Serigala Yellowstone dan Konservasi Spesies Kunci


Serigala Yellowstone dan Konservasi Spesies Kunci 1

Senyap dalam berburu, lihai dalam bersembunyi, efektif dalam membunuh begitulah legenda yang melekat pada kelompok serigala abu-abu. Mendiami daerah hutan-hutan di belahan utara bumi, menjadikan serigala abu-abu sebagai salah satu spesies mamalia dengan persebaran alami yang sangat luas. Serigala abu-abu merupakan salah satu spesies dengan kemampuan beradaptasi yang cukup baik. Semenjak kala waktu pleistosen berakhir, hampir semua mamalia raksasa di benua Amerika mengalami kepunahan. Namun tidak begitu dengan serigala abu-abu yang dapat berhasil selamat dari kepunahan tersebut. Pada rentan waktu modern, eksistensi serigala abu-abu mulai tidak terlihat. Masalah utama datang dari manusia yang melakukan perburuan dan melebarkan lahan secara ekspansif. Hal ini sering menjadi sebuah kekhawatiran, dimana hilangnya spesies ini dapat mengganggu ekosistem hutan boreal. Mengambil studi kasus hilangnya serigala abu-abu di taman nasional yellowstone pada rentan waktu 1930-an sampai reintroduksinya kembali pada tahun 1995 , mari kita telaah bagaimana pentingnya spesies serigala abu-abu bagi ekosistem hutan boreal. Apakah sang pemburu yang kini diburu, akan bisa selamat dan bertahan hingga anak cucu kita nanti? 

Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone

Pada tahun 1871, pemerintahan Amerika Serikat mendanai ekspedisi geologis yang dipimpin oleh Ferdinand V. Hayden untuk melakukan pemetaan dan penelitian daerah Yellowstone. Pada akhir ekspedisi ini Hayden membuat laporan yang sangat krusial, dengan menekankan bahwa daerah Yellowstone akan jauh lebih baik untuk dijadikan sebagai taman nasional. Kendati demikian tujuan utama Hayden adalah untuk menjaga keindahan daerah ini dari tangan-tangan kepentingan yang dapat merusaknya, namun pada saat itu belum ada pemikiran konservasi alam melalui perlindungan spesies di taman nasional ini. Ketidak adaan perlindungan spesies mengakibatkan masyarakat dan turis dapat melakukan perburuan secara bebas dan tanpa batas.

Tanpa adanya aturan, serigala abu-abu terancam punah di alam, dalam kurun tahun 1900-an akibat perburuan besar-besaran yang terjadi. Hal ini dikarenakan serigala abu-abu pada saat itu masih dianggap sebagai hama pengganggu oleh industri peternakan yang sedang tumbuh di daerah sekitar Yellowstone. Celakanya pada tahun 1907 dengan desakan industri peternakan, U.S. Fish and Wildlife Service mengeluarkan program Animal Damage Control yang akhirnya melegalkan perburuan serigala dalam undang-undang. Pada tahun 1926, kelompok serigala abu-abu telah dinyatakan lenyap dari Yellowstone.

Setelah serigala abu-abu hilang, populasi elk naik sangat drastis dan memunculkan masalah overgrazing di daerah bantaran sungai. Elk yang tidak memiliki pemangsa dominan merambah dedalu, semak, dan poplar. Tanaman-tanaman yang berfungsi mencegah erosi ini berkurang drastis, sehingga air sungai menjadi lebar, dangkal, dan hangat. Kondisi sungai yang berubah menyebabkan koloni berang-berang menghilang secara perlahan, bebek dan angsa liar bermigrasi ke tempat lain, dan keanekaragaman serangga dan amfibi berkurang drastis. Coyote yang tidak memiliki pesaing dalam berburu, berlipat ganda secara signifikan menyebabkan populasi antelop menurun drastis. 

Kampanye pengembalian serigala abu-abu ke Yellowstone mempunyai akar dari sejumlah seminal studies yang berhubungan dengan ekologi hubungan pemangsa dan mangsa. Dimulai dari paper berjudul “Ecology of the Coyote in the Yellowstone National Park” yang diterbitkan oleh Adolph Murie pada tahun 1940, yang menyebabkan cultural shifting diantara masyrakat mulai menganggap pentingnya spesies pemangsa. Hal ini diperkuat kembali pada tahun 1960-an dengan beberapa peneliti ekologi yang mengemukakan konsep spesies kunci (keystone species). Pembicaraan mengenai pentingnya serigala dan beberapa mamalia pemangsa lainnya terus meruncing, hingga pada tahun 1991 Kongres Amerika Serikat memberikan arahan kepada U.S. Fish and Wildlife Service untuk mengembangkan sebuah program bernama Environmental Impact Statement. Tujuan utama dari program ini adalah untuk mengembalikan serigala ke taman nasional Yellowstone.

pasangan serigala abu-abu dan keturunannya
pasangan serigala abu-abu dan keturunannya

Menurut beberapa ilmuwan ahli ekologi, kehadiran dari serigala abu-abu membuat populasi elk turun hingga setengahnya. Elk menjadi lebih waspada di daerah bantaran sungai, sehingga peramban daerah sungai tumbuh lebih tinggi dan lebih baik daripada biasanya. Kondisi sungai menjadi lebih baik, dengan semakin dalamnya sungai menyebabkan ikan air tawar kembali dan menyebabkan beruang memiliki varian mangsa yang lain selain hewan pengerat kecil dan buah-buahan di utara taman. Berang-berang bersarang kembali menyebabkan sungai memiliki banyak bagian terbendung seperti kolam, tempat singgah bagi angsa dan bebek yang bermigrasi. Coyote yang kembali predator pesaingnya kembali bermigrasi ke utara menuju Kanada dan menyebabkan populasi antelop meroket. 

Dalam jangka waktu dua dasawarsa serigala abu-abu yang masuk dalam list endangered species berhasil keluar dari zona terancam punah. Populasinya yang sudah bisa menjaga kestabilan ekologi di Yellowstone membuat U.S. Fish and Wildlife Service mengeluarkan hewan ini dari daftar. Pemerintahan negara bagian pun memperbolehkan perburuan serigala abu-abu dengan kuota, Namun tetap melarang pemburuan serigala abu-abu yang berada di Yellowstone. Kisah ini dapat menjadi bukti konservasi alam dan in-situ jauh lebih baik dalam memperbaiki ekologi habitat. Semoga kisah ini dapat menyadarkan kita betapa pentingnya menjaga kestabilan ekologi dimanapun dan kapanpun.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Piko Prasetyo

   

Saya seorang pelajar/mahasiswa yang menyukai pengembangan IPTEK dan pembelajaran STEM. Selain hal tersebut saya tertarik pada musik klasik dan juga pablo picasso semenjak SMP, Sejarah semenjak saya SD dan akhir-akhir ini saya mengikuti anime dan dunia otaku. Ya memang antara semuanya tidak nyambung dan saling tidak mendukung tetapi seperti kata pepatah internet meme "why not both?", saya lebih senang "why not everything?".

Copy link
Powered by Social Snap