Sering Dianggap Pengganggu, Ternyata Kehidupan Laron Sangat Menyedihkan!


Sering Dianggap Pengganggu, Ternyata Kehidupan Laron Sangat Menyedihkan! 1
Laron, dan kehidupannya yang menyedihan.
Laron, dan kehidupannya yang menyedihan.

Di awal tahun 2021 ini, cuaca sedang tidak menentu. Hujan, panas, atau bahkan terkadang langit hanya menunjukkan langit berawan, tidak bisa ditebak apakah langit akan turun hujan, atau awan akan hilang dan berganti terik matahari. Bahkan, terkadang saat siang hari terik pun bisa saja terjadi hujan.  Saat musim hujan, senada dengan suasana yang dingin, banyak hewan-hewan yang berkembang biak, contohnya Laron.

Laron adalah hewan yang termasuk dalam koloni rayap. Jadi bisa dibilang, Laron ini adalah Rayap yang bersayap. Dalam satu koloni saja, terdapat ribuan ekor Rayap yang mendiami tanah atau batang-batang kayu yang sudah lapuk. Jadi, dalam satu koloni rayap, terdapat 3 golongan, yaitu Ratu Rayap, Rayap Pekerja, dan Laron, yang merupakan calon Ratu dan Raja Laron yang kelak akan membangun satu koloni baru. Pada saat musim hujan, Ratu Rayap akan bertelur dan menghasilkan Rayap bersayap, atau biasa kita sebut dengan Laron.

Biasanya, Laron muncul saat malam hari setelah hujan deras. Mereka akan berkumpul di sumber cahaya, seperti lampu jalan. Seringkali, Laron juga masuk ke dalam rumah-rumah warga, dan kehadirannya sangat menganggu sekali. Untuk itu, biasanya dengan mematikan lampu dan menaruh ember/baskom berisi air, itu akan mencegah laron masuk. Dan ember/baskom yang berisi air tadi, akan menjebak Laron. Sehingga mereka akan mati tenggelam karena hinggap di ember/baskom yang berisi air tersebut.

Pernahkah terpikir oleh kalian, mengapa Laron sangat menyukai cahaya?

Karena Laron butuh cahaya untuk menghangatkan tubuhnya, yang dingin karena terkena hujan. Oleh karena itu, Laron seringkali muncul saat setelah hujan deras.

“Kok kehidupan laron tuh menyedihkan? Emangnya dia kenapa?”

Mungkin, jika dibandingkan dengan sadboi/sadgirl yang banyak bertebaran di media sosial, itu tidak ada apa-apanya, dibandingkan laron. Mengapa kehidupan laron menyedihkan? Karena mereka keluar dari dalam tanah/batang kayu, hanya untuk mencari pasangan. Seringkali kita melihat laron datang dengan bergerombol dan mengerubungi lampu jalan/lampu rumah. Nah, tanpa kita ketahui, saat itu laron tengah berusaha mencari pasangan. Bukan hanya sekadar berkumpul tidak jelas.

Bagi laron yang menemukan pasangannya, mereka akan kawin dan membuat koloni baru. Jika tidak? Ini bagian yang menyedihkannya. Jika laron tidak menemukan pasangannya, maka laron akan mati dan jadi santapan sedap predator seperti cicak, maupun tokek. Jadi hidup laron hanya mempunyai 2 pilihan, mencari pasangan dan menciptakan koloni baru, atau mati dalam keadaan jomblo. Sungguh mengenaskan, mati dalam keadaan jomblo. Mencari pasangan bagi laron pun bukan hal yang mudah. Hanya sekitar 10% dari kumpulan laron yang berkerumun itu mendapatkan pasangan. Sisanya mati dan hidupnya berakhir sia-sia.

“Kalo emang gak dapet pasangan, kan bisa balik lagi ke sarangnya?”

Sayangnya, laron tidak bisa pulang kembali ke sarangnya. Jika pulang, laron akan dibunuh oleh rayap pekerja. Karena memang laron ini dirawat dan dibesarkan oleh rawat pekerja, untuk memulai hidup baru bersama koloni yang baru. Jika rayap pekerja bisa berbicara, ia akan mengatakan : “Tiada maaf bagimu, laron. Maaf, aku akan membunuhmu.” ucap rayap pekerja.

Sungguh menyedihkan kehidupan laron. Saya pun tak sanggup membayangkan jika menjadi laron. Hanya diberi waktu semalam, untuk mencari pasangan. Untungnya, laron ini bukan manusia, yang harus berkenalan, PDKT, lalu jadian untuk berlanjut ke tahap selanjutnya yang lebih serius. Sebenarnya, jika laron sedang bertamu ke rumah, saya pun merasa iba karena mendengar kisah yang menyedihkan ini. Namun, jujur terkadang kehadiran laron ini memang menjengkelkan.

Pesan yang bisa diambil dari kisah hidup laron yang menyedihkan ini adalah :

“Untuk mengejar apa yang kita mau, usaha itu perlu. Namun, mundur bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah.”

Sekian.


Muhammad Zaki

   

Penulis amatir.

Berusaha untuk tidak jadi bokap-bokap biasa.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap