamatan mundu, kabupaten cirebon, jawa barat.

Sekian motivasi kehidupan dari saya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Mudin